Prinsip Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Budi Daya Jamur

Posted on

Prinsip Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Budi Daya Jamur

Selain penerapan aturan higiene secara ketat, tindakan mencegah dan mengatasi berkembangnya hama dan penyakit serta untuk penyelamatan hasil tetap perlu dilakukan dengan menempuh tahap berikut.

1. Eksklusi (pencegahan)

Eksklusi merupakan proses mencegah masuknya inokulum patogen/penyakit pada setiap tahap/proses budi daya jamur

Contoh tindakan:

–    Ruangan dan peralatan yang akan digunakan disterilkan terlebih duhulu dengan bahan kimia. Untuk memastikan steril atau tidaknya, caranya memeriksa melalui isolasi dengan teknik perangkap. Setelah steril, ruangan dipasang filter spora pada tiap lubang angin.

–    Tiap peralatan dan pekerja yang akan masuk ke dalam ruangan yang telah disterilkan tersebut harus dalam keadaan bersih (tidak membawa inokulum patogen).

 –    Melakukan sanitasi lingkungan terdekat dengan tiap ruangan yang digunakan pada tiap tahap proses budi daya A bisporus.

2.    Eradikasi

Eradikasi merupakan tindakan memusnahkan semua patogen yang sudah terlanjur masuk pada tiap tahap budi daya jamur.

Contoh tindakan:

–    Melakukan monitoring secara intensif, terarah, dan terprogram pada tiap tahap budi daya jamur, kemudian memusnahkan inokulan patogen yang lolos/masuk ke dalam rangkaian proses budi daya. Caranya dengan menyemprot inokulum tersebut dengan bahan kimia. Seteiah itu, bagian terserang dengan diameter tertentu dan sedikit bagian yang sehat diambil secara aseptik, kemudian dikumpuikan pada tempat yang aman untuk dibakar.

3.    Proteksi

Proteksi merupakan tindakan melindungi inang dengan berbagai perlakuan terhadap gangguan patogen/penyebab penyakit

Contoh tindakan:

–    Memberikan perlindungan terhadap jamur budi daya dari kolonisasi kompos oleh patogen dengan cara memanfaatkan fungi lain (Humicola insolens/Scytalidium thermophilum) melalui metode inokulasi dan pemilihan carrier (pembawa), serta saat inokulasi yang tepat.

– Mencari alternatif jenis strain jamur yang digunakan yang lebih tahan terhadap patogen.

a. Memanimpulasi empat komponen yang terkait dengan ledakan penyakit, yaitu I (inang), P (patogen), E (environment m lingkungan), dan T (time = waktu)

1) I (inang).

Terkait dengan kualitas dan kuantitas inang. Untuk kuantitas, produksi skala besar menjadi keharusan untuk efisiensi. Untuk kualitas, penggunaan jenis inang (bibit) yang bagus dan menjaga kualitas substrat (bijian-spawn), baik viabilitas maupun bebas dari inokulan patogen.

Adanya inang yang rentan terhadap serangan patogen dapat menimbulkan hama dan penyakit. Untuk jamur kancing, belum dilaporkan upaya merakit fungi tersebut yang tahan terhadap patogen. Selain itu, pilihan jenis yang tidak ada serta kuantitas yang harus dilakukan dalam skala besar untuk efisiensi produksi. Di lapangan, harus diwaspadai dan dicegah bijian-spawn menjadi sumber inokulan patogen, sebagaimana dilaporkan dapat terjadi untuk T. harzianum.

2)    P (patogen).

Jenis patogen sangat banyak dan yang berslfat patogen kebanyakan darl kelas Deuteromycetes. Adanya patogen vlrulen menyebabkan tlmbulnya hama dan penyaklt jamur. Contoh fungi yang patogen terhadap Jamur kandng (A. blsporus), yaltu T harzlanum dan M. pernldosa. Keduanya termasuk kelas Deuteromycetes. Karakteristik fungi kelas tersebut menguntungkan posisl sebagai patogen

3)    E (environment).

Merupakan faktor selain jamur, baik lingkungan abiotlk maupun biotik, dalam hal ini termasuk substrat/kompos. Mengupayakan memanipulasi lingkungan sedemikian rupa sehlngga mendukung pertumbuhan dan perkembangan inang, tetapl tidak menguntungkan bag! patogen. Lingkungan yang tidak terjaga akan mendukung pertumbuhan serta perkembangan patogen dan kurang menguntungkan bag! pertumbuhan dan perkembangan inang. Di lapangan, spawning pada suhu 30° C tidak menguntungkan bag! A. blsporus dan dikhawatirkan pertumbuhan dan perkembangannya terhambat sehlngga makin rentan terhadap serangan patogen.

4)    T (f/me/waktu).

Waktu yang berjalan selama ini telah mengakumulasi potensi penyakit yang awal periode produksi jamur seakan tidak menjadi permasalahan. Oleh karena itu, tiap kasus penyakit yang muncul tiap tahap budi daya jamur harus segera ditangani secara tepat sekecil apapun. Jika tidak, waktu yang panjang menjadikan patogen terakumulasi.

Penyakit meledak jika inokulan awai terlalu banyak/tinggi, laju perkembangan penyakit tinggi, dan waktunya cukup panjang untuk terjadinya akumulasi. Hal ini terutama jika kasus penyakit yang pernah terjadi sebelumnya tidak ditangani dengan baik sehingga inokulan awai melimpah. Inokulan awal yang melimpah juga akan semakin meningkatkan laju perkembangan penyakit sangat berbahaya. Hal itu disebabkan oleh larva yang akan memakan mlsellum dan generasl jamur selanjutnya. Bahkan, larva dapat memakan hingga empat generasi dan akan menyerang areal budi daya. Saat stadia lanjut, serangga hama dapat melubangi jamur.

Jaringan jamur yang diserang lalat akan mudah dikontaminasi oleh fungi. Lalat juga menjadl sarana penyebaran tungau dan spora fungi kontaminan. Serangan lalat dapat terjadi, baik pada substratyang dikomposkan maupun yang dipasteurisasi. Substrat yang disterilkan dalam wadah plastiktertutup dari udara luar jarang dikontaminasi serangga hama.

b. Pencegahan

Monitoring perlu dilakukan agar diperoleh informasi perkembangan populasi hama serangga di lapangan. Ada atau tidaknya serangga hama di tempat budi daya dapat diketahui dengan penggunaan potongan plastik berwarna kuning yang diberi perekat.

Mencegah agar serangga tidak masuk ke dalam areal budi daya jamur adalah langkah terbaik. Caranya dengan memasang kasa pada tiap pintu, jendela, atau lubang angin ruang tumbuh. Selain itu, gunakan lampu perangkap serangga di atas pintu dalam ruang tumbuh jamur. Serangga yang terbang dekat lampu akan mati  tersengat arus listrik. Bahkan, kini ada juga perangkap khusus untuk lalat.

c. Pengendalian

Jika kerusakan hama serangga menimbulkan kerugian ekonomi, pengendalian harus dilakukan. Pengendaliannya dengan menyingkirkan substrat terinfeksi atau menggunakan insektisida.

–    Biologi

Penggunaan insektisida dapat mencegah ledakan infeksi hama serangga. Namun, efek negatif terhadap hasil jamur sering ada. Oleh karena itu, salah satu pengendaliannya dengan cara biologi. Misalnya, sciaris flies dapat dikendalikan dengan dengan nematoda parasit Steirnerma feltiae. Nematoda tersebut merupakan predator alami sehingga akan membunuhnya.

–    Pestisida

Penggunakan pestisida diusahakan seminimal mungkin. Pestisida relatif mahal harganya dan dapat memicu berkembangnya serangga hama yang resisten jika digunakan secara rutin.

Pestisida yang diperoleh dipastikan dikemas baik dan utuh. Penggunaannya harus sesuai dosis anjuran. Selain itu, pengguna mengetahui tindakan yang harus dilakukan jika terjadi keracunan.

ini, uap panas bisa digunakan sebagai sterilisator pengganti formalin. Hidrogen peroksida (H202) diketahui tidak mampu membunuh miselia Trichoderma.

Pestisida sangat beragam kisaran toksisitasnya. Beberapa pestisida meracuni secara cepat pada konsentrasi sangat rendah. Namun, ada juga yang kurang berbahaya. Pestisida sebaiknya diperoleh dalam bentuk kemasan aslinya karena ada secara rinci dan jelas petunjuk penggunaannya. Aplikasi pestisida tersebut sebaiknya digunakan sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

a)    Penyimpanan pestisida

  • Simpan pestisida dalam ruangan atau rak khusus yang dapat ditutup atau dikunci dengan baik.
  • Jangan menyimpan barang-barang lain dalam tempat atau ruang yang sama, terutama makanan, pakan, kain, dan peralatan.
  • Jangan meninggalkan pestisida di luar tempat atau ruang simpan tanpa pengawasan.
  • Buang bekas wadah pestisida dengan baik. Jangan menggunakan wadah yang terkontaminasi pestida untuk menampung air bersih.
  • Simpan pestisida dalam wadah aslinya.

b)    Penggunaan pestida

  • Baca dengan teliti seluruh keterangan pada kemasan sebelum pestisida digunakan. Keterangan pada kemasan seharusnya memuat penjelasan bagaimana menggunakan pestisida secara aman dan tindakan pertolongan pertama jika terjadi keracunan.
  • Jangan mencampur pestisida yang berbeda karena kemungkinan akan terjadi reaksi yang akibatnya sukar diperkirakan.
  • Hati-hati ketika mengencerkan pestisida. Gunakan alat pengencer yang tepat dan gunakan pakaian pelindung, setidaknya sarung tangan karet. Hindari pestida bubukyang terbang tertiup angin.
  • Periksa alat penyemprot dari kebocoran. Jangan menggunakan wadah bocor untuk tempat pestisida.
  • Air bersih, sabun, dan lap harus tersedia pada saat menangani pestisida sehingga bagian tubuh yang terkontaminasi pestisida dapat segera dibersihkan.
  • Jangan menyiapkan atau mengaplikasikan pestisida sambil makan, minum, atau merokok.
  • Cuci tangan setelah menggunakan pestisida.
  • Perhatikan kemungkinan teracuninya ikan, burung, atau hewan lain.
  • Hindari penyemprotan terlalu lama.
  • Jangan pernah mencuci peralatan pestisida dalam saluran air.
  • Menjauhlah dari tanaman yang baru saja disemprot pestisida.

BACA JUGA: Cara Pencegahan Hama dan Penyakit Pada Budidaya Jamur

Demikian Prinsip Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Budi Daya Jamur.Semoga bermanfaat