Teknik Budidaya Jamur Kancing Cepat Panen

Posted on

teknik budidaya jamur kancing

Berikut ini ada beberapa tahapan untuk melakukan budidaya jamur kancing dan juga Teknik Budidaya Jamur Kancing Cepat Panen secara mudah

Penaburan Bibit (Spawning)

Penaburan bibit jamur kancing dilakukan saat suhu kompos sekitar 25—28° C. Penaburan bibit jamur dilakukan secara manual atau menggunakan mesin penabur bibit. Biasanya penaburan bibit jamur secara manual dilakukan di dalam tunnel. Saat proses penaburan bibit jamur, perlu diperhatikan higienitasnya. Tujuannya agar tidak terjadi kontaminasi yang akan merugikan dalam budi daya jamur kancing. Desinfektan yang digunakan dalam penaburan bibit jamur di antaranya alkohol 70%, lisol, dan fungisida.

Jumlah bibit yang diperlukan untuk budi daya jamur kancing dinyatakan dalam I per ton kompos. Hubungan antara jumlah bibit jamur kancing yang digunakan dengan panen jamurnya dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Jumlah bibit jamur (1/ ton
kompos)

 

23

“5”

7,5

10

Panen (kg/ton kompos)

 

163

 

179

 

180

179

Berdasarkan tabel, jumlah bibit jamur yang optimal produktivitas panennya adalah 7,51 per ton kompos.

Inkubasi

Setelah proses penaburan bibit jamur, kompos diinkubasi di dalam kumbung jamur {shed). Tujuan inkubasi adalah membantu menumbuhkan miselium jamur pada seluruh media kompos dalam kondisi yang terkontrol. Hal yang perlu diperhatikan pada stadia ini, yaitu suhu kompos, suhu ruangan, kelembapan relatif, dan konsentrasi C02.

Suhu kompos yang perlu dijaga pada stadia ini berkisar 26—28° C, sedangkan suhu ruangan biasanya selisih 2° C di bawah suhu kompos. Kelembapan relatif ruangan untuk stadia ini berkisar 90—95%. Seiama inkubasi konsentrasi C02 akan meningkat seiring dengan suhu kompos. Konsentrasi C02 yang diperlukan pada stadia ini lebih dari 3.000 ppm. Stadia ini diusahakan tidak membuka ventilasi atau memasukkan udara dari luar.Tujuannya agar konsentrasi C02 di dalam ruangan tidak mengalami penurunan. Lama waktu inkubasi sampai miselium jamur kancing menyelimuti media kompos (full grown) sekitar 14 hari setelah penaburan bibit jamur.

Pemasangan Tanah (Casing)

Casing adalah saiah satu tindakan dalam budi daya jamur kancing berupa pelapisan’tanah’terhadap kompos yang telah ditumbuhi miselia jamur.

Proses tersebut dilakukan setelah inkubasi, sekitar dua minggu setelah penanaman bibit jamur. Tujuan casing antara lain merangsang pembentukan tubuh buah jamur dan membantu dalam penyimpanan air sehingga dapat mencegah kompos menjadi kering. Ketebalan pemasangan tanah casing di atas kompos sekitar 4—5 cm.

a. Fungsi tanah casing Peletakan lapisan tanah casing di atas kompos yang telah penuh ditumbuhi miselia menjadi keharusan pada budi daya jamur Agaricus bisporus agar diperoleh hasil yang baik. Beberapa fungsi lapisan casing sebagai berikut. Menyuplai air bagi pertumbuhan serta perkembangan miselia dan tubuh buah.

Menciptakan kondisi penguapan air sedemikian rupa sehingga iklim mikro di dalam ruang penanaman dipertahankan dalam kondisi udara yang lembap minimum.

Melindungi kompos dari kekeringan dan kehilangan produk metabolit yang bermanfaat pada stadia lanjut penanaman jamur.

Membentuk lingkungan yang diperlukan bagi perkembangan miselia jamur dan bakteri untuk pembentukan tubuh buah. Lapisan casing yang baik bagi perkembangan miselia juga mendukung pertumbuhan bakteri tersebut.

Menyediakan suatu lingkungan dengan nilai osmotik rendah. Kompos memiliki nilai osmotik yang terlalu tinggi dapat menghasilkan jamur meskipun udara sudah dialirkan (ventilasi dibuka).

Dengan demikian, casing merupakan lapisan pelindung dan penutup yang berbeda dari kompos serta sebagai spons (bahan berongga-rongga) yang dapat menahan sejumlah besar air dan melepaskannya sesuai kebutuhan.

b. Bahan lapisan casing Ada beberapa jenis casing yang dapat digunakan dalam budi daya jamur kancing, yaitu gambut, tanah liat, dan sabut kelapa. Gambut adalah bahan yang paling awal digunakan sebagai lapisan casing. Kelebihannya adalah kadar WHC yang tinggi dan dapat mencapai 80%. Bahannya pun ringan serta bersifat porous sehingga pertukaran udara dalam struktur gambut dapat berjalan dengan baik. Selain itu, gambut sangat berlimpah jumlahnya dan mudah didapat. Gambut memiliki pH rendah, sekitar 3,5—4,5. Kondisi ini mencegah terbawanya patogen jamur. Untuk menaikkan pH gambut menjadi sedikit lebih tinggi dari 7, dapat menambahkan kalsium karbonat (CaC03) pada tanah casing. Kondisi ini penting agar pertumbuhan dan perkembangan jamur maksimal.

Tanah liat juga dapat digunakan sebagai bahan casing. Kandungan WHC tanah liat juga cukup tinggi, meskipun di bawah gambut Kelemahannya adalah tekstumya mudah memadat jika disiram air.

Sabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan casing. Namun, karakteristik fisik dan kimia sabut kelapa belum banyakdipelajari.

Karakteristik tanah casing

Tanah casing yang baik dalam budi daya jamur harus memenuhi kriteria tertentu. Kriterianya antara lain memiliki daya memegang air, pH, tekstur, dan optimalisasi penggunaannya. Kandungan nutrisi tanah casing hendaknya minimal. Oleh karena itu, konsentrasi garam anorganik terlarut yang tinggi tidak dikehendaki. Tanah casing hendaknya juga bebas dari jasad renik berbahaya. Tanah casing akan digunakan secara optimal jika mudah diperoleh, tersedia dalam jumlah yang cukup setiap saat dibutuhkan, dan harganya terjangkau. Karakteristik lain dari tanah casing terkait dengan bakteri yang dibutuhkan untuk pembentukan tubuh buah yang baik, yaitu Pseudomonasputida.

1. Daya Memegang Air (Water Holding Capacity = WHC)

Tanah casing yang dikehendaki adalah yang memiliki WHC yang tinggi. Gambut (peat) memiliki WHC tertinggi, yaitu mencapai 80% bobot basah. Artinya, tiap 20 g bobot kering gambut dapat menahan 80 g air. Jika dicampur bahan lain untuk casing, WHC-nya akan turun. Kadar air yang biasa terdapat pada bahan casing yang digunakan dalam skala komersial berkisar 60—65%. Saat adul, kadar air tanah casing bervariasi tergantung penanam jamur dan cara tanamnya dalam kisaran 68—76%.

Ketersediaan air yang cukup pada lapisan casing dan pemeliharaannya melalui penyiraman merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembentukan pinhead dan perkembangannya menjadi tubuh buah. Hal tersebut karena air merupakan komponen utama penyusun jamur dan pelarut senyawa-senyawa yang diperlukan dalam aktivitas seluler.

Kemampuan bahan casing memegang air ditentukan oleh kapilaritasnya, yaitu adanya pori makro dan pori mikro. Dalam kondisi jenuh air, baik pori makro maupun pori mikro akan terisi air. Air yang mengisi pori makro mudah dilepas, sedangkan air yang mengisi pori mikro tidak mudah dilepas. Miselia jamur harus memiiiki daya hisap untuk dapat memanfaatkan air yang berada pada pori mikro.

2.Derajat kemasaman

Kisaran pH yang lazim 6,8—7,5. Kisaran pH tersebut merupakan kisaran netral yang mendukung bagi berlangsungnya aktivitas seluler jamur. Derajat kemasaman di atas atau di bawah kisaran tersebut dapat mengakibatkan stagnasi pertumbuhan miselia jamur. Di samping itu, lapisan casing dengan pH kurang dari 7 berisiko mengundang serangan Trichoderma sp.

Penentuan pH lapisan casing dilakukan dengan mencampur air destilata dengan tanah casing dengan perbandingan yang sama. Pengukuran dilakukan sekitar 15 menit kemudian. Setelah dilakukan penyiraman, pH lapisan casing biasanya meningkat akibat penguraian kalsium karbonat. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut.

Ca,” CO, – + H,0 -» HCO+ OH-, HCO -+ H,0 H,CO, + OH-

lon OH- tersebut yang mengakibakan meningkatnya kadar pH. Selama diinkubasi pada tanah casing, miselia fungi membentuk asam oksalat (H2C204). Asam ini dinetralkan oleh ion-ion OH-sehingga pH casing relatif tetap, yaitu sekitar 7.

3.Kondisi Nutrisi Tanah Casing

Proses pengomposan menjadikan kompos selektif bagi pertumbuhan jamur. Jika lapisan casing mengandung bahan organikyang mudah didekomposisi dalam jumlah yang tinggi, dapat menurunkan selektivitas substrat.

Kondisi tingginya kandungan nutrisi juga berisiko serangan jasad renik yang tidak dikehendaki. Oleh karena itu, kandungan nutrisi bahan dasar tanah casing harus seminimal mungkin.

Jumlah minimal kandungan nutrisi lapisan casing memberi efek stres bagi miselia jamur, kemudian merangsangnya untuk masuk ke dalam fase generatif, yaitu pembentukan tubuh buah untuk menghasilkan spora. Spora tersebut berfungsi sebagai bentuk pertahanan diri dalam kondisi nutrisi minimal karena metabolisme seluler spora terjadi pada level sangat rendah, sekaligus sebagai sarana untuk melestarikan generasi.

Fenomena yang sama juga ditemui pada beberapa jenis fungi. Sebagai contoh, fungi kelas Deuteromycetes, seperti Fusarium sp. dan Trichoderma sp., lebih cepat membentuk konidia (spora aseksual) jika dibiakkan pada media agar air yang miskin nutrisi dibandingkan dengan media kaya nutrisi seperti PDA.

4. Tekstur Tanah Casing

Tanah casing harus ringan dan porous. Tujuannya untuk mencegah kelebihan konsentrasi C02 selama pembentukan tubuh buah dan pemanenan. Konsentrasi C02 yang tinggi dapat menurunkan jumlah bakal tubuh buah (pinhead) sehingga hasil jamur juga sangat berkurang. Kadar C02 yang tinggi selama periode vegetatif menstimulasi pertumbuhan miselium. Spawn yang pertumbuhannya sedang biasanya menjadi jauh lebih baik pada beberapa hari sesudah casing. Tanah casing yang berat berisiko berubah kondisi menjadi anaerobik, yaitu oksigen tidak tersedia sehingga miselium jamur tidak mungkin tumbuh.Tekstur lapisan casing mempengaruhi hasil jamur sebagaimana ditunjukkan oleh data tabel berikut.

No

 

Tekstur Lapisan Casing

 

Bobot jamur (kg/m2) j

 

Jumlah Jamur

 

Sesudah

Felapisan

Sebelum

Ventilasi

1

Longgar

 

Longgar

 

22,3

1.810

  2

Longgar

 

Padat

 

22,0

 

1.827

3

Padat

 

Longgar

 

23,7

 

2.191

 

4

Padat

 

Padat

 

19,6

 

1.144

 

 

Berdasarkan tabel, hasil tertinggi dicapai jika tekstur lapisan casing awalnya padat, lalu dilonggarkan. Pelonggaran lapisan casing dalam praktik dilakukan melalui tindakan adul. Tindakan adul dipadu dengan ventilasi ruang penanaman menjadikan konsentrasi C02 dalam lingkungan mikro lapisan casing dan dalam ruang penanaman turun dan digantikan oleh 02. Ketersediaan oksigen mutlak diperlukan agar pembentukan pinhead maksimal. Pembentukan pinhead dan perkembangannya menjadi tubuh buah berarti pembentukan sel-sel baru dalam jumlah yang luar biasa banyak. Kondisi tersebut menjadikan respirasi seluler berlangsung sangat intensif untuk menyediakan dan mengolah metabolit ‘baru’, menyediakan energi bagi aktivitas enzimatikyang secara keseluruhan akan meningkat, dan menyediakan energi bagi pembentukan materi genetik untuk mengisi inti sel-sel baru.

Di samping meningkatkan hasil jamur, adul menjadikan jamur yang terbentuk lebih seragam ukurannya. Hal tersebut diduga karena distribusi oksigen yang lebih merata pada seluruh bagian lapisan casing setelah adul dilakukan.

5. Adul (Ruffling) pada Lapisan Casing

Penyiraman yang dilakukan pada media dapat mengakibatkan lapisan casing memadat. Pemadatan media tersebut tidak menjadi masalah untuk stadia vegetatif karena konsentrasi C02 yang meningkat akibat memadatnya media mendukung pertumbuhan miselia. Namun, tindakan untuk melonggarkan media tetap dilakukan agar pertumbuhan dan perkembangan jamur terjaga. Tindakan tersebut berupa adul (ruffling).

Adul adalah tindakan pada budi daya jamur kancing dengan melonggarkan lapisan casing saat lapisan tersebut telah ditumbuhi miselia jamur. Caranya dengan memasukan jari tangan ke dalam lapisan tanah casing sampai batas permukaan kompos, kemudian diputar 180° ke arah kanan dan diuraikan. Setelah itu, tanah casing diratakan kembali.

Adul dapat dangkal atau dalam, tergantung kondisi miselia yang telah berkembang pada lapisan cos/ng. Tujuan adul adalah mencampur miselium secara merata pada lapisan casing dan menjaga keseragaman perkembangan jamur di seluruh bagian lapisan casing. Oleh karena itu, manfaat adul adalah menyeragamkan panen pertama, merangsang miselium ke pemulihan vegetatif, menghilangkan lapisan obstruktif antara lapisan casing dengan kompos, dan memelihara pertukaran antara kompos/lapisan casing dengan iklim ruangan. Lapisan obstruktif adalah lapisan teratas kompos yang telah membusuk atau lapisan terbawah casing yang telah mengering. Lapisan tersebut dapat menghambat aliran air dan nutrisi dari kompos ke lapisan casing.

Setelah adul, tanah casing menjadi longgar dan strukturnya terbuka. Kondisi demikian menjadikan pertukaran C02 berlangsung lebih baik. Kondisi ini sangat baik bagi perkembangan fase generatif atau pembentukan tubuh buah jamur. Kegiatan adul ditentukan oleh banyaknya miselium pada tanah casing dan jadwal budi daya. Adul dapat meningkatkan banyaknya miselium pada lapisan casing. Perlakuan tersebut sebaiknya dilakukan 8—9 hari setelah aplikasi casing pada beberapa jamur kancing varietas komersial.

6. Pemulihan (Recovery) Pasca-adul

Selama adul, benang-benang miselium akan patah. Saat pemulihan, individu miselium membentuk cabang-cabang dan fragmen-fragmen miselium yang mengalami penggabungan kembali hingga seluruh bagian kompos terinkubasi oleh miselium. Akhimya, seluruh lapisan casing hingga permukaannya tertutup oleh jalinan benang-benang miselium. Dalam kondisi demikian, harus ada kontak yang cukup antara miselium tua pada kompos dengan miselium muda pada casing. Kondisi ini menjamin terjadinya proses kesinambungan dari penyerapan dan transpor air dan nutrisi dari kompos ke permukaan lapisan casing.

Selama pemulihan, faktor-faktor iklim yang perlu diperhatikan untuk menjamin berlangsungnya pertumbuhan vegetatif, di antaranya suhu, C02, dan tingkat kelembapan relatif (RH). Pemulihan miselium merupakan tahap yang penting, terutama budi daya jamur pada bedengan. Suhu ruangan 25° C ideal bagi pertumbuhan miselium yang baik. Jika suhu kompos naik hingga lebih dari 27° C, disarankan untuk mengatur suhu ruangan >21° C.

Miselium akan tetap berada pada fase vegetatif jika kandungan C02 dalam udara di atas 0,4% (4000 ppm). Kandungan C02 kompos dapat meningkat hingga 6—7%. Kandungan C02 yang tinggi tersebut menstimulasi pertumbuhan miselium. Jika kandungan C02 di atas 7%, efek stimulasi tersebut akan berkurang, bahkan dapat berefek negatif. Adapun kisaran RH 9—100% merupakan kondisi ideal untuk pertumbuhan vegetatif selama proses pemulihan.

Demikian Teknik Budidaya Jamur Kancing Cepat Panen dengan benar.semoga bermanfaat