Cara Mengatasi Kontaminasi Pada Budidaya Jamur

Posted on

Dua hal yang menentukan kualitas spawn adalah bebasnya dari kontaminan dan baiknya pertumbuhan. Tidak bebasnya pawn dari kontaminan ditunjukkan oleh adanya infeksi. Jika ditemukan infeksi pada spawn, hendaknya dicatat stadia terjadinya infeksi dan ditelusuri bagaimana kontaminan dapat masuk ke dalam sistem penyediaan spawn sehingga menimbulkan infeksi.
Bibit semai terkontaminasi. Tidak dapat digunakan lagi sebagai bibit semai
Pembawa kontaminan budi daya jamur, di antaranya pekerja, udara, media, peralatan, inokulum, dan pembawa kontaminan yang aktif bergerak. Secara umum, stadia penyiapan spawn adalah sterilisasi, inokulasi, dan inkubasi. Peran pembawa kontaminan pada tiap stadia penyiapan spawn ditunjukkan dalam tabel berikut ini:

Stadia Peparasi Spawn

Pembawa kontaminan

Sterilisasi

Media
dapat mengandung kontaminan bila sterilisasinya tidak sempuma.

 

Udara tidak bersih dapat masuk jika suhu
saluran sterilisasi mendingin.

 

Inokulasi

Inokulum tampaknya
hanya terdiri atas inokulum saja, padahal juga dapat membawa
kontaminan.

 

Udara dapat memasukkan spora yang tidak dikehendaki pada saat wadah
spawn dibuka untuk
inokulasi.

 

Pekerja tanpa
sengaja dapat menyentuh bagian yang salah dari wadah
atau inokulum spawn, tangan kotor dapat mengakibatkan
kontaminasi dalam proses inokulasi spawn.

 

Alat yang tidak tersterilisasi dengan baik dapat membawa
kontaminan.

 

Inkubasi

Udara dapat masuk ke dalam
cawan petri yang tidak terlapisi plastik elastis dengan baik, akibat perubahan tekanan atmosfer dan fiuktuasi suhu.

 

Pembawa yang aktif
bergertak, seperti laba-laba, lalat, atau hewan lain, dapat membawa spora atau potongan
miselia. Oleh karena itu, perlu
dipasang kawat nyamuk dan penyaring
udara untuk menghalau serangga atau hewan lain.

 

Menentukan penyebab kontaminan kurang penting dibandingkan dengan mengetahui kapan dan bagaimana infeksi terjadi. Meskipun demikian, macam kontaminan dapat memberikan gambaran kesalahan apa yang telah terjadi. Kondisi tidak higienis seiama inokulasi dapat mengakibatkan berbagai jenis fungi mengontaminasi jamur budi daya.

Kontaminasi oleh fungi biasanya dapat dikenali dari warna dan tipe miseliumnya, dan segera dapat dikenali zona berbeda antara miselium yang diinokulasikan dengan kontaminan. Kontaminan yang sangat lazim adalah Penicillium dan Aspergillus. Oisarankan mensteriikan wadah yang terkontaminasi, membuka, serta hanya membersihkannya sesudah proses sterilisasi.

Sterilisasi yang kurang sempurna Bering menyebabkan meledaknya serangan bakteri. Bakteri lebih sukar dideteksi dibandingkan dengan fungi. Bakteri mudah berkembang pada spawn bijian. Jika tidak terdeteksi pada stadia sebelum inokulasi akhir, semua spawn yang dihasilkan dari botol kultur induk yang terkontaminasi tidak dapat digunakan.

Pemeriksaan kualitas spawn harus dilakukan terus-menerus, terutama wadah yang diinokulasi serta menjaganya secara ketat agar tetap higienis. Kualitas , spawn buruk karena hal-hal berikut.

  • Strain yang digunakan sudah terdegenerasi seiama proses perbanyakan.
  • Strain yang digunakan telah terinfeksi. virus.
  • Spawn tidak disimpan secara tepat , (suhu teriaiu panas atau terlalu dinginl atau substrat dalam wadah sudah ; mengering).
  • Spawn tidak hanya mengandung miselium jamur, tetapi juga terdapat J organisme lain dalam substratnya, seperti bakteri

Degenerasi hingga saat ini sukar dilacak.Tanda terjelas degenerasi strain adalah miselia tidak lagi memiliki kemampuan tumbuh baik dan terbentuk bagian-bagian spawn seperti kapas.

Spawn yang sudah ada bagian seperti v kapas hendaknya disingkirkan.

Spawn yang baik memperlihatkan pertumbuhan miselia yang pesat dan tidak mengandung organisme lain. Jika spawn telah disimpan lama, vigornya akan berkurang. Meskipun demikian, sebaiknya memberikan masa istirahat bagi miselium antartransferyang berkelanjutan. Menyimpan miselium dalam lemari pendingin seiama beberapa bulan lebih baik dibandingkan dengan perbanyakan vegetatif terus-menerus secara cepat. Cara yang paling baik adalah dengan mulai menggunakan kultur induk yang baru tiap tiga bulan.

Alat-alat logam, seperti jarum inokulasi, pinset, pisau, dapat disterilkan dengan membakarnya hingga membara. Wadah gelas yang sudah disterilkan dalam oven atau autoklaf, ketika akan digunakan sebaiknya disterilkan kembali ujung mulutnya dengan memanaskannya beberapa saat di atas api.