Pemberantasan Fungi Parasit Dan Saprofit Pada Budidaya Jamur

Posted on

Pemberantasan Fungi Parasit Dan Saprofit Pada Budidaya Jamur

Banyak jenis fungi yang menjadi parasit pada budi daya jamur. Fungi parasit tersebut dapat dikenali dari bentuk dan warna sporofor dan miseliumnya atau berdasarkan gejala yang ditimbulkannya. Penyebab utama infeksi fungi adalah penyiapan substrat yang tidak tepat atau kontaminasi saat spawning.  Beberapa fungi parasit menimbulkan permasalahan selama fase pertumbuhan miselia (spawn run) dengan cara memakan miselia jamur.

Adapun fungi parasit lainnya tumbuh pada jamur.  Serangan berat fungi parasit dapat mengakibatkan jamur tidak dapat dipanen sama sekali. Fungi saprofit berkompetisi dengan miselium spawn untuk mendapatkan nutrisi. Fungi tersebut mampu tumbuh lebih cepat pada substrat sehingga mencegah miselium jamur mengolonisasi seluruh substrat.

1. Chaetomium spp.

Kehadiran fungi ini menunjukkan terdapatnya kondisi anaerobik selama pasteurisasi atau pertumbuhan miselia (spawn run) dan suhu pasteurisasi yang terlalu tinggi. Fungi ini menyekresikan senyawa beracun.

a.Gejala

Olive green mold sering tumbuh pada black spot di kompos, yaitu bagian dari kompos yang tidak ditumbuhi miselium jamur kancing (Agaricus bisporus). Awalnya, miselium Chaetomium berwarna putih keabu-abuan. Jika askuspora terbentuk, fungi ini mudah dikenali dari struktur, seperti kapas berwarna olive green di atas jerami.

b.Pengendalian

Jika telah bersifat endemik atau telah beradaptasi, Chaetomium tidak mungkin untuk dikendalikan. Tindakan yang terbaik adalah mencegah fungi tersebut menginfeksi. Caranya adalah menjaga kondisi yang tepat selama penyiapan substrat.

Kondisi yang cocok untuk Chaetomium, yaitu konsentrasi oksigen <16% disertai suhu pasteurisasi yang relatif tinggi (>62° C) perl u dihindari. Demikian pula, substrat yang terlalu padatatau RH yang relatif tinggi.

2. Cladobotryum apilaticum

Sporanya banyak terdapat dalam tanah. Penyakit ini akan menyebabkan kerusakan yang sangat parah jika kelembapan . ruangan kumbung sangat tinggi.

a. Gejala

Keberadaan patogen ini menyebabkan busuk lunak atau busuk pada tubuh buah.

b.Pengendalian

Tindakan untuk mencegah tersebarnya fungi tersebut pada substrat, antara lain dengan membenamkan sepatu ke dalam desinfektan sebelum dipakai memasuki ruang tumbuh.

3. Cladobotryum spp.

Serangan fungi patogen ini mengindikasikan adanya’udara mati’ dalam ruang tumbuh. Artinya, ada bagian udara yang pergerakannya sangat lambat dengan RH dan suhu relatif tinggi. Patogen tersebut dapat menyebar dengan cepat dan tumbuh sebagai parasit pada miselium jamur.

a.Gejala

Sesuai dengan namanya, struktur mirip cobweb awalnya tumbuh melingkar dari kayu mati atau primordla mati dengan membentuktudung, kemudian menyebar dengan cepat. Patogen menyebar melalui hifa di udara, pemanen, dan serangga. Setelah masak, warnanya menjadi merah jambu kekuningan.

b. Pengendalian

–    Singkarkan batang kayu dan jamur mati dari bedeng atau wadah tanam secara teratur sesudah pemanenan.

–    Semprotkan larutan formaldehid 5% pada bedengan yang menunjukkan gejala serangan cobweb.  –  Gunakan fungisida yang berbahan aktif seperti benomil, karbendazim, atau tiosianat-metil antarwaktu panen pada serangan berat.

4. Coprinus spp.

Keberadaan fungi patogen ini menunjukkan bahwa kandungan amonia substrat terlalu tinggi pada Agaricus (jamur kancing) dan Volvariella (jamur merang). Selain itu, adanya perlakuan panas yang tidaktepat saat pasteurisasi substrat pada budi daya Pleurotus (jamur tiram).

a.Gejala

Spora Coprinus menempel pada substrat yang cocok, kemudian berkecambah dan miseliumnya tumbuh dan berkembang dari dalam atau di atas permukaan substrat. Saat kondisi lingkungan yang cocok, terbentuklah tubuh buah Coprinus dengan batang yang panjang dan tudung berwarna hitam seperti tinta. Pertumbuhan Coprinus sangat cepat sudah mulai terlihat pada saat stadia inkubasi.

b. Pengendalian

Jika tubuh buah telah muncul, sudah sangat terlambat untuk mengendalikan penyakit ini. Pencegahan infeksi penyakit ini pada penanaman selanjutnya adalah dengan menerapkan penyiapan substrat secara tepat, yaitu sebagai berikut.  –    Memperpanjang periode pengondisian untuk Agaricus (jamur kancing).  –    Menurunkan kandungan amonium pada susbtrat Volvariella (jamur merang, dan  –    Memastikan pasteursasi substrat secara tepat untuk Pleurotus (jamur tiram).

5. Gliocladium deliquescens dan , G. virens

Gliociadium deliquecens dan G. virens merupakan spesies dari genus Gliocladium. Umumnya, spesies dari  genus Gliocladium mirip dengan Penicilllium. Kedua genus memiliki fialid yang padat pada ujung percabangannya. Namun, fialid Gliocladium menyangga struktur ramping dengan konidiospora di dalamnya. G. virens dilaporkan mampu tumbuh pada formaldehid 0,2%.

a.Gejala

Patogen menyerang pada tubuh buah jamur dengan cara menutupi tubuh buah jamuroleh miselium patogen sehingga terbentuk titik yang berwarna hijau (green spot). Selain itu, patogen juga menyerang primordia jamur sehingga primordia menjadi lunak, berwarna cokelat, lalu berwarna kuning muda dan akhirnya primordia jamur menjadi busuk. Jika primordia jamur tersebut tahan terhadap serangan patogen, saat menjadi tubuh buah dewasa akan terdapat bercak cokelat yang tertutupi oleh lingkaran yang berwarna kuning.

b.Pengendalian

–    Perhatikan aspek higiene untuk mencegah kontaminasi selama spawning.

–    Gunakan desinfektan selain formalin. Lakukan pengujian pada cawan petri untuk memeriksa kepekaan fungi terhadap desinfektan yang diaplikasikan.

–    Singkirkan segera substrat yang terkontaminasi dari tempat budi daya.

7.    Mucor spp.

Keberadaan fungi ini menandakan kondisi higiene yang buruk selama spawning.

a.Gejala

Permukaan substrat yang terkontaminasi fungi terbentuk black pin.

b.Pengemialian

Periksa pembawa kontaminan. Sumbernya dapat berasal dari pegawai yang baru datang atau substrat yang sterilisasinya tidaktuntas. Jika penyebabnya adalah perlakuan pemanasan yang tidak tepat, sejumlah wadah tanam akan memperlihatkan gejala campuran kontaminan, terutama wadah yang diletakkan sangat padat di dalam autoklaf. Selain itu, periksa lebih teliti apakah kontaminasi disebabkan oleh lubang, retakan pada wadah, atau bukan.

8.    Mycogyne perniciosa

Spora fungi ini dapat diedarkan oleh lalat jamur dan serangga, pekerja, ataupun aliran air. Fungi ini menginfeksi miselium jamur kancing dan mengakibatkan terbentuknya wet bubble. Stadia selanjutnya bubble mengeluarkan sekresi berwarna cokelat kemerahan.

a.Gejala

Penyakit wet bubble membentuk bubble basah.

 

b.Pengendalian

–    Lakukan analisis secara teliti bagaimana infeksi terjadi dan lakukan tindakan yang tepat.

–    Jika terjadi infeksi parah, gunakan fungisida yang berbahan aktif, seperti benomil, karbendazin, atau metil-tiosianat di antara panen.

9. Paecilomyces variotii

Fungi patogen ini relatif tahan panas sehingga masih dapat bertahan pada perlakuan panas di bawah 80° C.

a.Gejala

Paecilomyces variotii menyerang kompos saat stadia inkubasi. Patogen ini berbentuk tepung berwarna putih dan menjadi kompetitor miselium jamur.

b.Pengendalian

–    Pastikan pasteurisasi kompos berjalan sempurna.

–    Segera keluarkan kompos dari kumbung jika terinfeksi patogen ini.

10 .Penicillium spp.

Penicillium merupakan genus yang sangat dikenal. Jumlahnya sekitar 100 spesies. Salah satunya adalah P. chrysogenum yang menghasilkan penisilin. Beberapa spesies dari genus ini menimbulkan permasalahan pada budi daya jamur. Keberadaannya merupakan pertanda bahwa pasteurisasinya tidak tepat atau kondisi tidak steril selama spawning pada substrat steril.

a.Gejala

Patogen ini menyerang akar jamur saat stadia primordia jamur terbentuk. . Patogen ini berbentuk tepung berwarna hijau. Serangan lebih lanjut primordia jamur berwarna cokelat dan akhirnya menjadi busuk.

b. Pengendalian

–    Jaga higienitas di dalam kumbung.

–    Jaga keiembapan ruangan kumbung. Jangan sampai terlalu lembap, terutama saat pembentukan primordia jamur.

11.Penicillium chermesinum

Konidiospora Penicillium chermesinum sangat kecil (< 2 pm). Adapun suhu optimum untuk pertumbuhan miselianya adalah 28° C.

a.Gejala

Ciri khas fungi ini adalah memiliki banyak konidiospora sehingga kompos yang terkontaminasi seperti mengeluarkan debu beterbangan jika disentuh. Miselium awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi cokelat. Infeksi fungi ini dapat menurunkan hasil jamur hingga 80%.

b.Pengendalian

–    Jaga kondisi higienis selama spawning.

–    Segera singkirkankan substrat yang terinfeksi.

12.Sibirina fungicola

Dapat disebarkan melalui sisa-sisa materi  organik.

a.Gejala

Sibirina fungicola menyerang saat stadia primordia jamur terbentuk. Patogen ini berbentuk tepung berwarna putih menyerang mulai batang dan tudung. Serangan lebih lanjut primordia jamur akan berwarna kecokelatan dan akhirnya menjadi busuk.

b. Pengendalian

Tindakan terbaik adalah mencegah  penyakit ini dengan menjaga kebersihan.

13.Trichoderma spp.

Green moulds yang disebabkan oleh patogen genus Trichoderma lazim berjangkit pada budi daya jamur. Spesiesnya, yaitu T. reseei, T. viride, T. harzianum, T. aeroviride, T. pseudokoningii, dan T. hamatum. T. viride adalah parasit yang ditakuti pada budi daya jamur shiitake di wilayah timur jauh. Sementara itu, T. harzianum dan T. viride umumnya menyerang budi daya jamur shiitake, Agaricus (jamur kancing), dan Pleurotus (jamur tiram). Namun, strain dari genus Trichoderma saat ini telah diteliti potensinya sebagai biofungisida.

Jika Trichoderma diinokulasikan pada substrattanpa Agaricus, kolonisasi tidak mudah terjadi.  Spesies tersebut sukar dibedakan secara makroskopik. Perbedaannya hanya dapatdiamati secara mikroskopik. T. viride memiliki warna koloni yang sedikit lebih geiap dibandingkan dengan koloni spesies lain. Sebagian besar Trichoderma berubah warna menjadi hijau setelah mulai membentuk konidiospora. Awalnya, miselia berwarna keputih-putihan dan sukar dibedakan dari miselia jamur. Sporanya lengket dan mudah terbawa lalat serta kutu, bahkan pemanen jamur ke area yang sebelumnya tidak terinfeksi.

a.Gejala

Trichoderma dapat ditemukan berupa bercak-bercak hijau pada jamur yang mati, substrat potongan kayu, tanah casing, kompos, substrat yang disterilkan ataupun yang dipasteurisasi, maupun potongan kayu yang masih segar. Jika hanya sebagai saprob atau bercak yang jarang, Trichoderma tidak menimbulkan kerusakan. Meskipun menimbulkan kerusakan, hanya sedikit.  Serangan Trichoderma menimbulkan permasalahan utama dalam budi daya jamur jika terjadi infeksi substrat oleh spora fungi parasit dalam kurun satu minggu sesudah spawning. Sekali terjadi infeksi, akan dihasilkan jutaan spora yang menginfeksi substrat-substrat pada bedeng budi daya.  Jika Trichoderma parasit menginfeksi mulai dari spawning, serangannya dapat mencakup seluruh area budi daya. Miselium jamur mati karena zat beracun dan enzim hidrolitikyang dihasilkan miselium Trichoderma. Trichoderma juga mampu tumbuh di sekeliling hifa jamur, bahkan menginvasinya.

b.Pengendalian

– Singkirkan substrat terkontaminasi  sesegera mungkin dan letakkan pada  jarakyang cukup jauh dari area budi at tidak dapat lagi diselamatkan jika terinfeksi berat.  Lakukan spawning di dalam ruang yang sudah dilakukan desinfeksi.

–    Hindari peletakkan wadah berisi substrat dalam ruangan yang konsentrasi sporanya tinggi karena dapat terinfeksi.

–    Gunakan Deosan Super dan Aldecol sebagai desinfektan jika terinfeksi berat.

–    Hindari penggunaan fungisida benomyl karena sudah tidak lagi mampu mengatasi serangan Trichoderma.

–    Periksa dan bersihkan semua barang, termasuk manusia, yang selalu kontak dengan substrat yang sudah di-spawn.

14.Verticillium fungicola var. fungicola

Verticillum fungicola var. fungicola dapat menyebabkan penyakit dry bubble: .1 Penyakit tersebut saat ini umum terjadi pada budi daya jamur di Belanda.  Potensi kerugian yang ditimbulkannya dapat mencapai 0,5% dari ekspor jamur Belanda.  Fungi patogen tersebut menghasilkan hanya satu macam konidia dan secara mikroskopis mudah dibedakan dari konidia Mycogonepemidosa. V. fungicola tidak tumbuh pada kompos, tetapi masuk melalui tanah casing. Penyakit cepat menyebar pada jamur, terutama jika suhu ruang tumbuh di atas 20° C.

a.GejaJa

Jamur yang terserang penyakit ini menjadi bervariasi ukurannya, dari sekecil biji kapri hingga sebesar buah anggur.  V. fungicola var. fungicola menyerang jamur kancing (A bisporus). Namun, fungi patogen tersebut tidak menyerang A bitorquis. Gejala dry bubble juga bervariasi tergantung strain jamur yang ditanam.  Oleh karena penyebarannya yang cepat, kerusakan yang ditimbulkan oleh V. fungicola sangat signifikan. Jamur yang terinfeksi berubah warna menjadi keabu-abuan dan tidak dapat dijual.  Jika terinfeksi pada stadia awal (stadia pinhead), jamur akan berbentuk seperti bawang, yaitu batangnya lebih tebal ‘ dibanding tudungnya. Akibatnya, sukar dibedakan antara batang dengan tudung jamur.

Infeksi tahap lanjut, batang menjadi bengkok karena sel-sel berhenti tumbuh. Selain itu, akan terlihat bulukan berwarna kelabu di bagian atas tudung, kadang terbentuk pustul-pustul atau bengkak- | bengkak pada tudung. Warna tudung f dapat berubah menjadi cokelat muda atau terdapat bercak-bercak lebar berwarna cokelat muda (verticillium spot), Gejala bercak lebar tersebut kadang tertukar dengan gejala blotch-bakteri yang warnanya lebih tua dan mengilap, di permukaan tudung. Borcak lebar pada vertidlium spot kusam, berwarna cokelat seperti chesnut, dan lebih dalam penetrasinya pada jaringan jamur (lesio nekrotik). Selain itu, jamur tetap kasar dan tidak ada busuk.

b.Pengendalian

–    Utamakan pencegahan melalui pemeliharaanhigiene dalam budi daya jamur.

–    Kendalikan serangga kecil pada area budi daya, terutama lalat.  Pasang filter spora pada saluran pemasok udara dan ventilasi.

–    Siapkan tanah casing dengan hati-hati, termasuk wadah yang digunakan.

–    Kendalikan infeksi lokal dengan menyemprotkan formalin 2%.

–    Singkirkan jamur-jamur yang terinfeksi.

–    Gunakan fungisida sistemik, seperti benomyl, carbendazim, atau thiophanat-methyl selama musim tanam berjalan jika terjadi infeksi serius atau infeksi sering terjadi.

–    Segera aplikasikan chlorothalonil sesudah casing dan satu minggu sebelum panen.

Lakukan penyemprotan dengan prochloraz pada sembilan hari setelah casing jika ada perlakuan formalin dan terjadi infeksi serius.Pastikan jamur terinfeksi tidak dipanen bersamaan dengan jamur sehat. Tempatkan jamur terinfeksi dalam wadah terpisah dari jamur sehat dan segera singkirkan.

–    Tangani jamur pada area budi daya dengan arah yang tepat, yaitu dari bedeng yang lebih muda ke bedeng yang tua.

–    Perhatikan ‘pemasakan’ kompos secara benar, yaitu selama 12 jam dengan suhu kompos (bukan suhu ruang) 70° C.

Baca Juga: Cara Pemberantasan Hama Dalam Budidaya Jamur

Demikian artikel tentang Pemberantasan Fungi Parasit Dan Saprofit Pada Budidaya Jamur.Semoga bermanfaat