7 Panduan Lengkap Cara Budidaya Tanaman Obat Temu Lawak

Posted on

RuangTani.Com – Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tanaman obat milik suku-temuan (Zingiberaceae). Ia berasal dari Indonesia, khususnya Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di wilayah biogeografi Malesia dari. Di Indonesia, satu-satunya bagian yang digunakan adalah rimpang untuk obat herbal godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64% pati, 1,6-2,2% 1,48-1,63% kurkumin dan minyak atsiri dan diyakini untuk meningkatkan fungsi ginjal dan anti-inflamasi.

Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti-kolesterol, anti-inflamasi, anemia, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba. Bibit diperoleh dari anakan diperbanyak secara vegetatif yang tumbuh dari rimpang usia 9 bulan atau lebih, maka biji yang ditunaskan pertama di tempat lembab dan gelap selama 2-3 minggu sebelum tanam.

Temulawak

7 Panduan Lengkap Cara Budidaya Tanaman Obat Temu Lawak

Syarat Tumbuh

Temu Lawak tumbuh baik pada lokasi tipe iklim B dan C menurut Oldeman (1975), dengan curah hujan minimal 1.500 mm / tahun, bulan kering 3-4 bulan per tahun, suhu udara rata-rata tahunan 19-30 ° C, kelembaban 70 -90%. Temu Lawak dapat tumbuh di bawah tegakan naungan pada tingkat maksimum 25% (Hasanah dan Rahardjo, 2008). Temu Lawak bisa tumbuh dengan baik di tanah ketik latosol, andosol, podsolik dan regosol yang memiliki tekstur liat berpasir, gembur, subur bahan organik, pH tanah 5,0-6,5.

Persiapan Bibit

Lembaga Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITTRO) telah memiliki tiga varietas temu lawak (Cursina 1, Cursina Cursina 2 dan 3). Faktor-faktor lain seperti menentukan keberhasilan budidaya jahe, selain penggunaan varietas unggul adalah kualitas benih. Benih yang sehat dan tinggi berviabilitas faktor masukan yang paling menentukan produktivitas tanaman.

Tingkat keberhasilan budidaya tanaman sekitar 40% ditentukan oleh kualitas benih (Rahardjo, 2001). Benih temulawak digunakan dapat berasal dari induk rimpang dan rimpang cabang (Sukarman et al. 2007). Benih yang berasal dari orang tua rimpang ukuran besar dapat dibagi menjadi 2 atau 4 bagian dengan memotong (membelah).

Benih yang berasal dari rimpang cabang besar bisa dilakukan pemotongan, ukuran biji dianjurkan 20-40 biji g / potong, masing-masing biji dibudidayakan memiliki 2 sampai 3 tunas. Benih yang telah dipotong dibudidayakan abu sekam padi membersihkan, untuk mencegah infeksi hama dan penyakit.

Pembibitan yang baik dan benar dapat dilakukan sebagai berikut :

  • Di dalam bak pasir yang sudah di airi dengan kadar air sekitar kapasitas lapang, benih ditanam pada kedalaman sekitar 5 cm, kemudian ditutup ketebalan pasir 2 cm, usaha- pesemian selalu kondisi lembab dengan nyiramnya dengan air.
  • Di media tanah kering diletakkan mulsa jerami atau alang-alang atasnya dengan ketebalan sekitar 5 cm, rimpang diletakkan di atas lapisan mulsa setinggi satu lapisan, rimpang penyebaran merata (tidak menumpuk), kemudian ditutup dengan mulsa jerami atau alang-alang lagi, cobalah pesemian kondisi selalu lembab dengan air untuk menyiramnya setiap hari.
  • Di rak atas kayu atau bambu yang bertingkat 3-4 tingkat yang telah dilapisi dengan jerami atau alang-alang, biji diletakkan satu lapisan pada setiap rak kemudian ditutup dengan jerami atau alang-alang, cobalah kondisi pesemian selalu lembab dengan Douse dari air setiap hari.

Penyemaian dilakukan selama 2-4 minggu, tunas telah tumbuh dengan, panjang sekitar 0,50 cm, benih siap untuk pindah ke bidang produksi.

Pengolahan Tanah

Pengolahan dimulai pembukaan lahan dengan traktor, garpu atau cangkul kedalaman sekitar 30 cm. Kemudian tanah di haluskan sampai tanah gembur. Tanah yang telah digemburkan di tanah datar yang dibuat dengan menggunakan lebar petak ukuran plot 3-4 m dan panjang sesuai dengan kondisi plot tanah. Pada miring kontur tanah pegunungan lebih siap.

Batas antara plot atau tanggul membuat parit sebagai saluran pembuangan air dan untuk memudahkan pemeliharaan tanaman, seperti pemupukan, penyiangan dan panen. Lubang tanam siap dalam sekitar 10 cm. Ke dalam lubang tanam diberi pupuk kandang yang sudah matang dengan dosis 0,5-1 kg / lubang tanam, diberi 1-2 minggu sebelum tanam.

Pelaksanaan Tanam

Musim tanam Temu Lawak biasanya pada awal musim hujan (September-Oktober) dan panen pada musim kemarau setelah tanaman berumur 7-9 bulan. Temu Lawak dapat ditanam dengan jarak tanam 75 x 60 cm atau 75 x 50 cm dipola tumpang sari, dan jarak 50 x 50 cm di monokultur.

Pola tumpangsari sistem yang disarankan menanam tanaman tahunan di sela-sela tanaman Temu Lawak, seperti padi gogo dan kacang (Shakir et al. 2008), serta dengan jagung, sehingga meningkatkan pendapatan petani. Selain Temu Lawak juga bisa ditanam di bawah tumbuhan sengon tanaman, pepaya, kayu jati dengan tingkat naungan tidak lebih dari 40%.

Bibit Temu Lawak yang telah ditanam dan telah tumbuh dimasukkan ke dalam lubang tanam yang telah diberi pupuk kandang, SP18 dan KCl sesuai dengan dosis yang ditentukan, dengan arah tunas menghadap ke atas.

Pemupukan

Ada dua cara pemupupukan yang dapat diterapkan untuk budidaya Temu Lawak, pupuk yaitu anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik, pupuk yang dibutuhkan oleh budidaya Temu Lawak SOP adalah pupuk organik (pupuk kandang), Urea, SP36 dan KCl.

Secara umum pupuk yang direkomendasikan pada SOP monokultur budidaya Temu Lawak 10-20 t/ha pupuk kandang, 200 kg/ha urea, 100 kg/ha SP18 dan 100 kg/ha KCl (Rahardjo dan Rostiana, 2005). Adapun budidaya tumpangsari pola-sari adalah 10-20 t/ha pupuk kandang, 200 kg/ha urea, 200 kg / ha SP18 dan 200 kg/ha KCl. Dalam pemupukan organik, pemupukan dilakukan hanya dengan pupuk kandang.

Baca Juga :

Pupuk kandang diberikan 1-2 minggu sebelum tanam pada lubang tanam, sedangkan SP18 dan KCl pupuk diberikan pada saat tanam, sedangkan urea diberikan dalam tiga agihan, 1/3 dosis diberikan 1 bulan setelah tanam (BST), 1 / 3 dosis diberikan 2 BST dan 1/3 diberikan setelah 3 BST dengan cara bor.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan, pengembangan bumbunan dan pengendalian hama. Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 1 BST, berikutnya dilakukan sebulan sekali, atau sesuai kebutuhan. Setelah siang hari tanaman kemudian dibuahi dan membuat pembumbunan, yaitu meningkatkan lahan ke budidaya, sementara memperdalam parit antara plot untuk drainase memperbaikai.

Pengendalian hama untuk tanaman jahe jarang dilakukan, karena sampai saat ini belum ada serangan hama yang merugikan. Ketika ada serangan hama disarankan untuk melakukan pengendalian biologis atau mekanis dengan menghapus dan kemudian menghancurkan bagian dari tanaman yang terserang.

Panen dan Pasca Panen

Pada musim kemarau tanaman temulawak mengalami senescen, batang dan daun kering, karakteristik ini menunjukkan bahwa tanaman siap dipanen. Jahe dipanen rentang usia optimal antara 10-12 bulan setelah tanam. Dalam kondisi seperti mengasimilasi di vegetatif sudah diretranslokasikan ke rimpang, sehingga diharapkan rimpang telah mencapai kualitas optimal.

Tapi kali jahe panen dapat ditunda sampai tahun berikutnya, sampai dengan 1, 2 atau 3 tahun. Menunda panen ini dilakukan untuk menghindari harga jual yang rendah, jika harga rendah petani biasanya tidak ingin memanen temulawaknya, dan mereka akan menjual jahe jika ada permintaan pasar atau harga jual memadai.

balittro.litbang.pertanian.go.id

Demikian Pembahasan Tentang 7 Panduan Lengkap Cara Budidaya Tanaman Obat Temu Lawak Semoga Dapat Bermanfaat Bagi Pembaca RuangTani.Com Aminnn … 🙂