Cara Budi Dava Jamur Shiitake Bernilai Ekonomi Tinggi

Posted on

budidaya jamur shiitake

Jamur shiitake memiliki aroma yang harum dan mempunyai potensi sebagai obat
Shiitake adalah salah jamur yang di Cina disebut xiang-gu (jamur harum). Jenis jamur berkualitas tinggi terdapat payung yang lebih tebal disebut donggu (jamur musim dingin) atau huagu (jamur bunga) karena bagian atas permukaan payung terdapat motif retak-retak, seperti bunga mekar. Jamur ini menjadi bagian dari menu tradisional di Cina, Jepang, dan Korea. Jamur ini disukai bukan hanya karena rasanya yang khas dan lezat serta bergizi tinggi, tetapi mengandung zat yang bermanfaat untuk pengobatan.

A. TAKSONOMI

Shiitake atau dikenal juga dengan nama hoang-ko merupakan jamur yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Cita rasanya khas, terutama aromanya yang harum.Nama ilmiah jamur ini adalah Lentinula edodes (Berkeley) Pegler. Berdasarkan karakteristik morfologi makro dan mikro serta analisis DNA, L. edodes diklasifikasikan ke dalam genus Lentinula, familiTricholoma, ordo Agaricales, dan subfilum Basidiomycotina.

Dalam kurun waktu cukup lama, jamur ini dikenal sebagai Lentinus edodes (Berk.), terutama di antara para pelaku budi daya jamur. Tahun 1975, Pegler mengusulkan spesies ini dipindahkan penempatannya ke Lentinula karena alasan yang didasarkan pada studi mikroskopis. Genus ini memiliki miselium monomitik sehingga spesiesnya tidak mengandung hifa dimitik pada daging buahnya sebagaimana yang ditemukan pada genus Lentinus. Pada mushroom gill trama, sel-sel jamur ini tersusun paralel beraturan. Hal tersebut berbeda dengan susunan sel-sel pada genus Lentinus yang tidak beraturan dan saling mengait.

Hasil analisis DNA juga mendukung penempatan jamur ini ke genus Lentinula. Namun, para pelaku budi daya jamur masih menggunakan nama ‘Lentinus’ pada jamur ini hingga tahun 1980-an dan sesudahnya. Dua buku teks penting yang diterbitkan tahun 1989 dan 1992 juga masih menggunakan sebutan Lentinus. Meskipun demikian, nama Lentinula edodes (Berk.) Pegler sebaiknya digunakan saat menelusuri alur untuk menggali informasi mengenai jamur ini.

B. Morfologi dan Anatomi

Jamur shiitake memiliki karakteristik dengan tudung berdaging yang menghasilkan spora berwarna putih disertai miselia berwarna putih pula. Tudung yang melingkartersebut berwarna kecokelatan hingga cokelat gelap. Kadang tudung berwarna merah kecokelatan dengan bintik-bintik putih di bagian atasnya. Beberapa ras jamur memiliki bulu-bulu halus di bagian atas permukaan tudung. Diameter tudung antara 5—10 cm dengan tebal antara 2—6 cm. Tubuh buah shiitake umumnya memiliki tangkai di tengah yang melekat pada payung. Tangkai berwarna putih kekuningan dengan panjang 2—6 cm. Berat setiap jamur berkisar 10—30 g.

C. Habitat

Shiitake merupakan jamur yang berasal dari Asia Timur dan banyak tumbuh liar di Cina, Jepang, dan Korea. Di Amerika ditemukan dua jenis yang diduga berasal dari sisa tubuh buah shiitake segar.

Jamur ini tumbuh di daerah dengan iklim sedang dan di alam ditemukan tumbuh tunggai atau berkelompok pada batang kayu lapuk dari pohon Shii (Pasania spp.), oaks (Quercus spp.), dan pohon oak Asia lainnya. Di alam, shiitake merupakan jamur saprofit pelapuk kayu putih yang mendegradasi kayu dengan kandungan lignin yang sukar didekomposisi. Kemampuan tersebut yang menjadikan jamur ini dapat dibudidayakan pada log kayu dan serbuk gergaji.

D. KANDUNGAN

Jamur shiitake disebut juga jamur kayu cokelat Jamur ini tumbuh di kayu dengan warna kecokelatan. Shiitake mengandung 7,3—8% serat kasar serta asam amino leusin, isoleusin, valin, triptofan, lisin, fenilalanin, dan beberapa jenis asam amino lainnya yang penting bagi tubuh. Selain mempunyai kandungan asam glutamat yang tinggi, shiitake juga mengandung 5.000 nukleotida dalam jumlah besar, yaitu 156,5 mg/100 g.

Shiitake juga mengandung senyawa polisakarida yang dikenal dengan sebutan lentinan. Lentinan (3-1,3 glukan dengan percabangan 3-1/6 dan 3-1/3 glukopiranosida) merupakan suatu polisakarida yang larut dalam air yang dapat diekstraksi dari jamur shiitake.

E. MANFAAT

Jamur ini dikenal sebagai bahan pangan yang mempunyai potensi sebagai obat. Kandungan asam glutamatnya berhubungan dengan cita rasa yang ditimbulkan sebagai penyedap makanan. Adapun khasiat obatnya dapat menurunkan gula darah dan efektif melawan virus influenza.

Jamur ini juga dilaporkan mempunyai potensi sebagai antitumor dan antivirus karena mengandung lentinan. Hal itu sudah dibuktikan di Jepang dan dijadikan sebagai obat antikanker. Shiitake juga dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan melakukan aktivitas eritadenin yang dikandungnya.

F. PROSES BUDI DAYA JAMUR SHIITAKE

Jamur shiitake awalnya tumbuh liar di hutan-hutan dekat pegunungan Lung yang terletak di wilayah Longquan provinsi Zhejian (berbatasan dengan provinsi Fujian). Wu San Kang adalah orang pertama yang memburu dan mengoleksi jamur shiitake dari lingkungan asalnya, kemudian membudidayakannya pada log kayu. Berdasarkan pengamatannya di hutan, jamur tersebut tumbuh pada potongan log kayu yang jatuh ke permukaan tanah. Jika ia potong log tersebut jamur tumbuh lebih besar dan lebih baik. Namun, ia kecewa karena jamur tumbuh hanya pada bagian yang terpotong.

Suatu hari ia memukul-mukul log kayu. Beberapa hari kemudian, ia dikejutkan oleh tumbuhnya jamur di seluruh permukaan log. Inilah asal shocking method budi daya jamur shiitake pada log kayu, yaitu memotong dan memukul-mukul log tersebut. Hal ini merupakan tahap pertama dalam perkembangan budi daya jamur shiitake Jamur shiitake cocok dibudidayakan pada log dari batang pohon kayu keras. Kayu tersebut mengandung lignin yang tinggi, seperti jati (Tectona grandis), nangka (Artocarpus integra), johar (Senna siamea = Cassia siamea), mindi (Melia azedarach), mangga (Mangifera indica), rambutan (Nepheiium lappaceum), duku (Lansium domesticum), dan jambu bol (Eugenia malaccense=Zyzygium maiaccense).

Tahap perkembangan budi daya shiitake kedua adalah penerapan spawn biakan murni pada log penanaman oleh K. Kitajima di Jepang pada tahun 1936. Katajima mendemonstrasikan bahwa spawn dapat dibuat dari biakan murni tanpa terkontaminasi oleh mikroba lain. Selain itu, spawn dapat diinokulasikan

Lihat Tabel TAHAP UTAMA PERKEMBANGAN BUDI DAYA JAMUR SHIITAKE Berikut Ini:

Penemuan

Penemu

Negara

Tahun

1. Budi daya menggunakan log kayu secara
aiami

 

Wu San Kang

 

CIna

1100

2.  – Spawn biakan murni pada budi
daya menggunakan log

    – Teknik biakan murni

 

 

K. Katajima

 

 

S. Mimora

 

Jepang

 

 

Jepang

1936

 

 

1904

1915

3. – Budi daya menggunakan serbuk gergaji
berupa log sintecik berbentuk siiindris dalam wadah plastik

– Budi daya menggunakan serbuk gergaji

– Blok serbuk gergaji yang dikemas dalam
wadah polipropilen berbobot 5—6 kg

Bedeng serbuk gergaji dalam wadah platik besar berbobot
15 kg

 

Z.W Peng

 

 

 

 

 

 

 

Cina

 

 

Cina

Amerika

Eropa

1983

 

 

1974

1989

 Sekarang

ke log kayu sesuai kebutuhan budi daya jamur. Penemuan teknik biakan murni dilakukan oleh Shozaburo Mimura, seorang mikologiwan dari Jepang. la mempublikasikan temuannya pada tahun 1904 dan 1915. Metode biakan murni menjadikan kendali produksi shiitake berada di tangan pembudidaya jamur.

Tahap perkembangan ketiga dalam budi daya shiitake adalah penemuan serbuk gergaji untuk media tanam jamur. Metode ini terkenal dengan sebutan Gutien. Metode tersebut sudah digunakan secara luas di Cina. Keuntungan dari penggunaan serbuk gergaji adalah konsistensi penyediaannya sepanjang tahun sesuai permintaan konsumen.

Selain itu, penggunaan serbuk gergaji juga merupakan sarana memanfaatkan limbah pertanian.

Perkembangan budi daya jamur shiitake dengan serbuk gergaji dapat dilihat dari tahun 1970-an, dan Shanghai adalah pusat beberapa inovasi pada tahun 1974. Saat ini, perkembangan terbaru yang terjadi di AS adalah penggunaan blok substrat berukuran besar dalam wadah polipropilen dengan pori-pori mikro pada permukaannya sebagai ventilasi udara. Metode ini menjadikan budi daya jamur shiitake lebih cepat dengan produktivitas lebih tinggi melalui campuran spawn secara merata dengan substrat sehingga jamur diproduksi lebih banyak dalam waktu

lebih singkat. Pada log alami, shiitake memproduksi jamur 3—5 flushes per tahun. Dengan substrat sintetis, tiap flush shiitake membutuhkan waktu waktu hanya sekitar 16—20 hari. Dengan demikian, penggunaan serbuk gergaji mampu memproduksi jamur shiitake 3—4 kali lebih banyak dibandingkan dengan log alami dalam waktu hanya sepersepuluh dari waktu normal. Sistem budi daya dengan metode ini juga memudahkan dalam penanganan spawn nin. Di Eropa, substrat yang digunakan berukuran lebih besar, yaitu berbentuk bedeng dengan bobot mencapai 15 kg.

Seperti halnya budi daya jamur iainnya, budi daya jamur shiitake terdiri dari beberapa tahap. Adapun tahapannya meliputi persiapan media tanam, pengemasan media, sterilisasi media, inokulasi, inkubasi, pembentukan tubuh buah dan pemanenan.

1. Persiapan Media Tanam

Kebutuhan nutrisi (sumber karbon, sumber nitrogen, C/N rasio, mineral, dan vitamin) serta faktor lingkungan (suhu, kelembapan, kadar oksigen di udara, cahaya, dan pH substrat) adalah hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam budi daya jamur shiitake. Miselia shiitake dapat menyerap molekul nutrisi berukuran kecil secara langsung, tetapi perlu lebih dahulu memecah molekul pangan kompleks yang ada di lingkungan

dengan menyekresikan enzim dari miselia untuk mendekomposisi senyawa lignoselulosik kompleks yang merupakan sumber karbon utama untuk shiitake.

Karbon merupakan nutrisi terpenting yang dibutuhkan semua jamur termasuk shiitake. Karbon merupakan kerangka dasar pembentukan protein, asam nukleat, dan gula bagi sel-sel hidup. Karbon juga menjadi komponen utama sumber energi untuk oksidasi dalam proses metabolisme. Karbon biasanya berasal dari senyawa organik, seperti gula, asam organik, alkohol, pati, selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Nitrogen berperan sangat penting untuk membangun protoplasma dan elemen struktur seluler pada shiitake. Sumber utama nitrogen adalah senyawa nitrogen organik dan anorganik termasuk urea dan protein. Sumber nitrogen tersebar pada log kayu. Kambium pada batang merupakan bagian yang tertinggi kandungan nitrogennya. Kulit batang pohon mengandung 3,8—5% nitrogen, sedangkan xilem hanya mengandung 0,4—0,5% nitrogen.

TABEL. RASIO KARBON-NITROGEN (C/N) DAN KONSENTRASI NITROGEN PADA

Uraian

Terbaik untuk Pertumbuhan Miselia

 

Terbaik untuk’ Pembentukan, Tubuh Buah

 

C/N

 

25:1

40:1

Konsentrasi N (%)

 

0,016—0,064

 

0,02

karbon terhadap nitrogen 25:1 adalah yang terbaik untuk pertumbuhan miselia Sementara itu, perbandingan 40:1 adalah yang terbaik pada fase produksi tubuh buah. Kandungan nitrogen yang terlalu banyak menjadikan miselia tumbuh lebat selama masa spavin run, tetapi tidak mampu menghasilkan jamur berkualitas. Konsentrasi nitrogen terbaik untuk masa vegetatif adalah 0,016—0,064%, sedangkan N 0,02% merupakan konsentrasi terbaik untuk stadia reproduktif. Pembentukan primordial tubuh buah dan tahap-tahap sesudahnya peka terhadap konsentrasi nitrogen. Idealnya, konsentrasi nitrogen pada fase-fase tersebut tidak lebih dari 0,02%.

Persiapan media tanam meliputi formulasi substrat, pembasahan awal, pengomposan, dan pengemasan media.

a. Formulasi substrat

bertujuan sebagai panduan dalam proses pembuatan substrat. Selain itu juga, formulasi berfungsi sebagai standar biaya proses produksi. Formulasi substrat biasanya terdiri dari bahan-bahan yang dipakai serta jumlahnya masing-masing bahan. Berikut ini adalah beberapa formulas! substrat yang biasa digunakan untuk membuat media tanam jamur shiitake.

Formula substrat 1:    
– Serbuk kayu                 = 50 kg
– Bekatul                          = 1,5 kg
-Tepung jagung             = 1,0 kg
-Tetes                               = 0,6 kg
– Gipsum                         = 1,5 kg
– Amonium sulfat          = 20 g
– Kalsium superfospat  =   30 g

Formula substrat II:    
– Ampas tebu            =    50 kg
– Bekatul                    =    12,5 kg
– Gipsum                    =    1,5 kg
– Potasium sulfat      =     15 g
-Urea                           =    15 g
– Magnesium sulfat   =  10g

Formula substrat III:    
– Serbuk kayu                               =   85—90%
– Bekatul                                       =  10—15%
– Kalsium karbonat (CaC03)    =  1—2%

b. Pembasahan awal    

Setelah menentukan formula substrat yang akan digunakan, tahap selanjutnya adalah pembasahan awal. Contohnya, media tanamnya menggunakan formula substrat III. Serbuk kayu yang sudah diayak dibasahi sampal merata. Setelah itu, taburkan campuran bekatul dan kalslum karbonat pada serbuk gergaji yang sudah dibasahi. Aduk rata serbuk kayu dan campuran bahan bantu (bekatul  dan kalslum karbonat) sampai diperoleh kadar air media sekltar 56—63%.

c. Pengomposan media

Tahap selanjutnya adalah pengomposan media. Caranya, media dikomposkan selama 5—7 hari, tergantung dari bahan yang digunakan serta perlakuan suhunya. Selama proses pengomposan suhu media mengalami peningkatan hingga mencapai 65—70° C. Agar proses pengomposan rata, dilakukan pembalikan media setiap 2—3 hari sekali. Media yang telah siap digunakan ditandai dengan perubahan warna menjadi cokelat atau kehitaman.

d. Pengemasan media tanam

Setelah proses pengomposannya selesai, media tanam dikemas dalam kantong plastiktahan panas dari jenis polipropilena (biasa disebut plastik PP). Ukuran kantong plastik bervariasi, tergantung berat yang ditetapkan. Sebagai contoh, untuk berat media 1 kg menggunakan plastik berukuran 30 cm x 20 cm dengan tebal 0,5 mm. Selanjutnya, media tanam dipadatkan menggunakan alat pengepres atau botol hingga bagian bawah plastik rata dan menyerupai log kayu (baglog). Dan pada Ujung plastik dapat dipasngi ring, kemudian ditutup dengan kapas dan penutup baglog. Yang mempunyai Tujuannya agar air tidak dapat masuk ke dalam baglog ketika sterilisasi.

e. Sterilisasi media

Sterilisasi media bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang merugikan dalam proses budi daya jamur shiitake sehingga media tanam terbebas dari kontaminan. Sterilisasi dilakukan pada suhu 96—98° C selama 90 menit. Setelah disterilisasi, media tanam didinginkan hingga suhunya mencapai suhu ruang sekitar 25° C.

Proses pendinginan dapat dilakukan di dalam suatu ruangan khusus yang mempunyai sirkulasi udara yang baik. Tujuannya agar udara panas yang dikeluarkan oleh baglog dapat berangsur-angsur menjadi dlngin. Jika saat inokulasi media tanam suhunya masih tinggi (panas), bibit jamur shiitake akan mati. Apabila jumlah media tanam cukup banyak, pendinginan dapat dibantu dengan menggunakan blower atau air conditioner (AC).

Budiaya jamur shiikate
Sterilisasi media tanam (baglog). Tujuannya untuk membunuh mikroorganisme

2. Inokulasi

Setelah suhu media tanam dingin, proses selanjutnya adalah pemasukan atau pemberian bibit (inokulasi) jamur shiitake ke dalam media tanam. Proses inokulasi dilakukan secara aseptikagar media tanam tidak terkontaminasi mikroorganisme yang merugikan dalam budi daya jamur shiitake. Proses inokulasi hampir sama pada saat pembuatan kultur murni atau bibit induk maupun bibit semai. Cara inokulasi adalah sebagai berikut.

a)    Siapkan bibit semai jamur shiitake dan media tanam (baglog).

b)    Apabila bibit semai jamur shiitake menggumpal, lakukan penguraian terlebih dahulu dengan cara memukul-mukul botol ke sandal karet (digojok).

c)    Semprot laminar atau meja bersih dengan larutan alkohol 70% sampai merata.

d)    Setelah kering, nyalakan bunsen di dalam laminar atau meja bersih.

e)    Benamkan skalpel dalam alkohol dan panaskan sampai membara, lalu dinginkan.

f)    Buka tutup botol yang berisi biakan bibit semai jamur shiitake dan media tanam (baglog).

g)    Ambil media biakan bibit semai jamur shiitake dengan skalpel atau tuang media biakan bibit semai jamur shiitake apabila media tanam menggunakan media biji-bijian.

h)    Masukkan media biakan bibit semai ke dalam media tanam (baglog), kemudian tutup media tanam dengan kapas. Media tanam siap untuk diinkubasi.

i)    Lakukan inokulasi lagi seperti nomor f, sampai media tanam habis dan media semainya juga habis.

Jumlah bibit semai jamur shiitake yang diinokulasikan dengan media serbukkayu cukup 10 g untuk 1—1,2 kg media tanam (baglog). Untuk bibit semai yang menggunakan media biji-bijian, 1 botol (500 ml) cukup untuk menginoklulasi 40—50 media tanam (baglog).

3. Inkubasi

Setelah media tanam selesai diinokulasi dengan bibit semai, tahap selanjutnya adalah menginkubasi media tanam. Inkubasi bertujuan untuk membantu menumbuhkan miselium jamur shiitake pada kondisi yang sesuai dengan syarat pertumbuhannya sampai miselium memenuhi media tanamnya (full grown).

Suhu ruangan diaturantara 25—26° C dan kelembapan udara sekitar 60—70%. Pengaturan cahaya dapat dilakukan dengan cara menutup pintu dan ventilasi. Lama proses inkubasi jamur shiitake berkisar 30—120 hari setelah inokulasi. Proses inkubasi dinyatakan selesai jika miselium jamur shiitake yang berwarna putih menyelimuti seluruh media tanam (baglog).

4. Perawatan Saat Pembentukan Tubuh Buah

Shiitake merupakan fungi yang menghuni daerah beriklim sedang sehingga memerlukan suhu rendah. Meskipun demikian, fluktuasi suhu dibutuhkan untuk pembentukan tubuh buah.

Proses metabolisme shiitake, semua reaksi fisika dan kimia, dikendalikan oleh suhu. Umumnya enzim memiliki suhu optimal masing-masing. Jika suhu terlalu tinggi, molekul protein pada enzim dapat mengalami denaturasi dan kehilangan viabilitasnya. Jika suhu terlalu rendah, nutrisi menjadi sukar diserap, aktivitas enzim berkurang, dan laju respirasi menurun. Laju respirasi yang rendah ini tergambar dari berkurangnya pertumbuhan miselia. Suhu kardinal dan optimum pada budi daya jamur shiitake disajikan pada tabel dibawah ini:

Stadia

Kisaran

Suhu

Kardinal

(•C)

 

Kisaran

Suhu

Optimal

(•C)

 

Perkecambahan

spora

 

15-28

 

22—26

 

Pertumbuhan

miselia

5-32

24—27

 

Pembentukan
tubuh buah

5-35

 

15 ± 1—2 (tergantung strain)

 

Untuk mengatur suhu di dalam ruangan

kumbung agar sesuai dengan syarat tumbuh jamur shiitake, dapat diiakukan dengan cara membuka pintu dan ventilasi. Namun, hat tersebut dapat menjadi masalah saat suhu di luar lingkungan kumbung tidak mendukung untuk pertumbuhan jamur. Salah satu cara untuk mengatasinya dengan menggunakan alat berupa AC (air conditioner).

Selain suhu, air juga sangat penting bagl pertumbuhan dan produksi shiitake. Nutrisi perlu dilarutkan dalam air agar dapat diserap miselia. Limbah metabolik juga perlu dilarutkan dalam air sahingga dapat dikeluarkan dari miselia. Kelembapan vana tepat sangat penting bagi pertumbuhan dan produksi shiitake.

Oksigen lebih banyak dibutuhkan pada stadia reproduktif dibanding pada stadia vegetatif. Selama pembentukan tubuh buah, kebutuhan terhadap oksigen semakin besar dan karbondioksida yang dilepas semakin besar pula. Satu jamur shiitake dilaporkan dapat menghasilkan 0,06 g COj per jam. Ruangan dengan ventilasi yang baik dapat menyediakan udara segar diperlukan oleh miselia yang tumbuh intensif.

Udara segar yang tersirkulasi dengan baik dan ventilasi yang lebih sering harus dijaga selama fase reproduktif.

Udara segar mengandung 0,03%

C02. Jika konsentrasi C02 lebih dari 1%, perkembangan tubuh buah akan terhambat dan menyebabkan payung membuka lebih cepat. Konsentrasi C02 yang tinggi akan menyebabkan terjadinya kesalahan bentuk jamur. Jika level C02 mencapai 5%, akan terjadi kegagalan pembentukan tubuh buah.

Cahaya merupakan sumber energi bagi shiitake, baik secara langsung maupun tidak langsung. Miselia dapat tumbuh dalam gelap tanpa cahaya.

Miselia tumbuh lebih baik di bawah cahaya yang lemah dibandingkan dengan cahaya langsung yang kuat karena menghambat pertumbuhan miselia. Dalam gelap, miselia tumbuh 3—4 kali lebih cepat dibandingkan cahaya dengan intensitas di atas 500 lux. Cahaya diperlukan untuk pembentukan tubuh buah. Selama pertumbuhan tubuh buah, level cahaya yang optimal berkisar 50— 100 lux berupa cahaya lemah. Pengaturan cahaya saat stadia pembentukan tubuh buah dapat dilakukan dengan membuka pintu dan ventilasi.

Enzim ekstraseluler berfungsi dengan baik pada kisaran pH spesifik untuk mendegradasi substrat sehingga pH substrat merupakan hal yang penting. Shiitake lebih menyukai kondisi lingkungan masam. Jamur ini dapat tumbuh pada kisaran pH 3—7 dengan kisaran optimum pada pH 4,5—5,5. Kisaran pH terbaik untuk pembentukan primordia tubuh buah adalah 3,5—4,5. Substrat awal umumnya memiliki

pH 5—6. Seiring dengan tumbuhnya miselia, dihasilkan asam organikyang menurunkan pH substrat. KjHP04 dan KH2P04 biasanya ditambahkan pada substrat untuk menyangga dan menstabilkan pH substrat Kayu, jerami, dan air yang digunakan pada budi daya shiitake umumnya memiliki pH yang sudah sesuai.Tindakan teknis perlu dilakukan jika air yang tersedia bersifat alkali, seperti penambahan kalsium karbonat (CaC03) untuk menetralkan pH air agar tidak alkali (basa).

Dengan mengetahui cara membuat kondisi seoptimal mungkin untuk pertumbuhan shiitake, akan memungkinkan bagi para pembudidaya memperoieh hasil jamur dengan produktivitas tinggi dan berkualitas.

 

NB: Kunci Keberhasilam Budidaya jamur Shiitake

  1. Substrat yang tersuplementasi baik dengan nutrisi yang seimbang rasio C/N optimal, dan pH sesuai
  2. Tiap tahap pertumbuhan miselia atau tubuh buah diperlukan kondisi lingkungan yang berbeda-beda