Tips Manajemen Usaha Jamur Yang Menguntungkan

Posted on

Tips Manajemen Usaha Jamur Yang Menguntungkan

dalam usaha jamur, terdapat tiga aspek penting yang harus senantiasa dikontrol,yaitu budi daya, pemasaran, dan permodalan. Ketiga aspek tersebut saling berkait dan mempengaruhi satu sama lain. Langkah pertama yang harus dilakukan adaiah menentukan skaia bisnis yang akan dilakukan. Untuk skaia coba-coba dan hanya untuk mendapat
penghasilan tambahan, ukuran 500 – 3000 baglog sudah mencukupi. Untuk skaia bisnis, usaha yang dilakukan sudah mencapai lebih dari 4.000 baglog, apalagi hingga 10.000 baglog.

A. Manajemen budi daya

Manajemen budi daya meliputi aspek persiapan, penanaman, perawatan, dan pemanenan. Jika skaia usaha masih di bawah 5.000 baglog, perawatan masih J dapat ditangani sendiri. Namun, jika skaia ‘usaha yang dilakukan sudah mencapai di atas 5.000 baglog, perawatan dapat dilakukan dengan bantuan pekerja sesuai kebutuhan. Berikut tiga tahapan utama aspek budi daya usaha jamur.

1. Menyiapkan Lahan dan Membangun Kumbung

Rencana skaia bisnis jamur yang akan dilakukan berkaitan dengan luasan lahan yang dimiliki. Luas efektif kumbung yang umumnya digunakan adaiah 70 baglog per m2. Angka ini adaiah jumlah efektif baglog per luasan sehingga didapatkan sirkulasi udara yang cukup bagi jamur untuk tumbuh secara optimal. Berikut adaiah perhitungan luasan yang diperlukan dalam berbagai skaia usaha jamur.

  • 1.000 baglog memerlukan luas  = 1.000/70 = 14,3 m2 atau setara dengan -lahan ukuran 3 m x 5 m. Estimasi ; panen yang diharapkan adaiah 3—5  kg/hari.
  • 2.000 baglog memerlukan luas = 2 000/70 = 28,6 m2 atau setara dengan lahan ukuran 4 m x 7 m. Estimasi panen yang diharapkan adalah 6—10 kg/hari.
  • 3.000 baglog memerlukan luas = 3.000/70 = 43 m2 atau setara dengan lahan ukuran 5 m x 9 m. Estimasi panen yang diharapkan adalah 9—15 kg/hari.
  • 4.000 baglog memerlukan luas = 4.000/70 = 57 m2 atau setara dengan lahan ukuran 6 m x 10 m. Estimasi panen yang diharapkan adalah 12—20 kg/hari.
  • 5.000 baglog memerlukan luas = 5.000/70 = 71 m2 atau setara dengan lahan ukuran 6 m x 12 m. Estimasi panen yang diharapkan 15—25kg/ hari.

2. Menyiapkan Baglog

Untuk skala bisnis hingga 10.000 baglog, sebaiknya menggunakan baglog siap pakai karena lebih praktis. Namun, baglog dapat juga dibuat sendiri.

3. Perawatan dan Pemanenan

Perawatan dilakukan sesuai dengan teknik budi daya dalam bab sebelumnya. Jadwal panen diatur sesuai dengan kebutuhan konsumen. Untuk pasar jamur ukuran kecil, pemanenan dilakukan dua hari setelah first appear-nya. Untuk pasar yang menginginkan jamur ukuran sedang dan besar, umumnya pemanenan empat hari setelah first appear-nya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kualitas panen terjaga.

a.    Sebaiknya jamur dipanen sekitar 3—4 jam sebelum dipasarkan dan dikemas dalam plastik hampa udara agar jamur bisa bertahan lebih dari 24 jam.

b.    Pemantauan dan pengawasan ketat dilakukan terhadap kontaminasi hama penyakit. Karena jamur mengandung protein, biasanya baglog yang telah berumur lebih dari 60 hari ada potensi hama ulat. Jika hal itu terjadi, hentikan proses pemanenan sementara dan petik seluruh jamur hingga tersisa jamur yang kecil-kecil dan pinhead. Selanjutnya, beri racun hama. Biarkan kumbung tanpa raising (penyiraman) selama dua hari. Setelah itu, lakukan perawatan seperti biasa dan lakukan pemanenan kembali.

c.    Sebaiknya tidak menahan/menunda panen. Jamur yang terlalu besar dan tua dipanen, akan menurunkan kualitas dan cenderung berwarna kekuningan. Selain itu, nutrisi dalam baglog akan cepat habis.

B. MANAJEMEN PERMODALAN

Sering kali jika ingin terjun dalam usaha/ bisnis apapun, pengusaha terganjal dengan masalah modal. Oemikian juga dengan bisnis jamur ini. Modal awal yang dibutuhkan untuk bisnis memang cukup besar jika langsung membangun kumbung sendiri (bukan sistem sewa). Oleh karena itu, perlu diusahakan bekerja sama dengan pemodal atau investor jika modal terbatas. Hal tersebut pasti akan terkait dengan kesepakatan bagi hasil. Modal yang dibutuhkan serta prediksi keuntungan yang dapat diperoleh juga perlu diketahui.

1. Skala Usaha Jamur

a.    Skala bisnis 3.000 baglog

  • Modal (hingga tertata dan dibuang) Rp2.100,00/baglog x 3.000 = Rp6.300.000,00
  • Target hasil panen 0,4 kg x 3.000 selama 4 bulan = 1.200kg
  • Total penjualan dengan harga jual Rp7.000,00/kg = Rp8.400.000,00
  • Prediksi keuntungan yang diterima adalah = Rp2.100.000,00
  • Keuntungan dapat bertambah jika harga jual bisa Rp8.000,00/kg atau malah Rpl0.000,00/kg.

b.  Skala bisnis 8.000 bagloq

Modal untuk baglog dengan sistem membeli baglog dan harga dasar Rp1.800,00/baglog) adalah sebagai berikut.

  • Transportasi dan penataan serta biaya bongkar = Rp300,00/baglog
  • Biaya pembelian baglog = Rp2.100,00/ baglog
  • Total modal untuk baglog = Rpl 6.800.000,00 per musim
  • Modal untuk lahan dan kumbung:
    Lahan sewa dengan biayaRpl.000.000,00/tahun dengan asumsi masa sewa tiga tahun
  • Luas kumbung = 8.000/70 = 114 m2, ukuran lahan 7 m x 15 m. Biaya pembuatan kumbung Rp120.000,00/ m2 sehingga biaya kumbung 114 x Rpl 20.000,00= Rp13.680.000,00
  • Total modal untuk lahan dan kumbung = Rpl 3.680.000,00

Dengan sistem sewa, pengusaha harus menentukan jadwal pengisian kumbung dengan ketat. Jika masa produksi jamur tiram adalah 120 hari (empat bulan), pengusaha harus membeli baglog yang sudah siap tumbuh atau minimal yang sudah memiliki miselium lebih dari 50% dengan toleransi keterlambatan maksimal lima bulan per musim. Dengan demikian, pengusaha mendapatkan 36/5 = 7,2 atau tujuh musim tanam dalam tiga tahun. Adapun estimasi keuntungan per musim yang akan diperoleh adalah sebagai berikut.

Asumsi biaya perawatan kumbung = Rp600.000,00/bulan, satu masa produksi = 4 bulan

  • Total biaya perawatan Rp2.400.000,00
  • Total biaya pembelian baglog Rpl 6.800.000,00
  • Total biaya per musim Rp19.200.000,00
  • Target panen = 0,4 kg/baglog. Jadi, dengan 8.000 baglog targetnya = 3.200 kg. Harga jual jamur dasar Rp7.000,00
  • Total hasil penjualan Rp22.400.000,00
  • Keuntungan bersih Rp22.400.000,00— 19.200.000,00 = Rp3.200.000,00 Keuntungan selama 3 tahun dengan jumlah tujuh musim.
  • Keuntungan selama 3 tahun = 7 x Rp3.200.000,00 = Rp22.400.000,00
  • Modal sewa lahan dan pembuatan kumbung Rpl3.680.000,00
  • Keuntungan bersih dalam 3 tahun Rp8.720.000,00

Sistem dua kumbung ini memungkinkan petani melakukan usaha jamur 10.000 baglog dengan modal 5.000 baglog. Meskipun menghabiskan dana yang hampir sama dengan biaya pembuatan kumbung 10.000, pembagian dua kumbung membuat biaya pembelian baglog menjadi lebih rendah. Perkembangan panen jamur diharapakan akan mampu mencapai 60% target panen dalam 60 hari. Dengan demikian, hasil penjualan panen di 60 hari pertama dari kumbung pertama dapat digunakan untuk modal pengisian kumbung kedua. Ketika kumbung pertama sudah waktunya diganti baglog, penjualan hasil panen dari kumbung kedua dapat digunakan untuk modal pengisiannya. i Demikian seterusnya bergantian, seperti sistem subsisdi silang.

Interval waktu pengisian antarkumbung yang ideal adalah 1,5—2 bulan.Tujuannya agar kedua kumbung dapat bergantian berproduksi. Cara ini jauh lebih efisien. Jika membangun kumbung dengan kapasitas 10.000, penjualan hasil panen 60 hari akan menjadi dana menganggur selama sekitar 2—3 bulan sebelum bisa dibelikan baglog lagi. Baglog yang dibeli pun tidak akan dapat ditaruh di dalam kumbung karena masih ada baglog yang berproduksi.

Berikut adalah simulasi perhitungan

biaya investasi usaha jamur skala 10.000 dengan sistem dua kumbung.

  • Modal untuk membeli baglog sejumlah 5.000 = Rpl 0.000.000,00
  • Target panen, 0,4 kg x 5.000 baglog = 2.000 kg
  • Asumsi harga jual Rp7.000,00/kg
  • Hasil panen dalam 60 hari diasumsikan sudah mencapai 1.200 kg (60% dari target panen) sehingga didapatkan dana sebesar 1.200 kg x Rp7.000 = Rp8.400.000,00. Dana ini dapat digunakan sebagai uang muka atau dana awal pembelian baglog selanjutnya.

Berikut beberapa hal penting yang harus diperhatikan dan menjadi prasyaratan menggunakan sistem dua kumbung.

  1. Disiplin dalam menentukan jadwal pengisian kumbung agartepat waktu dan tidak terlambat
  2. Membuat perjanjian kerja dengan produsen baglog agar pengisian kumbung bisa tepat waktu.
  3. Memiliki manajemen keuangan yang baik agar dana tidak tercecer tanpa arah yang jelas.
  4. Baglog yang diisi di dalam kumbung sebaiknya sudah memiliki miselium sekitar 40—50%.
  5. Pada Perawatan kumbung harus semaksimal dan juga optimal agar semua hasil panen bisa sesuai target yang diharapkan.

2. Sistem Bagi Hasil dengan Investor

Selain menggunakan dana sendiri, usaha jamur dapat pula dilakukan dengan sistem bagi hasil antara petani dan penanam modal. Anda dapat memilih peran mana yang akan diambll sesuai dengan kapasistas, sebagai petani yang melakukan produksi atau sebagai penanam modal. Sistem bagi hasil keuntungan ini bisa diterapkan dan layak untuk diusahakan jika skala bisnis yang akan dijalankan di atas 5.000 baglog. Tentu saja usaha harus disertai dengan dukungan sistem pemasaran yang sudah terbentuk, baik sistem plasma ataupun jaringan pemasaran sendiri. Jika masih di bawah skala 5000 baglog, tingkat keuntungan yang didapat mungkin terlampau kecil. .

} Sistem bagi hasil yang dilakukan tentunya sangat tergantung dari kesepakatan yang dibuat oleh investor selaku pemilik modal dan petani jamur serta sumber daya yang dimiliki oleh keduanya. Jika investor memiliki dana, sedangkan petani memiliki lahan, kumbung, serta mengusahakan perawatan, pembagian hasil bisa dilakukan dengan merata, yaitu 50:50. Artinya, investor membeli baglog yang akan diisikan di kumbung petani, lalu petani merawatnya. Hasil penjualan jamur kemudian dibagi dua. Hal Ini juga tentunya masih berlaku jika penjualan jamur juga diusahakan bersama-sama.

Jika investor mengusahakan dana, lalu petani menyediakan lahan, kumbung, perawatan, dan penjualan, sistem bagi hasil dapat dihitung dengan cara hasil bersih penjualan jamur dikurangi modal baglog. Selanjutnya, keuntungan bersih dibagi dengan presentase 60% untuk petani dan 40% untuk investor. Berikut adalah contoh simulasi sederhananya.

a.    Jumlah baglog yang akan dikelola 5.000 baglog. Jika diasumsikan harga baglog Rp1.800,00/baglog ditambah biaya transportasi dan penataan dalam kumbung dan sekaligus biaya pembongkaran baglog di akhir musim produksi menjadi Rp2.100,00/baglog, modal total adalah Rp10.500.000,00.

b.    Target panen jamur tiram putih 0,4 kg/baglog jadi 0,4 x 5.000 = 2.000 kg. Harga jual jamur dasar di tingkatan petani rata-rata Rp7.000,00 sehingga hasil total adalah 2.000 x Rp7.000,00 = Rp 14.000.000,00. Keuntungan kotor sebelum dibagi hasil adalah Rpl 4.000.000,00— Rpl 0.500.000,00 = Rp3.500.000,00.

c Perhitungan bagi hasil. Keuntungan ini akan didapat dalam 4 buian masa • produksi. Simulasi bagi haSifnya jika 60 : 40 adalah sebagai berikut.

–    Investor 40% dari Rp3.500.000,00, yaitu

Rp1.400.000,00. Jika dibuat persentase, yang didapat adalah Rp1.400.000,00/ Rpl 0.500.000,00 = 13,3%. Jika dibagi 4 buian, persentase bagi hasilnya adalah 3,33% atau senilai dengan Rp350.000,00 per bulan

Ada saatnya dalam usaha terjadl situasi yang tidak sinkron antara pasokan jamur dengan permlntaan pasar. Ketidaksesuaian itu dapat bersifat ekstrlm. Misalnya, saat produksi jamur turun, permintaan jamur justru meningkat. Sebaliknya, saat panen raya dan pasokan jamur berlimpah, permintaan menurun.

Untuk dapat menjual seluruh hasil panen, harus memiliki jaringan pemasaran yang efektif dan solid. Pemasaran jamur umumnya dapat dilakukan dengan dua mata rantai penjualan, yaitu sistem plasma dan direct selling.

a.Memasarkan dengan Sistem Plasma

Sistem plasma atau berinduk kepada pengumpul jamur cocok untuk petani pemula dan petani kecil. Dengan sistem plasma, risiko yang diterima pebisnis jamur pemula relatif aman. Hal itu karena sefuruh hasil panen jamur akan diterima untuk dijualkan. Kelemahan sistem ini ada pada mata rantai penjuaiannya yang terlalu panjang, yaitu sebagai berikut.

Tips Manajemen Usaha Jamur Yang Menguntungkan

Rantai pemasaran yang terlalu panjang ini menyebabkan harga dl tingkat petani rendah. Harga jamur yang diterima berkisar Rp6.000,00/kg. Bagl pebisnis atau petani skala kedl, harga tersebut mungkin masih cocok karena kumbung dikelola sendiri. Namun, bag! petani skala menengah dengan kumbung di atas 10.000 baglog, harga tersebut tidak akan dapat mencukupi biaya operasional.

b. Memasarkan dengan Sistem Direct Selling

Sistem direct selling adalah sistem pemasaran secara langsung kepada konsumen. Bagi yang tidak ikut dalam plasma penjualan jamur manapun, petani jamur harus memiliki strategi penjualan yang pas jika ingin menjual produk jamurnya. Jika tidak,dikhawatirkan terdapat sisa jamur yang tidak terserap ke pasaran. Keuntungan memasarkan langsung kepada pasar/ konsumen adalah tingkat keuntungan yang diperoleh menjadi lebih besar karena mata rantai penjualan menjadi lebih pendek.

Petani dapat menjual langsung kepada konsumen ataupun menjual kepada pedagang eceran. Selanjutnya, pedagang eceran tersebut yang menjual kepada konsumen. Potensi pemasaran jamur yang paling banyak adalah ke pasar tradisional, konsumsi langsung, rumah makan, outlet-outlet jajanan jamur krispi, pengusaha kripik jamur, dan sebagainya.

Sistem direct selling memberikan tantangan lebih dari sisi pemasaran. Petani perlu menjaga kualitas dan kredibilitas produknya. Selain itu, petani juga dituntut lebih tekun untuk membentuk pangsa pasar baru. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan pemasaran jamur, khususnya dengan sistem direct selling.

Kenali pasar/konsumen yang menjadi sasaran

Dengan mengetahui pasar, para petani akan lebih mudah memperhitungkan target produksi yang harus dicapai. Umumnya, para pedagang tradisional ataupun tengkulak yang menjual jamur akan selalu meminta kontinuitas. Artinya, apabila menjual jamur segar kepada mereka, konsekuensinya harus mampu secara terus-menerus memberikan ketersediaan barang. Misalkan, di pasar A, jumlah pedagang yang akan kita tawarkan ada 10 pedagang dan setiap pedagang menyanggupi untuk mengambil sekitar2—5 kg. Jumlah panen yang harus diperoleh dalam kumbung adalah 20—50 kg per hari. Jumlah inilah yang harus dipenuhi. Tujuannya untuk membangun kredibilitas dan ketersediaan jamur bagi para pedagang pasar. Memahami karakter pasar juga mempermudah menyesuaikan antara permintaan dan produkyang harus ditawarkan. Misalnya, untuk pasar tradisional, pilihlah jamur tiram ukuran kecil dan tanggung. Sebaiiknya, untuk restoran dan outlet, jamur dipilih yang berukuran sedang dan besar.

Membuat jadwal pengisisan baglog dalam karung

Banyaknya jumlah baglog dalam kumbung yang dikelola harus terdapat jadwal produksi yang jelas. Dengan demikian, petani jamur akan dapat melakukan antisipasi pemasaran sesuai dengan estimasi volume produksi. Jika memiliki 10.000 baglog dalam kumbung, bisa dihasilkan 100 kg jamur per harinya pada masa produksi optimal. Jika tidak memiliki pasar sebesar itu, jumlah 10.000 baglog Itu harus dljadwal dengan baik. Misalnya, kumbung dlisl per 2.000 log dengan Jarak penglslan kumbung dua mlnggu hingga panen akan stabil di angka 30 kg per hari. Hal Itu akan lebih memudahkan dalam mendistribusikan hasll panen sesual dengan target pasar yang telah ditentukan.

Menjaga Kualitas Panen

Setiap pedagang akan mampu menjual semua jamur produksinya apabila kualitas barang yang ditawarkan bagus dan segar. Untuk itu, kualitas panen harus dijaga agar tetap segar.

Mengemas Produk Jamur dengan Baik

Untuk meningkatkan harga jual dan menjaga kualitas, jamur sebaiknya dikemas dengan baik. Jamur tiram sebaiknya dikemas dalam plastlk ukuran 0,03 mm x 18 mm dengan kapasitas per plastlk sekitar 200 g. Sesuaikan kemasan yang dipakai dengan berat Jamuryang akan ditawarkan ke tiap konsumen. Pengemasan disarankan menggunakan plastic sealer agar kondisi dalam plastik menjadi kedap udara. Jamur dalam kondisi ini akan tetap segar hingga tiga hari.

Memberikan Label Khusus

Banyaknya petani jamur membuat petani harus membuat suatu inovasi yang berbeda dengan petani lainnya. Contohnya dengan memberikan label sederhana yang menunjukkan identitas usaha.Tujuannya untuk membedakan jamuryang diproduksi dengan produksi petani lainnya. Hal itu untuk membangun brand, kepercayaan, dan kredibilitas. Jika ada barang kembali atau keluhan dari pedagang, pembudidaya dengan mudah menerima atau memperbaiki kualitas, misalkan, jamur terlalu basah, terlalu tua, atau kurang segar.

Melakukan Kerja Sama dengan Petani Jamur Lain

Jumlah panen jamur tidak selalu stabil. Ada kalanya hasil panen tidak bisa optimal karena cuaca dan kelembapan yang kurang atau berlebihan. Untuk menjaga permintaan pasar yang stabil, petani perlu menjaga hubungan baik antarpetani jamur.Tujuannya agar bisa bekerja sama untuk tetap memenuhi permintaan yang ada jika kekurangan pasokan jamur.

Menerima Keluhan Konsumen dengan Baik

Bersiaplah akan datangnya keluhan dari konsumen. Sikapi keluhan yang ada dengan bijak. Usahakan sebisa mungkin memberikan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak dan hindari mengecewakan konsumen. Jika memang memungkinkan, beri kompensasi atas produkyang dikeluhkan. Hal tersebut akan membangun kredibilitas tentang penjagaan kualitas dan pelayanan konsumen.

Melakukan Inovasi terhadap Produksi Overstock

Jika kapasitas pasar sudah terlampaui dan masih ada sisa, jamur yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan dengan diolah lebih lanjut. Jamur dapat diolah menjadi keripik, nuget, dan produk olahan jamur lain yang tahan lama. Produk olahan tersebut dapat dipasarkan pada pangsa pasar/konsumen yang berbeda dengan produk jamur segar. Pemasaran ke sekolah-sekolah, warung makan, atau toko adalah contoh pemasaran yang cukup efektif.Tidak menutup kemungkinan, produk olahan yang awalnya sebagai produk sampingan dapat berkembang menjadi saiah satu produk utama, selain jamur segar.

Berusaha Membentuk Pasar dan Jaringan baru

Manfaatkan teknologi terbaru, terutama media informasi sebagai alat bantu pemasaran. Internet marketing merupakan saiah satu cara pemasaran yang telah terbukti mampu meningkatkan penjualan. Senantiasa menjaga hubungan baik dengan konsumen lama dan jeli membidik peluang baru.

Mengupgrade Pengetahuan

Mencari informasi atau pengetahuan terbaru merupakan saiah satu cara yang dapat dilakukan. Misalnya, mengikuti perkumpulan atau himpunan petani jamur yang ada sehingga senantiasa mendapatkan informasi terbaru seputar bisnis jamur. Paguyuban petani tersebut dapat menjadi tempat untuk saling memberikan informasi pemasaran yang tepat dan efektif. Dengan demikian, dapat diketahui pasar mana saja yang sudah jenuh karena banyaknya petani yang menyetorkan hasil panennya dan pasar mana yang masih kurang pasokan.

Baca Juga:  Proses Pengolahan Jamur Pascapanen

Demikian artikel tentang Tips Manajemen Usaha Jamur Yang Menguntungkan.Semoga bermanfaat