Tips Panen Dalam Budi Daya Jamur Yang Benar

Posted on

kegiatan panen dan pascapanen merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam budi daya jamur. Hal ini dikarenakan karena jamur merupakan tumbuhan yang bersifat klimaterik (terus melakukan proses metabolisme waiaupun sudah dipanen), mudah sekali rusak jika tidak ditangani dengan hati-hati. Ada 2 (dua) hal yang perlu diperhatikan dalam panen budi daya jamur, yaitu kuantitas dan kualitas jamur yang dipanen. Kuantitas artinya panen jamur harus sebanyak mungkin, sedangkan kualitas berkaitan dengan mutu jamur yang dipanen. Untuk mencapai kualitas jamur yang baiksaat panen, perlu memperhatikan beberapa hal, seperti waktu panen, cara panen, dan siklus panen. Jamur dapat dipasarkan dalam bentuk segar atau diawetkan dengan pengalengan, pengeringan, pembekuan, penggaraman, pengawetan dalam minyak, dan pengasaman.

PANEN

Panen adalah saatyang ditunggu petani. Waktu panen merupakan waktu menuai ’ hasil, waktu meraup keuntungan, atau; menanggung kerugian. Panen dilakukan saat stadia tubuh buah jamur optimal dan ukurannya disesuaikan dengan permintaan pasar. Jamur yang dipanen pada kondisi pertumbuhan optimal akan menambah berat panen sehingga akan menambah keuntungan bagi petani. Agar ukuran sesuai dengan yang dikehendaki konsumen, biasanya jamur dipisahkan menjadi ukuran kecil [small), sedang (medium), dan besar (large).

1. Kriteria Panen

Agar dapat menentukan waktu yang tepat untuk memanen jamur, Bnemerlukan informasi grafik pertumbuhan berupa kurva S. Aktivitas ini memakan biaya dan tenaga, tetapi lebih menjamin diperolehnya produksi dan performa jamur yang lebih baik. Grafik tersebutmerupakan hubungan antara bobot dengan umur.

Bobot jamur meningkat bersamaan dengan pembesaran ukuran sel. Kurva pertumbuhan melandai dari saat tudung membuka. Saat spora dihasilkan, dalam kondisi normal, bobot jamur tidak akan bertambah lagi.

a.Jamur kancing

Jamur kancing biasanya dapat dipanen setelah tubuh buahnya berada pada stadia kancing, yaitu belum membuka tudungnya. Panen untuk jamur kancing dibedakan atas fancy (tudung masih tertutup), nonfancy (tudung terbuka sedikit, cincin jamur terlihat), dan mekar (tudung membuka). Umumnya jamur kancing dapat dipanen hari ke-5—hari ke-7 setelah terlihat pembentukan tubuh buah jamur kancing (primordia).

Ada beberapa standar pemanenan Jamur kancing, yaitu standar untuk jamur kancing segar dan standar untuk jamur kancing kaleng. Adapun standar jamur > dikalengkan terbagi atas standar jamur kancing kualitas I dan kualitas II.

1. Standart jamur kancing segar

Standar jamur kancing segar adalah jamur kancing yang dipanen untuk dijual dalam bentuk segar atau tidak ada pengolahan pascapanen. Ciri-ciri jamur.kancing yang dipanen yang memenuhi standar adalah sebagai berikut.

  • Diameter tudungnya minimal 3,5 cm.
  • Warna putih dan bersih.
  • Tidak ada penyakit brownspot (bercak cokelat pada tudung).
  • Bentuknya bulat.
  • Panjang batang maksimal 3/4 dari diameter tudung.
  • Tudung tidak rusak ataupun pecah.

2. Standar jamur kancing kualitas I

Standar jamur kancing kualitas I adalah jamur kancing yang dipanen untuk diolah dalam bentuk’awetan jamur kancing dengan proses pengalengan. Biasanya, jamur kancing kualitas I dipakai untuk produk jamur kancing utuh (whole button) dan untuk produk jamur kancing iris (slice button). Harga jamur kancing kualitas i biasanya lebih mahal.

Ciri standar jamur kancing kualitas I saat dipanen adalah sebagai berikut.

  • Diameter tudung antara 2,5—4,5 cm.
  • Warna jamur kancing putih dan bersih.
  • Tidak ada penyakit brownspot (bercak cokelat pada tudung).
  • Bentuknya bulat/tidak salah bentuk (misforming).
  • Panjang batang 1/2 diameter tudung.
  • Cincin tudung belum membuka (openveil).
  • Tudung tidak rusak.

3.Standart jamur kancing kualitas II

Sama seperti jamur kancing kualitas I, jamur kancing kualitas II juga diolah dalam kemasan kalengan. Biasanya jamur kancing kualitas II dipakai untuk produk jamur kancing potongan batang [pieces and stems).

Ciri standar jamur kancing kualitas II saat dipanen adalah sebagai berikut.

  • Jamur kancing mekar/terbuka.
  • Cincin tudung terbuka [open veil). Diameter tudung di bawah 2,5 cm atau melebihi dari 4,5 cm.
  • Bentuk jamur kancing tidak bulat [misforming).
  • Terdapat brownspot (bercak cokelat di tudung) kurang dari 30%.
Cara budi Daya Jamur Merang Bernilai Ekonomi Tinggi
Jamur kancing. Kesempurnaan bentuk bulatnya dapat mempengaruhi kualitasnya

b. Jamur kuping

Jamur kuping siap dipanen jika ukurannya sudah optimal. Cirinya adalah jamur kuping sudah mengerut atau keriting dan bagian pinggirtudungnya sudah mulai menipis. Selain itu, ukurannya telah sesuai dengan yang dihendaki konsumen. Umumnya jamur kuping dapat dipanen hari ke-40—hari ke-50 setelah penanaman bibit jamur kuping. Hasil panen yang baik adalah jika dalam satu baglog dengan berat 1,5 kg dihasilkan jamur kuping sebanyak 250— 300 g.

Tips Panen dan Pengelolaan Pascapanen Dalam Budi Daya Jamur
Jamur kuping. Dipanen jika sudah keriting dan ukurannya sesuai permintaan konsumen

C. Jamur Shiitake

Panen dapat dilakukan saat jamur shiitake tumbuh optimal dengan tudung membuka sekitar 60—70%. Selain itu, ukurannya telah sesuai dengan yang dikehendaki konsumen.

Umumnya jamur shiitake dapat dipanen 5—6 bulan setelah penanaman bibit. Pemanenan yang melebihi masa optimal akan menurunkan kualitas panen.hasil panen yang balk adalah jlka dalam satu baglog dengan berat 1,5 kg dlhasllkan jamur shiitake sebanyak 300-400 g.

d.Jamur tiram

Jamur tiram slap dipanen bila ukurannya sudah optimal yang ditandai dengan ciri-drl tudung tubuh jamur tiram membesar dan belum pecah. Selaln Itu, ukurannya telah sesuai dengan yang dihendaki konsumen.

Umumnya jamur tiram dapat dipanen hari ke-35—hari ke-45 setelah penanaman blbit. Hasil panen yang balk adalah jika dalam satu baglog dengan berat 1,5 kg dlhasllkan jamur tiram sebanyak 400—500 g.

e. Jamur Merang

Jamur merang hendaknya dipanen ketika masih muda dan tudung belum membuka. Cara ini memerlukan panen 2—3 kali per hari. Untuk panen jamur merang, dibedakan menjadi unpeel (selaput jamur merang masih utuh), peel (selaput jamur merang pecah atau robek), dan mekar (tudung membuka).

Umumnya jamur merang dipanen pada hari ke-10—hari ke-12 setelah penaburan bibit jamur.

2. Teknik Panen

Jamur merupakan produk yang sangat sensitif karena tidak dilindungi oleh epidermis. Oleh karena itu, luka dan memar harus diminimalisir saat pemanenan.

Metode pemanenan akan menentukan kualitas akhir jamur. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

a. Peralatan panen

Tujuan pengadaan peralatan panen adalah untuk meningkatkan kecepatan panen, tetapi ongkos dapat ditekan. Hal itu dapat dicapai melalui pemanenan dengan menggunakan kedua tangan, penggunaan pemotong tunggul otomatis, pemusatan pengangkutan jamur, dan pemilahan jamur berdasarkan ukuran (bukan berdasarkan kualitas).

b. Arah memanen

Arab memanen jamur terbagi tiga, yaitu memanen maju, memanen mundur, dan memanen secara acak. Memanen maju (ke arah depan) memungkinkan pemanen mengamati dengan lebih baik jamur-jamuryang masih harus dipanen. Jika ada serangan hama atau penyakit, dapat diketahui lebih awal. Dengan teknik tersebut, punggung, leher, dan bahu juga kurang tegang. Pemetikjuga lebih yakin diri jika memanen maju. Dengan memanen maju, pemanen dapat memperhitungkan dengan lebih baik banyaknya wadah yang dibutuhkan. Perlu dipastikan pula agar pemanen tidak harus memaksa menjangkau jamur yang akan dipanen. Jika hal itu terjadi, kecepatan memanennya akan turun dan bahu menjadi mudah pegal.

Apabila memanen mundur, pemanen harus memetik jamur’di belakang’ bahunya dan hal ini lebih menimbulkan ketegangan pada bahu. Memanen
mundur juga menjadikan pemanen melihat apa yang sudah dipanen dan cenderung untuk memanen lebih sedikit Adapun memanen jamur secara acak juga tidak sebaik memanen maju. Namun, cara ini lebih mudah dipelajari.

c. Cara penen masing-masing jamur

Umumnya proses panen dengan cara mencabut jamur beserta akarnya. Jangan menyisakan tubuh buah jamur di dalam media. Sisa tubuh buah yang tertinggal dapat menyebabkan pembusukan dan menjadi sumber penyakit.

1. jamur kancing

Cara pemanenan jamur kancing dilakukan dengan cara sedikit ditekan dan diputar agar tanah casing serta pinhead tidak ikut. Kemudian, batang jamur dipotong dengan ukuran setengah dari diameter tudung menggunakan pisau. Lama masa pemanenan jamur kancing dalam satu siklus hidup sekitar 21—28 harl setelah panen pertama.

2. jamur kuping

Pemanenan dilakukan dengan cara pencabutan seluruh bagian jamur kuping yang siap panen. Jangan melakukan panen apabila ukuran jamur kuping belum optimal karena akan mengurangi berat hasil panen. Setelah pemanenan selesai, bersihkan akar jamur kuping jika ada serbuk kayu yang terikut Satu siklus penanaman jamur kuping

selama 5-6 bulan dapat memanen 3-5 kali. Adapun efisiensi biologinya 25—30% dari berat media tanam.

3. jamur shiitakee

Pemanenan jamur shiitake dengan cara mencabutnya langsung dari baglog hingga akarnya terikut. Setelah pemanenan selesai, bersihkan akar jamur shiitake apabila ada serbuk kayu yang terbawa. Efisiensi biologi jamur shiitake sekitar 15—35% dari berat baglog. Dalam satu siklus penanaman jamur shiitake, pemanenan dapat dilakukan 3—5 kali.

4. Jamur tiram

Pemanenan jamur tiram dilakukan dengan cara mencabut seluruh bagian tubuh buah yang siap panen. Jangan melakukan panen apabila ukuran jamur tiram belum optimal karena akan mengurangi bobot hasil panen. Setelah pemanenan selesai, bersihkan akar jamur tiram apabila ada serbuk kayu yang terbawa. Lakukan secara hati-hati jangan sampai tudung tubuh buah jamur tiram pecah. Jika pecah, harga jamur tiram akan turun atau lebih murah. Dalam satu siklus penanaman jamur tiram selama 5—6 bulan, piemanenan dapat dilakukan 3—5 kali dengan efesiensi biologi 30—40% dari berat media tanam.

5. jamur merang

Jamur merang dipanen dengan cara dicabut satu per satu. Pemanenan dilakukan dengan hati-hati agartidak merusak jamur yang dipanen dan calon tunas tumbuhnya.

Tips Panen dan Pengelolaan Pascapanen Dalam Budi Daya Jamur
Teknik panen jamur tiram. Seluruh bagian tubuh buah jamur dicabut
Tips Panen dan Pengelolaan Pascapanen Dalam Budi Daya Jamur
teknik panen jamur merang.Jamur di cabut satu per satu

Efisiensi biologi budi daya indoor dapat mencapai 50%. Namun, nilai efisiensi biologi sebesar 25% masih dapat diterima. Mengingat jamur merang tumbuh sangat cepat, pendapatan yang
relatif tinggi per periode tanam dapat diraih meskipun hasil panen jamur merang lebih rendah dibanding hasil panen jamur budi daya lainnya.

3. Kualitas Jamur

Harga jamur di pasaran ditentukan oleh kualitas dari jamur tersebut. Kualitas biasanya berdasarkan penampilan jamur yang dipanen. Sebagai contoh, harga jamur kancing dan merang akan turun dengan semakin membukanya tudung. Sementara itu, kualitas jamur tiram, kuping, dan shiitake ditentukan dari keutuhan jamur (tidak cacat) dan ukurannya.

Kualitas serta permintaan dan penawaran menentukan harga dan daya jual suatu produk pada pasar terbuka. Meskipun teori ekonomi dapat secara objektif menjelaskan hubungan antara permintaan, penawaran, dan harga, persepsi kualitas untuk komoditas pangan agak kurang rasional. Manusia telah mengembangkan pola pengenalan untuk mengindentifikasi bahan pangan yang enak dimakan. Pengenalan tersebut melibatkan kelima indera.

Persepsi tersebut dibentuk, disimpan dalam ingatan, lalu digunakan sebagai . penduga untuk mengarakterisasi bahan pangan. Oleh karena itu, menguji dan memutuskan bahwa suatu bahan pangan berkualitas serta mencari’objek’yang mirip dengan bahan yang berkualitas tersebut menjadi fenomena umum pada manusia.

Fenomena tersebut saat ini berwujud penentuan hal-hal yang dapat diterima dari suatu produk yang saatnya menentukan nilai ekonomi produk tersebut. Sebagai contoh, konsumen telah menentukan bahwa kualitas jamur kancing yang bagus adalah berwarna putih,terksturnya kuat, masak serentak, dan rasanya lezat Jika karakternya tidak demikian, kualitasnya dikatakan burukdan harganya akan jatuh. Oleh karena itu, sangat penting bagi kalangan industri untuk memelihara kualitas tersebut agar ketertarikan konsumen dan kestabilan harga dapat dijaga. Berikutdikemukakan beberapa hal terkait dengan kualitas panen dan penentuannya untuk jamur kancing.

4. Meningkatkan Kualitas dan Daya Tahan Jamur

Jamur budi daya, terutama strain-strain Agaricus bisporus yang lazim diusahakan, akhir-akhir ini sangat intensif ditanam. Hal tersebut sering mengakibatkan kualitas produk kurang dapat dipertahankan. Jamur hasil panen menjadi mudah busuk dan cenderung cepat kehilangan karakter-karakter utama yang menjadikannya digemari konsumen sehingga nilai jualnya menurun. Kebanyakan konsumen menyukai jamur yang kuat, berwarna putih atau terang, permukaannya halus dan tidak cacat, serta tekstur yang lunak dan renyah. Sayangnya, jamur menjadi tidak putih lagi dan permukannya berbercak saat dipanen. Setelah dipanen, warna jamur dengan cepat mulai menjadi tua, tudungnya cepat membuka sehingga memperlihatkan gills-nya yang menjadi gelap karena menghasilkan spora, kemudian seluruh jaringannya mengeras dan menjadi kenyal. Perubahan tersebut merupakan fenomena sinesen/penuaan normal atau karena serangan mikroba. Berikut ini beberapa tindakan yang dapat meningkatkan kualitas basil jamur dan memperpanjang daya tahan atau kesegarannya (shelf life).

5. Pengaruh Aspek Budi Daya

terhadap Kualitas Jamur Kualitas jamur, yang menyangkut warna, kekerasan, kemasakan, dan rasa, dapat dipengaruhi oleh setiap stadia pertumbuhan dalam budi daya jamur. Untuk memudahkan mempelajarinya, pengaruh terhadap kualitas jamur dibagi ke dalam tiga periode, yaitu periode pertumbuhan sebelum panen, periode panen, dan periode pascapanen.

a.pengaruh periode pertumbuhan sebelum panen

Kondisi selama pertumbuhan jamur mempengaruhi kualitas produkakhir jamur. Kondisi tersebut menyangkut faktor lingkungan (kelembapan, suhu, dan kadar C02 udara), faktor agronomi (kompos, casing, dan strain jamur), dan budi daya (pinning, pemeliharaan, dan desain wadah). Meskipun demikian, interaksi ketiga faktor tersebut tidak jarang membuat sulit ketika harus menerangkan secara jelas penyebab suatu kasus.

Aliran udara yang terlalu kuat dapat mengakibatkan over pinning sehingga membuat perkembangan jamur menjadi buruk kualitasnya (terlalu tua, mudah melekuk serta mencokelat, dan teksturnya lunak). Pemberian air juga kritikal bagi kualitas jamur. Kalsium klorida bila ditambahkan ke dalam air siraman dapat memperbaiki warna jamur (mempertahankan warna putih), terutama menurunkan pencokelatan selama penyimpanan pascapanen. Mekanisme pengurangan pencokelatan tersebut belum dapat dipahami secara baik meski ada peneliti yang mengemukakan bahwa proses tersebut tidak melibatkan perubahan aktivitas enzim tirosinase. Beberapa peneliti melaporkan bukti hasil pengamatan dengan mikroskop elektron yang mengindikasikan kemungkinan perubahan membran vakuola akibat meningkatnya konsentrasi kalsium.

Tekstur atau kekerasan jamur dapat sangat dipengaruhi oleh kedalaman kompos dan casing. Jamur yang ditumbuhkan pada lapisan casing tipis dan kompos tebal memiliki tekstur keras. Sementara itu, jamur yang ditumbuhkan pada kondisi sebaliknya, yaitu lapisan casing yang tebal dan kompos tipis, memiliki tekstur lunak. Perubahan relatif kedalaman casing dan kompos mempengaruhi proporsi air yang dapat diserap pada tiap lapisan media tersebut. Jika air yang diserap dari kompos lebih . banyak, akan lebih banyakpula nutrisi yang terserap bagi pertumbuhan sel sehingga tubuh buah yang terbentuk teksturnya lebih kuat. Konsentrasi C02 berkorelasi negatif dengan kekuatan jamur. Level C02 yang rendah pada ruang tumbuh menjadikan jamur yang terbentuk lebih kuat.

Tindakan lain dari budi daya yang berpengaruh terhadap kualitas jamur adalah komposisi dan struktur lapisan casing. Gambut dari casing dapat menurunkan kualitas jamur jika mengontaminasi atau menempel pada permukaan jamur sehingga terlihat kotor. Hasil survei dan penelitian menunjukkan bahwa tipe gambut penting diperhatikan. Jamur yang ditumbuhkan pada gambut cokelat adalah yang terlihat paling bersih; Sebaliknya, jika yang ditumbuhkan pada gambut hitam, akan terlihat paling. kotor. Satu hal yang jauh lebih penting adalah pengaruh air. Kontaminasi oleh gambut lebih tinggi jika dalam kondisi , baru dilakukan penyiraman. Kontaminasi tersebut sangat berkurang jika casing dibiarkan agak mengering. Adapun jenis kapur yang digunakan untuk casing tidak terlalu mempengaruhi kualitas jamur.

b. Pengaruh permanen

Panen dengan tangan adalah saat yang sangat potensial menimbulkan kerusakan pada jamur yang akan dipasarkan segar. Jamur bersifat rapuh dan mudah mencokelat akibat kekuatan mekanik saat panen. Tekanan kurang dari 1 mJ dapat mengakibatkan lekukan pada tudung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa hidup (shelf life) jamur menjadi tinggal setengahnya jika mengalami kerusakan mekanik akibat guncangan ringan dalam boks polistiren selama 10 detik.

Jamur memiliki struktur sel-sel yang terjalin agak longgar sehingga cukup kuat dan fleksibel dalam menghadapi tekanan mekanik ringan. Permukaan atas tudung terdapat cukup banyak rongga-rongga udara antarsel yang memungkinkan jamur menyerap tekanan mekanik ringan tanpa kerusakan berarti pada seluruh bagian jamur. Namun, sel-sel terluar dari | bagian jamur yang terkena tekanan ke arah rongga udara sehingga hanya sel-sel pada bagian tersebut yang mengalami deformasi. Fenomena ini yang disebut bruising, yaitu terjadi lekukan dan pencokelatan permukaan jamur.

Kemudahan untuk melekuk dan mencokelat pada jamur (bruisability) berhubungan dengan struktur dan pengaturan seluler pada permukaan tudung. Akan tetapi, hal tersebut tidak selalu berhubungan dengan kekuatan jaringan. Oleh karena itu, pengaruh faktor agronomi (kedalaman lapisan kompos, casing, serta kadar C02) tidak selalu sama pengaruhnya dalam menentukan kemudahan melekuk dan mencokelat pada jamur. Kemudahan melekuk dan mencokelat tidak terlalu berbeda antartanaman. Oleh karena itu, kondisi  tersebut diduga lebih dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh jamur dan agronominya.

c. Penurunan kualitas jamur pasca penen

Setelah dipanen, jamur tetap tumbuh, berkembang, dan membentuk spora. Tudungnya melebar, tangkainya memanjang, dan pembentukan gills terjadi. Peningkatan kemasakan ini berakibat negatif terhadap kualitas jamur dan berhubungan dengan perubahan warna, tekstur, dan aroma/rasa. Jamur yang sudah dipanen terisolasi dari lingkungan untuk pemenuhan nutrisinya. Oleh karena itu, air dan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan harus dimobilisasi dan ditranslokasi dari tubuh buah itu sendiri. Laju respirasi jamur pascapanen meningkat tajam. Respirasi tersebut didukung oleh katabolisme karbohidrat mannitol, trihalosa, dan glikogen, serta protein terlarut. Perubahan komposisi tersebut tidak selalu sama pada jamur-jamur yang dipanen dan terdapat bukti terjadinya pergerakan massa bahan kering dan air dari tangkai ke jaringan tudung dan gills.

Fisiologi jamur yang dipanen dideskripsikan sebagai senesen, yaitu suatu proses penuaan yang kompleks yang mengarah kepada kematian.

Jamur yang dipanen, selain berlangsung fisiologi senesen, termasuk terjadinya kematian seluler, juga terjadi mobilisasi dan translokasi nutrisi, serta berlanjutnya proses morfogenesis. Oleh karena itu, fisiologi jamur yang dipanen tidak dapat dideskripsikan sebagai senesen, tetapi sebagai respon dari suatu kondisi stres karena penyebab dan proses yang berlangsungpun berbeda dari jamur yang mengalami senesen secara alami.

Kemiripan antara senesen alami dengan senesen yang dipicu oleh pemanenan adalah enzim serin proteinase yang pada stadia kancing (stadia 2) tidak ada. Enzim tersebut terakumulasi dengan level yang tinggi pada tangkai jamur yang dipanen maupun yang senesen alami. Akumulasi protein ini dikendalikan secara genetik. Sintesis enzim serin proteinase merupakan bagian dari perubahan metabolisme nutrisi yang berasal dari luar (dari miselia) ke katabolisme.

Enzim lain yang disintesis antara lain mannitol dehidrogenase serta enzim-enzim senesen, seperti enzim untuk metabolisme nitrogen dan pengurai karbohidrat.

BACA JUGA : Proses Persiapan Bibit Pada Budi Daya Jamur

Demikian Tips Panen Dalam Budi Daya Jamur Dengan benar.Semoga Bermanfaat.