Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Posted on

Penyediaan bibit jamur merupakan salah satu penentu keberhasilan panen. Jaminan kualitas bibit yang dibeli bisa meragukan. Oleh karena itu, melakukan pembibitan sendiri dapat menjaga dan menjamin kualitas dan ketersediaan bibit.

bibit jamur merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam budi daya jamur selain faktor-faktor yang lainnya. Bibit jamur yang berkualitas baik dapat menghasilkan produksi yang optimal pada waktu panen.

Terdapat perbedaan mendasar antara produksi ‘bibit’ untuk budi daya jamur dengan ‘benih’untuk budi daya tanaman. Benih tanaman dihasilkan melalui sikfus lengkap pertumbuhan tanaman, yaitu dari benih hingga diperoleh benih kembali. Bibit jamur lazimnya adalah miselia. Miselia bebas kontaminan tersebut dicampur atau ditumbuhkan pada suatu substrat/media tanam.

Miselium lebih dipilih sebagai bahan penanaman secara komersial daripada spora yang sebagai organ perbanyakan jamur secara alami. Hal tersebut karena ukuran spora kedl se hingga sukar ditangani dan karakteristik genetik spora dapat berbeda dari tetuanya. Di samping itu, spora jamur memerlukan waktu berkecambah lebih panjang dari spora kompetitor, seperti mould. Jika digunakan sebagai bahan penanaman, spora akan kalah bersaing dengan kompetitor yang akan lebih cepat mengolonisasi substrat Reproduksi jamur secara fragmentasi memungkinkan dilakukannya perbanyakan miselia secara cepat tanpa harus menempuh secara lengkap siklus seksual jamurnya. Hal ini sangat memudahkan dalam penyediaan bibit jamur. Berikut proses pembuatan bibit jamur yang terdiri dari pembuatan kultur/ biakan murni (mother culture), pembuatan bibit induk (starter culture), dan pembuatan bibit semai (ready spawn).

A. PEMBUATAN KULTUR MURNI

Biakan induk jamur tidak langsung ditumbuhkan dari spora karena potensi genetik spora tidak selalu sama dengan potensi genetik induknya. Oleh karena itu, kultur induk diisolasi dari tubuh buah asal spora terpilih yang diseleksi.

Pembuatan kultur murni jamurtidak lebih dari menempatkan miselium jamur yang dikehendaki pada substrat steril yang cocok pada kondisi aseptik.

Pembuatan kultur murni jamur kancing meliputi pembuatan media tanam, inokulasi, dan inkubasi.

Pembuatan Media Biakan

Tahap pertama produksi spawn selalu dilakukan pada media buatan/artifisial yang mengandung cukup nutrisi untuk pertumbuhan jamur. Beberapa contoh media biakan dan komposisinya sebagai berikut.

Media Biakan

Komposisi

Media agar dekstrosa
kentang
(Potato Dextrose Agar)

 

Kentang 200 g -Agar 20 g

Dextros atau
gula pasir 20
g

Air

MEA (Malt Extract Agar)

 

0,4 I larutan
Malt

0,8 I air

15 g bubuk agar

Media agar Czapek
(Czapek
agar)

 

30 g sakarose

2—3 g NaNOj

1 g K2HP04

0,5 g KCI

0,5 g MgS04.7H20
.

0,01 g FeS0„.7H20

Media agarYpSs (YpSs agar)

 

IgK2HPO,

0,5 g MgS04.7Hj0

0,4 g ekstrak ragi

15 g pati

1 1 air

15 g agar

Media biakan yang paling banyakdan umum digunakan untuk perbanyakan kultur murni, yaitu media PDA (Potato Dextrose Agar).

Pembuatan PDA.

Media PDA dapat diperoleh di toko-toko penjual bahan kimia, tetapi harganya cukup mahal. Namun demikian, media tanam tersebut juga dapat dibuat sendiri dengan cara yang sederhana menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dan berharga murah. Berikut bahan, alat, dan cara membuat media tanam PDA.

1.Bahan

–    Kentang 200 g

–    Agar 20 g

–    Dextros atau gula pasir 20 g

–    Air 1 I

2.Alat

–    Tabung reaksi

Tabung reaksi digunakan sebagai wadah membuat agar miring [agarslant) i, yang tujuannya memperluas permukaan J media.

–    Cawan petri

Cawan petri memiliki permukaan yang lebih luas bagi miselia untuk tumbuh. Digunakan pada tahap sesudah penumbuhan pada agar miring.

Cara Membuat

a) Kupas kentang, lalu cuci bersih dan potong-potong dengan bentuk kubus atau persegi panjang. Setelah itu, rebus kentang dengan sebanyak 11 sampai mendidih.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

b) Saring kentang dan ambil airnya, lalu tambahkan air lagi sampai volumenya 11, kemudian didihkan kembali. Masukkan agar dan dextros atau gula pasir, lalu aduk sampai merata hingga mendidih.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Sterilisasi media biakan

Setelah media biakan tersedia, tahapan selanjutnya adalah sterilisasi media biakan. Media biakan digunakan dalam keadaan cair atau dipadatkan. Karena berupa cairan pada proses pembuatannya, media perlu disterilisasi. Caranya, media diisikan ke dalam wadah terlebih dahulu sebelum disterilisasi sesuai dengan kebutuhan, yaitu tabung reaksi (sekitar ‘A tinggi tabung) atau cawan petri gelas (tinggi cairan sekitar 3—5 mm).

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Sterilisasi media biakan beserta wadah umumnya menggunakan autoklafpada suhu 12l°Cdan tekanan 1 atm selama 20—30 menit. Setelah diautoklaf, media dalam wadah dibiarkan memadat pada suhu kamar. Tabung reaksi

diletakkan agak miring saat media masih cair sehingga permukaan agar menjadi miring. Kemiringan tabung diatur agar media tidak menyentuh sumbat kapas karena dapat mengakibatkan kontaminasi.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Apabila akan dipakai, media perlu dididihkan terlebih dahulu dan dituangkan ke dalam cawan petri plastik dalam kondisi aseptik, misalnya dalam laminar air flow. Selanjutnya media dikeluarkan untukdidinginkan. Setelah dingin, media siap digunakan.

Pemilihan Tubuh Buah Induk

Pemilihan tubuh buah jamur induk.Agar di dapatkan miselium muda dan vigor sehingga bibit jamur yang dihasilkan berkualitas, harus dipilih jamur yang bersifat unggul. Ciri jamur bersifat unggul adalah sebagai berikut.

a)    Jamur berukuran besar, tebal, dan kokoh.

b)    Tidak terserang hama dan penyakit.

c)    Jamur tidak mengalami kelainan fisik.

Isolasl dan Inokulasi

Setelah pemilihan jamur, proses selanjutnya pengambllan dan penanaman eksplan (Isolasl dan inokulasi). Keglatan Isolasl Jamur sebalknya dilakukan di dalam laminar air flow (LAF) atau di dalam boks inokulasi. Eksplan jamur yang digunakan adalah baglan antara batang dan tudung jamur karena bagian tersebut memiliki daya tumbuh yang baik.

Adapun alat dan bahan serta proses isolasl dan Inokulasi pembuatan kultur jamur adalah sebagai berikut.

Bahan dan alat:

–    Jamur segar

–    Alkohol 70%

–    Media steril (agar miring atau media dalam cawan petri)

–    Skalpel

–    Bunsen

–    Laminar air flow (LAF) ata u boks inokulasi

Cara pengambilan (isolasi) dan penanaman eksplan (inokulasi) jamur adalah sebagai berikut.

1)    Cuci jamur yang akan diisolasi (jamur unggul segar) terlebih dahulu, kemudian kering-anginkan.

2)    Semprot laminar atau meja bersih dengan larutan alkohol 70% sampai merata. Setelah kering, nyalakan bunsen di dalam laminar atau meja bersih.

3)    Sterilkan skapel. Caranya, benamkan skalpel di dalam alkohol, kemudian panaskan pada nyala api sampai membara. Setelah itu, biarkan 10 detik agar skapel dingin kembali.

4)    Potong jamur memanjang kanan-kiri dengan tangan atau belah jamur menjadi 2 bagian. Usahakan tangan tidak menyentuh bagian dalam jamur karena dapat menyebabkan kontaminasi. Hindari pemotongan dengan menggunakan pisau karena kontaminan dapat menempel pada pemukaan pisau.

5)    Ambil eksplan dengan skapel steril. Caranya, sayat bagian antara batang dan tudung permukaan, yaitu bagian yang mempunyai daya tumbuh yang baik. Khusus jamur kuping adalah bagian yang berlendir. Penyayatan cukup 2 mm x 2 mm dari jaringan dari bagian dalam jamur. Pastikan bagian luar jamur tidak terbawa karena dapat menyebabkan kontaminasi.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

6)    Dekatkan mulut tabung reaksi berisi media agar miring pada nyala api untuk membunuh jasad renik yang tidak diinginkan, kemudian buka sumbatnya. Jika digunakan cawan petri, dekatkan bagian pinggir tutup cawan pada nyala api.

7)    Masukkan potongan jaringan di ujung skapel ke dalam tabung/cawan petri. Letakkan potongan jaringan

di tengah-tengah permukaan agar miring.

8)    Segera tutup kembali tabung/cawan petri, lalu dekatkan dengan api.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Inkubasi

Media yang telah diinokulasi diinkubasi pada jamur kuping, dan jamur shiitake; suhu 22—25° C untuk jamur kandng; dan suhu 30—32° C untuk jamur merang selama 10 hari atau sampai media penuh j terkolonisasi oleh miselium. Miselium mulai tumbuh pada hari ke-3 setelah inokulasi untuk jamur shiitake dan jamur % kancing atau hari ke-2 untuk jamur merang, dan jamur tiram. Miselium akan 1 menutupi jaringan dan membentuk cabang-cabang pada permukaan media ‘% dan tumbuh sempurna selama 14—21 harpj untuk jamur kancing dan jamur shiitake, 9 selama 10—14 hari untuk jamur tiram darnfl jamur kuping dan selama 7—10 hari untukll jamur merang.

Miselium jamur harus berwarna putih dan tumbuh dari jaringan yang diinokulasi. Jika bagian lain dari permukaan media tumbuh miselia berwarna kuning, biru, hijau, atau kelabu, itu adalah fungi kontaminan. Kontaminan bakteri sering diperlihatkan 9 oleh tumbuhnya koloni berwarna krem 1 mengilap. Biakan jamur masih dapat diselamatkan dari kontaminan jika miselia jamur tidak bersentuhan dengan J kontaminan sehingga biakan dapat dipotong dan dipindahkan ke agar miring baru. Jangan pernah mencoba memindahkan kontaminan dari media biakan. Jika hal tersebut dilakukan, yang terjadi justru tersebarnya spora kontaminan di seluruh permukaan media biakan.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

B. Pembuatan Bibit INDUK

Selanjutnya kultur murni jamur dapat dibuat biakan bibit induk jamur yang banyak. Pastikan kultur murni tersebut mempunyai pertumbuhan miselium dengan vigoritas yang baik, memenuhi seluruh media tanam agar, media agar tanam tidak kering, umur kultur murni tidakterlalu tua, dan kultur murni tidak terkontaminasi mikroorganisme lain seperti cendawan ataupun bakteri.

Pembuatan biakan bibit semai tersebut dapat dilakukan pada media agar atau non-agar yang menjadi sumber inokulum dalam wadah yang lebih besar. Contoh media non-agar adalah biji-bijian.

Bibit induk merupakan turunan pertama (F1) dari kultur murni. Kualitas bibit induk jamur akan dipengaruhi oleh kultur murni jamur yang digunakannya. Apabila kultur murni jamur yang digunakan baik, diharapkan bibit induk jamur yang dihasilkan akan baikjuga. Transfer biakan terus-menerus tidak mungkin dilakukan karena miselia akan terdegenerasi pada generasi transfer tertentu. Untuk mentransfer, sebaiknya tidak lebih dari delapan kali dari biakan asal.

Prinsip pembuatan bibit induksama dengan proses pembuatan kultur murni jamur, yaitu pembuatan media tanam, inokulasi, dan inkubasi.

Pembuatan Media

Pembuatan media bibit induk dapat menggunakan biji-bijian ataupun serbuk kayu/gergaji. Selain itu, bisa pula digunakan substrat kayu, ampas tebu, atau sekam sebagai media untuk budi daya jamur. Media yang biasa digunakan adalah biji-bijian dan serbuk kayu.

Keuntungan utama penggunaan bijian adalah nutrisi yang optimal bagi spawn dan mudah didistribusikan secara merata di dalam substrat. kelemahan utamanya adalah bijian merupakan substrat yang sangat baik bagi jasad renik lain. Oleh karena itu, kemungkinan kontaminasinya juga lebih besar dibandingkan dengan spawn serbuk gergaji atau batang kayu.

Media Biji-bijian

Keuntungan utama penggunaan bijian adalah nutrisi yang optimal bagi spawn dan mudah didistribusikan secara merata di dalam substrat. kelemahan utamanya adalah bijian merupakan substrat yang sangat baik bagi jasad renik lain. Oleh karena itu, kemungkinan kontaminasinya juga lebih besar dibandingkan dengan spawn serbuk gergaji atau batang kayu.

Biji gandum, sorgum, beras, rye, ataupun millet dapat digunakan untuk spawn. Beberapa pengusaha lebih menyukai millet karena bijinya tidak hancur jika disterilkan lebih lama. Biji gandum tidak dapat disterilkan lama.

Bijian yang berkualitas sangat penting. Cirinya adalah seragam (bentuk, warna, dan varietas), memiliki patahan yang hanya sedikit, tidak berlubang akibat dimakan oieh hama, tidak dikolonisasi oleh cendawan, endospora bakterinya sedikit, campuran bukan bijiannya sedikit, kadar air bijian kurang dari 12%, dan masa simpan tidak terlalu lama (baru dipanen).

Kadar air bijian untuk mother spawn sebaiknya sekitar 42—50%. Jika terlalu tinggi, miselia dapat tumbuh lebih cepat tetapi bahaya kontaminasi bakteri juga semakin besar. Jika kadar air bijian kurang dari 35%, pertumbuhan miselianya akan lebih lambat. Ada tiga metode persiapan bijian untuk spawn disertai dengan kekurangan dan kelebihannya lihat tabel berikut ini:

Metode

 

Kelebihan

 

Kekurangan

 

Bijian
dimasak dalam air mendidih, lalu dimasukkan ke dalam wadah dan disterilkan.

 

Kadar
air substrat lebih seragam dan konsistensinya lebih terjamin.

 

Butuh
penanganan lebih dibandingkan dengan metode 2 dan 3.

 

Bijian
kering dimasukkan ke dalam wadah, ditambahkan air secukupnya, lalu dibiarkan
semalam dan disterilkan.

 

Metode
satu tahap. Endospora tahan panas akan berkecambah sehingga lebih peka
terhadap prosedur sterilisasi.

 

Berisiko bahaya
karena distribusi kadar air tidak pasti merata dan bijian dapat pecah.

Bijian
kering dimasukkan ke dalam wadah, ditambahkan air pan as hingga aimya
berlebih, lalu dibuang airnya setelah 8 jam, dan disterilkan.

 

Metode
yang mudah. Kurang berisiko bijian pecah. Distribusi kadar air merata.

 

Bijian
dapat terlalu kering, prosesnya memakan waktu.

 

Substrat spawn dalam wadah kemudian disterilkan dalam autoklaf.Lama proses sterilisasi tergantung autoklaf yang digunakan, Beberapa bahan tambahan dapat dicampur dengan bijian sesudah kelebihan airnya dibuang (ditiriskan). Bahan tambahan tersebut seperti gipsum (untuk mencegah bijian lengket dan saling menempel sehingga struktur substrat menjadi terurai) dan kapur pertanian (CaC03) untuk menstabilkan pH.

Bijian dalam wadah berukuran kecil kadar airnya lebih tinggi dibandingkan dengan bijian dalam wadah yang lebih besar(Tabel 10). Berdasarkan tabel, kadar air akhir substrat ditentukan oleh kadar air awalnya serta volume wadah yang digunakan. Semakin besar ukuran wadah, kadar air akhir yang dicapai akan semakin rendah.

pengepakan wadah (rapat atau longgar), dan ukuran wadah. Sterilisasi selama dua jam sudah cukup bagi substrat spawn dalam wadah berukuran 500 g. Akan tetapi, bila wadahnya berukuran 3 kg, diperlukan waktu sekitar 3—4 jam.

Setelah proses sterilisasi selesai, botol/wadah diguncang lembut, tetapi kuat sambil dikeluarkan dari autoklaf. Pengguncangan tersebut akan meningkatkan keseragaman kadar air dan mencegah bijian pada bagian bawah wadah saling menempel. Spawn yang padat dapat dilonggarkan oleh guncangan tersebut. Ban mobil bekas yang sudah halus permukaannya atau bantalan kursi dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengguncang wadah spawn. Alat-alat bantu tersebut mutlak harus bersih bila akan digunakan.

Bahan dan alat:

–    Biji sorgum/cantel/biji padi 10 kg

–    Kalsium karbonat (CaC03) 600 g (6% dari berat biji cantel

–    Gipsum 200 g (2% dari berat biji sorgum/cantel/biji padi)

–    Wadah botol gelas atau plastik tahan panas

–    Kapas untuk penyumbat Cara membuat:

1) Ayak biji sorgum/cantel/biji padi sampai bersih dan tidak ada kotoran yang terikut.

2)    Cuci biji sorgum/cantel/biji padi, lalu ambil biji yang terapung.

3)    Rebus biji sorgum/cantel/biji padi daiam air mendidih selama 25—35 menit sampai biji cantel retak.

4)    Bilas biji sorgum/cantel/biji padi sampai bersih.

5)    Tiriskan biji sorgum/cantel/biji padi dengan cara diangin-anginkan.

6)    Setelah tiris, campurkan biji sorgum/ cantel/biji padi, gipsum, dan CaC03 sampai merata dan menjadi media.

7)    Masukkan media campuran tersebut ke daiam wadah botol atau plastik kira-kira 3/4 dari tinggi wadah, lalu sumbat dengan kapas.

8)    Sterilisasi media dengan suhu 121°C selama 20—30 menit.

9)    Dinginkan media hingga suhunya mencapai suhu ruang.

Cara Melakukan Pembibitan Jamur

Pembuatan media biji-bijiait

a.    Biji-bijian direbus

b.    Biji-bijian ditiriskan

c.    Biji-bijian dimasukkan ke daiam botol hingga 3/4 dari tinggi wadah, lalu sumbat dengan kapas

d.    Sterilisasi media

Media Serbuk Kayu

Saat ini, para petani jamurtiram banyak menggunakan serbuk kayu sebagai media tumbuh jamur. Media ini banyak digunakan karena mudah didapatkan. Keberadaannya berlimpah dan harganya relatif murah. Akan tetapi, tidak semua serbuk kayu yang berasal dari pohon dapat digunakan.

: Kayu yang dapat digunakan sebagai mediaxidak boleh mengandung resin, bahan kimia, atau bertekstur keras. Hal itu dapat menyebabkan pertumbuhan miselia jamur menjadi terhambat, bahkan tidak tumbuh sama sekali. Oleh karena itu, gunakan serbuk kayu sengon dan hindari penggunaan kayu pinus, mahoni, dan jati.

Bahan dan alat:

–    Serbuk kayu 90—93%

–    Bekatul 6—9%

–    CaC031—2%

–    Wadah botol geias atau plastik tahan panas

–    Kapas untuk penyumbat

Cara membuat:

1)    Ayak serbuk kayu untuk menghilangkan kotoran.

2)    Campur serbuk kayu, bekatul, dan CaCOj sampai merata.

3)    Tambahkan air sambil aduk merata sampai diperoleh kadar air media 45-50%.

4)    Masukkan media ke dalam botol atau plastik lalu kira-kira % dari tinggi wadah, lalu sumbat dengan kapas.

5)    Sterilisasi media dengan suhu 121° C selama 20—30 menit.

6)    Dinginkan media hingga suhunya mencapai suhu ruang.

Inokulasi dan Inkubasi

Dan stelah pembuatan media bibit induk telah selesai, Kemudian langsung lakukan sebuah proses yang dinamakan inokulasi dan inkubasi. Cirinya adalah suhu substrat pada bagian tengah wadah turun hingga di bawah suhu maksimum untuk pertumbuhan miselia, substrat dapat diinokulasi. Biasanya, suhu maksimum substrat adalah 25° C. Diperlukan setidaknya satu potongan biakan induk (mother culture) dengan ukuran 10 mm x10 mm yang penuh ditumbuhi miselia untuk wadah spawn 250 ml atau dua potongan biakan induk untuk wadah spawn lebih besar. Untuk mempercepat laju kolonisasi, dapat menggunakan lebih banyak potongan biakan.

Inokulasi harus dilakukan secara aseptik karena bijian sangat mudah terkontaminasi. Semua alat-alat yang digunakan dalam inokulasi harus disterilkan terlebih dahulu. Jika inokulasi dilakukan dalam boks inokulasi, disarankan wadah biakan diletakkan mendatar untuk memperkecil peluang kontaminasi. Perlu diperhatikan juga ruangan inokulasi harus tersanitasi

dan suhu ruangan tidakterlalu panas maksimal suhunya adalah 25° C. Hal itu dilakukan untuk menurunkan populasi kontaminan di ruangan inokulasi.

Setelah proses inokulasi akan dilakukan, spawn diinkubasi sa,pai menyeluruh ke substrat dalam wadah penuh ditumbuhi miselia. Suhu ruang inkubasi diatur agar dekat dengan suhu optimal pertumbuhan miselia. Kelembapan nisbinya dipertahankan rendah (30—50%) untuk mencegah mould tumbuh pada dinding dan langit-langit ruang inkubasi.

Cara atau proses inokulasinya hampir sama pada saat pembuatan kultur murni. Berikut bahan dan alat serta proses inokulasi dan inkubasinya.

Bahan dan alat:

–    Kultur murni jamur

–    Alkohol 70%

–    Media steril (agar miring atau media dalam cawan petri)

–    Skapel

–    Bunsen

–    Laminar air flow (LAF)

Cara membuat:

1)    Siapkan tabung reaksi atau cawan petri berisi kultur murni jamur dan tabung reaksi/cawan petri/botol berisi media baru (campuran biji, gipsum dan CaCO}).

2)    Semprot laminar atau meja bersih dengan larutan alkohol 70% sampai merata

3)    Setelah kering, nyalakan bunsen di dalam LAF.

4)    Sterilkan skapel. Caranya, benamkan skalpel dalam alkohol, lalu panaskan sampai membara dan dinginkan. –

5)    Buka bersamaan tutup tabung reaksi atau cawan petri berisi kultur murni biakan jamur dan tabung reaksi/cawan petri/botol berisi media baru.

6)    Ambil potongan kultur murni berukuran sekitar 5 mm x 5 mm , dengan skalpel.

7)    Masukkan potongan kultur murni ke dalam tabung reaksi/cawan petri/botol berisi media baru, lalu letakkan di tengah-tengah.

8)    Tutup segera wadah yang berisi potongan kultur murni dan tabung reaksi atau cawan petri kultur murni biakan, lalu dekatkan dengan nyala api selama 3 detik.

9) Setelah itu, inkubasi media pada suhu 26—28° C sampai seluruh media dipenuhi miselium, kira-kira selama 2—3 minggu.

Penyimpanan spawn dapat dilakukan dalam lemari pendingin (refrigerator) dan dikeluarkan dari tempat penyimpanan hanya jika diperlukan. Spawn bijian dapat membusuk hanya karena diletakkan semalam pada ruangan dengan suhu di atas 25° C

C. PEMBUATAN BlBIT SEMAI

Bibit semai atau bibit siap tanam adalah bibit jamur yang siap digunakan untuk memproduksi jamur. Proses pembuatan bibit semai hampir sama dengan proses pembuatan kultur murni maupun bibit induk. Produksi spawn tidak lebih dari menempatkan miselia jamur yang dikehendaki pada substrat steril yang cocok pada kondisi aseptik. Perbedaannya adalah saat proses inokulasi, inokulumnya menggunakan bibit induk jamur.

Pembuatan Media

Media bibit semai juga sama dengan bibit induk, yaitu biji-bijian. Bahan yang digunakan serta jumlah perbandingannya hampir sama dengan pembuatan bibit induk.Adapun pilihan substrat spawn secara spesifiktergantung pada spesies jamur dan metode budi dayanya lihat tabel berikut:

 METODE BUDIDAYA DAN MACAM SUBSTRAT FINAL SPAWN

Spesies

 

Metode
Budi Daya

 

Substrat
Final Spawn

 

Agarkxis

bisporus,A. Bitorquis

Substrat
yang difermentasi

 

Bijian

 

 

Serbuk
gergaji steril dalam wadah

 

Serbuk
gergaji atau bijian

 

Lentinula

edodes

Serbuk
gergaji steril dalam wadah

 

Bijian,
serbuk gergaji,
spawn cair

 

Ganoderma

spp.

Log
kayu

 

Serbuk
gergaji, potongan kayu atau serbuk gergaji padat

 

Pleurotus

spp.

Substrat
yang dipasteurisasi atau disterilisasi

 

Terutama
bijian, kadang serbuk gergaji

 

Tremella

fudformis

Log
kayu

 

Sebuk
gergaji

 

Kelebihan spawn bijian adalah sangat bernutrisi. Kekurangannya adalah mudah membusukkarena lebih rentan terhadap kontaminan. Spawn bijian tidak cocok untuk penggunaan di luar wadah karena dapat menjadi makanan tikus.

Inokulasi dan Inkubasi

Bijian untuk substrat final spawn dipersiapkan sama seperti bijian untuk substrat mother spawn. Final spawn bijian diinokulasi dengan mother spawn bijian dengan prosedur berikut:

Bahan dan alat:

– Unit sterilisasi (pemasak bertekanan, autoklaf)

-Tempat inkubasi (inkubator atau ruangan inkubasi) yang aseptik Perlengkapan laboratorium (cawan petri, tabung reaksi, timbangan, * alkohol, dan pembakar)

-Bahan persiapan media Bahan substrat (misalnya bijian)

-Wadah spawn

Cara membuat:

a)    Siapkan bibit induk jamur dan plastik yang berisi media baru.

b)    Semprot laminar atau meja dengan larutan alkohol 70% sampai merata.

c)    Setelah kering, nyalakan bunsen di dalam LAF.

d)    Benamkan skapel dalam alkohol, 1 lalu panaskan sampai membara dan dinginkan.

e)    Buka tutup botol yang berisi biakan bibit induk dan tutup plastik yang berisi media baru.

f)    Ambil media biakan induk dengan menggunakan skapel.

g)    Masukkan media biakan induk ke dalam plastik yang berisi media baru dan letakkan di tengah-tengah. *

h)    Tutup segera plastik yang berisi media biakan induk dan botol biakan bibit induk, lalu dekatkan dengan api. ,

i) Setelah itu, inkubasi media pada suhu 22-25 deraja C sampai seluruh media dipenuhii oleh miselium, kira-kira selama 21-—24hari.

Hal yang harus diperhatikan daiam inokulasi adalah sebagai berikut:

a.periksa mother spawn dari kontaminasi. Spawn dengan miselia seperti kapas (stroma), substrat yang hanya sebagian ditumbuhi miselia, bijian yang tampak mengilap berminyak, semuanya menunjukkan ketidaklaziman. Bakteri sering menunjukkan bau khas, yaitu agak asam. Adanya kapang juga ditunjukkan oleh bau yang mirip. Mother spawn dengan karakter sebagaimana disebutkan sebelumnya jangan digunakan. Lebih baik kehilangan satu botol dalam tahap ini dari pada kehilangan 20 wadah pada tahap selanjutnya.

b.Pisah-pisahkan bijian bermiselia dalam wadah spawn dengan mengaduknya menggunakan pengaduk steril atau dengan mengguncangkannya pada karet bekas ban. Jika memungkinkan, piarkan spawn yang telah diaduk selama semalam. Jika ternyata tidak terjadi penumbuhan kembali miselia, kemungkinan spawn telah terinfeksi bakteri.

c.Jika substrat final spawn yang di isiapkan telah turun suhunya di bawah suhu maksimum pertumbuhan miselia, inokulasi dapat dilakukan. Sebaiknya, inokulasi dilakukan dalam ruang yang bersih dan telah disucihamakan, pakaian petugas juga harus bersih, dan peralatan bantu yang digunakan juga telah disterilkan.Tutup wadah mother spawn dibuka, demikian pula tutup wadah final spawn. Jika ukuran kedua wadah sama, tuangkan 1/5 atau 1/10 isi mother spawn ke daiam wadah final spawn. Cara lainnya adalah dengan meletakkan mother spawn dan final spawn mendatar, serta menggunakan sendok steril untuk menginokulasi. Peluang wadah kejatuhan kontaminan makin kecil jika wadah diletakkan secara horizontal.

Jika inokulasi harus dilakukan terhadap substrat dengan jumlah yang besar, kadang diperlukan ruang aseptik yang dilengkapi dengan saluran-saluran udara. Langit-langit dengan laminar airflow dapat menekan kontaminasi secara efektif. Selain itu, kontaminan dari sepatu pekerja harus tetap berada dekat dengan lantai dan disapu keluar tanpa bersentuhan dengan media steril. Udara daiam sistem ini berganti 10—20 kali tiap jamnya. Ruangan tanpa sistem laminar airflow, aliran udara sebaiknya dijaga daiam rentang 0,15—0,45 m/detik. Aliran udara di bawah rentang tersebut dapat mengakibatkan kontaminan tersebar. Sebaliknya, bila aliran udara terlalu cepat dapat mengakibatkan kontaminan terakumulasi pada tempat-tempat terjadinya aliran turbulen.

Demikan artikel tentang Cara Melakukan Pembibitan Jamur.Semoga bermanfaat