Cara Membuat Kompos Untuk Budidaya Jamur Kancing

Posted on

1) Menentukan formula kompos Formula kompos dibuat bertujuan untuk menjadi acuan dalam pembuatan kompos dan menetapkan komposisi perbandingan bahan baku dan bahan bantu. Tujuannya agar menghasilkan kompos yang sesuai dengan syarat tumbuh jamur kancing. Berikut ini adalah contoh formula kompos untuk jamur kancing.

– Jerami    600 kg

– Kotoran ayam 72 kg

2)    Menyiapkan bahan baku dan bahan bantu

Bahan baku (jerami, ampas tebu, daun tebu, dan tebon jagung) dan bahan bantu (kotoran ayam, kotoran sapi, biji kapuk, urea, gipsum, bekatul, dan CaC03) disiapkan. Selanjutnya bahan-bahan tersebut ditimbang sesuai dengan resep formula yang telah ditetapkan.

3)    Pembasahan bahan baku

Jerami atau bahan baku lainnya terlebih dahulu dilakukan pembasahan sampai kadar airnya mencapai 75%. Selanjutnya jerami dibuat tumpukan dengan lebar 1—2 m, tinggi 1,5 m, dan panjang disesuaikan dengan jumlah bahan.

4)    Pencampuran bahan bantu Bahan bantu, seperti kotoran ayam, biji kapuk, urea, gipsum, dan CaC03 dicampur sampai merata. Pencampuran dapat dilakukan secara manual (sekop) atau penggunaan mesin pencampur (mixer).

5)    Pencampuran bahan baku dan bahan bantu

Campuran bahan bantu diletakkan di atas tumpukan jerami secara merata. Setelah itu, jerami dan campuran bahan bantu dibolak-balik dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan dengan menggunakan alat gancu sampai merata. Grinya, tidak terlihat adanya campuran bahan bantu. Campuran jerami dan bahan bantu tersebut kemudian dibuat tumpukan seperti semula.

6)    Fermentasi

Tumpukan kompos dibiarkan selama 2—4 hari. Tujuannya agar kompos mengalami fermentasi yang ditandai dengan naiknya suhu kompos mencapai 60—70° C.

7)    Pembalikan kompos Pembalikan kompos dilakukan setiap

2—3 hari sekali. Tujuannya agar kompos menjadi homogen (merata), baik secara fisik kompos (kadar air, struktur, dan tekstur kompos), kimia (pH, amoniak, karbon, nitrogen, rasio C/N, dan abu), dan biologi (mikrobiologi seperti bakteri, actinomycetes, Humicola, dan Torula).

8)    Kompos siap pasteurisasi

Kompos slap dipasteurisasi biasanya setelah mengalami fermentasi selama 14—20 hari dengan sistem pengomposan tradisional atau selama 7—8 hari dengan sistem pengomposan modern. Ciri-ciri kompos siap pasteurisasi adalah warna kompos cokelat kehijauan; kadar air kompos 70—74%; pH 7,5—8,5; tekstur lentur dan tidak lunak; dan struktur terurai.

Mengatur rasio karbon (C) dan Nitrogen (N) selama pengomposan

Salah satu indikator optimalnya kompos adalah kandungan C dan N-nya. Nitrogen yang terkandung dalam bahan mentah I kompos sukar diserap oleh jamur. Pengomposan mengubah nitrogen menjadi bentuk yang dapat diserap oleh jamur. Pengomposan juga menguraikan sumber C dari bentuk kompleks menjadi bentuk yang febih sederhana sehingga tersedia bagi jamur.

Rasio C/N lazim dipakai sebagai indikator asal, kematangan, dan kestabilan bahan organik. Rasio yang diinginkan sebaiknya tidak lebih dari angka 20. Nilai tersebut menunjukkan kematangan dan kestabilan bahan organik.

Jika rasio C/N selama pengomposan >30, laju immobilisasi melebihi laju mineralisasi. Dengan demikian, kebutuhan N mikroba tidak terpenuhi oleh N dalam bahan organik sehingga mikroba mengimmobilisasi N terlarut (N-anorganik) ke dalam proteinnya. Dekomposisi bahan organik dengan rasio C/N <20 menunjukkan bahwa iaju mineralisasi lebih tinggi dari laju immobilisasi. Akibatnya, terdapat keiebihan hasil mineralisasi, yaitu berupa N tersedia (N-anorganik terlarut).

Untuk kompos jamur (A bisporus), terlihat bahwa rasio C/N kompos 17:

1 memenuhi kebutuhan seluler jamur untuk tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga panen yang dicapai bisa maksimal. Untuk menyiapkan substrat dari bahan organik dengan rasio C/N
awal tinggi, seperti kulit kayu, jerami, dan serbuk gergaji, N dapat diberikan dalam bentuk pupuk anorganik untuk mencukupi kebutuhan selama proses dekomposisi.

Penyebab kesulitan pengukuran akurat rasio C/N dan kebutuhan optimum N dalam pengomposan adalah sebagai berikut.

a). Sebagian C dalam substrat ada daiam bentuk lignin dan senyawa lain yang tahan terhadap dekomposisi mikrobial. Kelompok senyawa ini hanya sedikit yang terdekomposisi dalam waktu yang lama.

b)    Sebagian N tidak tersedia, seperti protein tipe keratin.

c)    Dapat terjadi fiksasi N melalui perantara bakteri penambat N yang hidup bebas, seperti Azotobacter spp, terutama substrat yang berfosfat

Upaya yang dapat dilakukan dalam menghadapi kesulitan pengukuran akurat rasio C/N dan kebutuhan optimum N dengan mengusahakan homogenitas bahan dasar kompos. Caranya dengan menyeleksi dan mencatat bahan dasar serta komposisi kompos sekaligus dengan lingkungan. Misalnya, perbedaan jerami yang diperoleh dari suatu lokasi saat musim kemarau atau musim hujan.

Hal tersebut terkait dengan jasad renik yang menyertai. Pencatatan terus dilakukan pada tiap tahap yang dilalui oleh bahan dasar dan komposisi kompos tersebut hingga jamurdipanen. Hasil catatan ini menjadi rujukan kriteria perolehan bahan dasar kompos yang mendukung diperolehnya hasil panen jamur yang maksimal dan stabil.

<± Parteurisasi^kpmpos Tujuan pasteurisasi kompos adalah untuk membuat kompos selektif. Pasteurisasi kompos untuk jamur kancing biasanya dilakukan di dalam tunnel. Proses pasteurisasi kompos dapat menggunakan energi dari kompos itu sendiri atau dengan bantuan uap panas (steam). Biasanya pasteurisasi kompos untuk jamur kancing pada suhu 58—60° C selama 6—8 jam. Setelah proses pasteurisasi kompos selesai, dilakukan pengondisian suhu kompos (conditoning). Hal itu dilakukan pada suhu 48—50° C selama minimal 72 jam.

Secara umum, kompos yang baik bagi jamur dari hasil pasteurisasi adalah kompos yang memiliki karakteristik bebas amonia, terdapat fungi termofilik Scytalidium thermophilum, pH berkisar 7—8, dan rasio C/N 17:1. Jika nilai rasio C/N tidak dapat dicapai, usahakan untuk didekati atau setidaknya sekitar 16—18.