Syarat Sarana Dan Prasana Memulai Bisnis Jamur

Posted on

Sebelum memulai usaha pembibitan dan budi daya jamur, yang perlu diperhatikan adalah kondisi lokasi usaha. Lokasi tersebut harus sesuai dengan jenis jamur yang akan dibudidayakan. Dengan demikian, akan menghemat biaya produksi yang dikeluarkan untuk memanipulasi lingkungan agar sesuai dengan syarat tumbuhnya. Selain itu, diperhatikan juga tata ruang, dan prasarananya, baik untuk pembibitan maupun budi daya.

1. LOKASI USAHA

Saran Dan Prasana Memulai Bisnis Jamur

Syarat pemilihan lokasi budi daya jamur yang diperlukan sebagai berikut.

  • Pilihlah lokasi yang sesuai dengan syarat tumbuh miselium jamur dan jamur yang akan dibudidayakan. Misalnya,Pada cara pembibitan jamur merang harus diusahakan di daerah dataran rendah yang mempunyai suhu udara lingkungan 30—32° C karena miselium jamur merang tumbuh baik pada suhu tersebut. Untuk jamur kancing dan jamur shiitake, lokasi pembibitannya diusahakan di daerah dataran tinggi dengan suhu 20—24° C karena miselium jamur tumbuh optimal pada suhu tersebut dan biasanya untuk lebih mendekatkan dengan lokasi penanamannya. Adapun untuk budi daya, misalnya, lokasi budi daya jamur merang diusahakan di daerah dataran rendah yang mempunyai suhu udara lingkungan 33—36° C.
  • Lokasi pembibitan dan budi daya jamur terletak jauh dari pabrik atau pembuangan limbah berbahaya ataupaun tempat pembuangan sampah.Hal ini untuk mengurangi risiko kontaminasi.Pilihlah lokasi pembibitan dan budi daya jamur yang dekat dengan sumber bahan baku yang digunakan.Hal ini akan bermanfaat dalam mengurangi biaya transportasi yang di keluarkan
  • Pilihlah lokasi pembibitann dan budi daya jamur yang dekat dengan sumber air,Pastikan sumber air yang ada tersedia dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik.
  • Jika pembibitan dan budi daya jamur dilakukan dalam skala besar,dibutuhkan asupan listrik untuk menggerakkan mesin-mesin.Oleh karena itu,pastikan lokasi mudah dalam mendapatkan sebuah instalasi listrik yang cukup.Adapun pada area lokasi usaha jamur yang memang dengan skala rumah tangga, dapat dilakukan di dalam rumah (dapur, misalnya) ataupun di pekarangan rumah. Pembuatan pada media tanam jamur kultur murni dan bibit induk juga dapat menggunakan dapur. Sementara itu, pada area serta tempat pembuatan media semai dan sterilisasi medianya dapat menggunakan halaman pekarangan rumah.
    Pembuatan bibit berkualitas sebaiknya dilakukan di laboratorium. Tujuannya untuk menghindari kontaminasi dalam budi daya jamur.  bibit jamur juga dapat dibuat dengan cara memanfaatkan suatu kamar rumah yang memang kosong ataupun tidak digunakan. Kamar rumah disekat menjadi dua, ruangan pertama untuk tempat inokulasi dan ruangan kedua untuk tempat inkubasi.

 

 

2. BANGUNAN

Bangunan usaha jamur biasanya terdiri tempat budi daya dan ruang pendukung lainnya.

Ruangan Budi Daya (Kumbung) Tempat untuk membudidayakan jamur umumnya disebut rumah jamur. Rumah jamur ada dua macam, yaitu rumah jamur untuk skala Industri besar dan rumah jamur sederhana berbentuk kumbung.Rumah jamur skala industri besar berbentuk seperti bangunan pabrik dan Bangunan. yang penting memenuhi syarat tempat untuk pertumbuhan jamui
membutuhkan investasi yang besar.Oleh karena itu, rumah jamur berbentuk kumbung lebih lazim digunakan petani.

3. PRASARANA

Untuk mendukung kelancaran daiam i proses, baik pembuatan bibit maupun budi daya jamur, perlu didukung sarana dan prasarana yang mencukupi. Berikut bahan dan peralatan pendukungnya.

Bahan-bahan pendukung, baik pembuatan bibit maupun budi daya jamur terdiri dari bahan baku, bahan bantu, dan bahan sanitasi.

Bahan baku

  • Bahan Baku pembibitan

Bahan baku untuk pembuatan bibit jamur cukup beragam, tergantung jenis bibit yang akan dibudidayakan. Untuk pembuatan bibit jamur kancing, misalnya, bahan bakunya berupa biji cantel. Bahan baku tersebut, antara lain biji cantel, biji padi, biji sorgum, biji jagung, serbuk kayu, limbah kapas, dan potongan jerami.

  • Bahan baku Proses Budidaya

Bahan baku untuk budi daya jamur cukup beragam, tergantung jenis jamur yang akan dibudidayakan. Bahan baku tersebut, antara lain jerami, limbah kapas, dan serbuk gergaji.

Hal yang perlu diperhatikan untuk bahan baku, baik bibit maupun budi daya jamur adalah ketersediaan bahan, kontinuitas, serta harganya yang relatif murah. Bahan baku yang datang perlu dikontrol agar tidak menyimpang dari standar bahan baku yang telah ditetapkan.

Penyimpangan bahan baku bibit akan mengakibatkan kualitas bibit yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar. Selain itu, akan mengakibatkan kegagalan dalam proses budi daya jamur. Bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi yang telah ditentukan harus ditolak dan dikembalikan. Untuk pembibitan, bahan baku seperti kadar air biji cantel yang tinggi, banyak biji yang kosong, banyak serangganya, dan ada kontaminannya berupa Trichoderma sp. yang berwarna hijau (green mould), harus ditolak dan dikembalikan ke penjual (supplier). Sementara itu, untuk budi daya, bahan baku seperti kadar air jerami yang terlalu tinggi (lebih dari 25—35%) perlu dikembalikan dan jangan dipakai untuk membuat media tanam (kompos).Kadar air jerami yang terlalu tinggi | akan menganggu proses fermentasi.

Akibatnya, strukturnya menggumpal dan P teksturjerami menjadi lunak sehinga p menyulitkan proses pembuatan media tanam (kompos) serta homogenitasnya tidak sempurna. Kualitas media tanam yang dihasil kan jug a tidak baik sehingga panen jamumya juga tidak sesuai dengan harapan.

Bahan bantu

Bahan bantu adalah bahan pelengkap yang diperiukan dalam pembuatan bibit maupun budi daya jamur. Bahan bantu pembuatan bibit, yaitu kalsium karbonat (CaC03), gipsum (CaSOJ, dan bekatul. Adapun bahan pelengkap yang diperiukan dalam proses budi daya jamur,yaitu kalsium karbonat (CaC03), gipsum (CaS04), bekatul, tanah casing, amonium sulfat (ZA), dan urea.

Berikut diuraikan kegunaan bahan bantu tersebut, baik untuk pembibitan maupun proses budi daya jamur.

  • Kalsium karbonat (CaC02)

Kapur yang juga banyak digunakan dalam pemanfaatan budidaya, baik dalam proses pembuatan bibit maupurS pembuatan pada media tanam, adalah jenisaH kalsium karbonat (CaC03), bukan kapur gamping yang digunakan. Kalsium karbonat juga berperan sangat penting dalam mengatur kadar pH (derajat keasaman) dan juga sumber kalsium yang dibutuhkan oleh miselium jamur. Hampir semua miselium yang ada pada jamur tumbuh denganoptimal pada pH netral (antara 6,5—7)

  • Gypsum (CaC04)
Gypsum Jamur
Gypsum Jamur

Gipsum berfungsi sebagai sumber kalsiuijn Selain itu, gipsum untuk menguraikan bahan baku agar tidak menggumpal dan’fl lengket. Media jamur yang menggumpaljl atau lengket akan mengakibatkan pertumbuhan miselium (kolonisasi) pada media tumbuh menjadi tidak rata. Media yang tidak terurai juga akan 3 mengakibatkan proses anaerob yang menghasilkan bau busuk.

  • Bekatul

Bekatul jamur

Bekatul diperiukan, baik dalam pembuatanj bibit maupun media tanam jamur sebagai tambahan sumber karbohidrat atau karbon dan mineral. Karbon dibutuhkan oleh miselium jamur sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.

Jumlah bekatul yang ditambahkan dalam media bibit jamur tidaklebih dari 10%. Untuk budi daya jamur yang menggunakan bahan bantu berupa bekatul, pemakaiannya antara 15—20% dari jumlah keseluruhan bahan. Jika lebih, media bibit jamur mudah terkontaminasi.

  • Amonium Sulfat (ZA) Dan Urea

Amonium sulfat (ZA) dan urea merupakan salah satu sumber nitrogen anorganik yang sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam melakuakn suatu proses pembuatan media tanam pada tanaman jamur (kompos) untuk melakukan sintesis protein. Penggunaan nitrogen anorganik dalam pembuatan media tanam jamur biasanya tidak lebih dari 10%. C/N rasio yang terlalu rendah akan mengakibatkan media tanam jamur cepat matang sehingga tidak baik untuk jamur.

Bahan Sanitasi

Bahan sanitasi diperlukan, baik dalam proses pembuatan bibit maupun proses budi daya jamur untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan steril dari mikroorganisme yang merugikan. Lingkungan pembibitan yang bersih dan steril akan menurunkan kontaminan yang berdampak pada penurunan bibit jamur yang dibuang (apkir) karena penyakit dan biaya pembuatan bibit jamur pun menjadi rendah atau murah. Bahan sanitasi yang biasa digunakan dalam proses pembuatan bibit jamur adalah formalin 2%, alkohol 70%, kaporit, dan fungisida. Keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperhatikan saat aplikasi bahan sanitasi karena bahan tersebut termasuk berbahaya bagi kesehatan.

Demikian Saran Dan Prasana Memulai Bisnis Jamur.Semoga bermanfaat