6 Tahap Mudah Budidaya Rumput Laut Untuk Menambah Nilai Ekonomi

Posted on

RuangTani.Com – Komoditas yang dapat dikembangkan oleh kemitraan kerja adalah budidaya rumput laut. Budidaya rumput laut pada umumnya dapat dilakukan oleh petani / nelayan dalam pengembangannya memerlukan elemen sub-sistem yang terintegrasi, mulai dari penyediaan input produksi, budidaya untuk pemasaran. Tercatat setidaknya ada 555 spesies rumput laut di perairan Indonesia, yang ada 55 spesies yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti Eucheuma sp, Gracilaria dan Gelidium.

Rumput Laut

6 Tahap Mudah Budidaya Rumput Laut Untuk Menambah Nilai Ekonomi

Tahap – Tahap Dalam Budidaya Rumput Laut

Untuk membudidayakan rumput jenis Eucheuma sp perlu diperhatikan faktor-faktor teknis dan non teknis antara lain :

1. Kelayakan lokasi meliputi :

  • Bebas dari pengaruh angin topan dan gelombang kuat.
  • Memiliki pergerakan air (saat ini) cukup (20-30 cm / detik).
  • Dasar Peraiaran agak keras yang terdiri dari pasir dan batu dan bebas dari lumpur.
  • Masih dipenuhi dengan air surut dengan kedalaman antara 30-60 cm.
  • Kejernihan air tidak kurang dari 5 cm.
  • Suhu air (20 – 28oC) dengan fluktuasi harian maksimum 4 ° C.
  • Kisaran salinitas 28-34.
  • PH air antara 7-9.
  • Mengandung cukup makanan dalam bentuk unsur hara makro dan mikro.
  • Bebas dari kontaminasi bahan kimia.
  • Bebas dari ikan dan hewan air yang herbivora.
  • Nyaman untuk kelancaran proses produksi untuk pemasaran produk.
  • Sumber tenaga yang cukup.

Bahan pendukung murah dan mudah diperoleh (bambu, benih dan lain-lain).

2. Temperatur dan Sanitasi

Rata-rata suhu air laut harus berkisar antara 27 – 30 ° C dalam kasus kenaikan tinggi suhu akan terjadi untuk uliment dan termasuk epiphyt, sehingga tanaman akan rontok. Sementara sanitasi air sangat tergantung pada faktor penguapan, serta apakah ada sumber air tawar.

Untuk menghindari tajam lokasi pabrik sanitasi harus jauh dari muara sungai untuk menghindari pendangkalan.

Dari semua faktor yang disebutkan di atas, perlu diperhitungkan apakah ada pencemaran air laut seperti genangan minyak, limbah pabrik, bahan peledak atau bahan kimia untuk memancing.

Baca Juga :

3. Gerakan Air

Lokasi kesuburan tanaman ditentukan oleh pergerakan air dalam bentuk gelombang. Karena gerakan air merupakan sarana transportasi nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Arus atau gelombang adalah alat yang baik untuk massa air sehingga menjadi homogen. Massa homogen air yang akan menghindari perbedaan yang tajam dalam kelarutan oksigen, temperatur, salinitas dan lain-lain. Selain itu, gerakan air juga merupakan alat pembersih dari sedimen dan epiphyt yang menumpuk pada tanaman.

Gelombang terlalu besar tanaman lebih merusak tetapi diperlukan juga sebagai mixer baik untuk massa air. Selain itu, gelombang udara sebagai penangkap, sehingga memastikan bahwa oksigen terlarut dalam massa air.

Untuk itu dalam budidaya rumput laut harus mengambil daerah / lokasi terkena ombak dan terumbu karang yang menonjol sebagai gelombang tanggul di luar, sehingga lokasi tanaman hanya terkena lidah ombak / gelombang saja, dengan kecepatan aliran antara 20 s / d 40 cm per detik.

4. Faktor Non Teknis

Dalam melakukan budidaya rumput laut faktor non-teknis juga sangat mendukung keberhasilan juga, sosio-ekonomi, infrastruktur dan transportasi dan infrastruktur komunikasi lokal. Lokasi di mana ada nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, kondisi Ini sangat mendukung budidaya rumput laut karena dapat memberikan lapangan kerja dengan tidak mengurangi persyaratan teknis budidaya rumput laut.

5. Pengadaan dan Pemilihan Bibit

Penyediaan benih dapat diperbanyak secara generatif dan vegatif. Persyaratan bibit sebagai berikut :

Mempunyai angka pertumbuhan harian baik, yang menyangkut masa panen produksi yang menguntungkan. Keadaan biologi yang baik

Ciri bibit yang baik :

  • Bibit tanaman harus muda,
  • Bersih,
  • Segar.

Pengadaan bibit dapat dilakukan dengan memanfaatkan sifat-sifat reproduksi vegetatif dan generatif. Untuk mendapatkan bibit yang baik maka perlu dilakukan.

Bibit harus dipilih dan potongan ujung diambil dari tanaman rumput laut yang unggul masih muda, segar dan berasal dari tanaman yang telah dibudidayakan. Karakteristik dari jenis unggul bercabang banyak warna sesuai dengan jenisnya, dan berkembang cepat. Untuk metode freelance dasar, setiap area budidaya rakit petak 100 M2 membutuhkan 240 kg benih.

6. Penanaman

Untuk penanaman rumput laut dikenal adanya beberapa metode :

Metoda Lepas Dasar

Pada metoda ini bibit diikatkan pada batu-batu karang yang kemudian disebarkan pada dasar perairan.Cara ini sesuai untuk dasar perairan yang rata dan tidak ditumbuhi karang dan tidak berpasir. Cara ini mudah, sederhana dan tidak memerlukan sarana budidaya yang besar. Metoda ini jarang sekali digunakan karena belum diyakini keberhasilannya.

Hal ini mengingat persyaratan yang diperlukan adalah areal yang terbuka terhadap ombak dan arus dimana terdapat potongan-potongan batu karang yang kedudukannya sebagai substrant yang kokoh dan tidak terbawa oleh arus.

Disamping kesulitan mencari areal penanaman, metode ini mempunyai kelemahan antara lain : banyak bibit yang hilang terbawa ombak, tidak bisa dilaksanakan di perairan yang berpasir, banyak mendapat gangguan/serangan dari bulubabi, dan produksinya rendah.

Metoda Rakit Apung

Penanaman dengan metoda rakit ini menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu berukuran antara (2,5 x 2,5 ) meter persegi sampai (7 x 7) meter persegi tergantung pada kesediaan bahan bambu yang dipergunakan. Untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar sebagai penahanan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan di dasar laut.

Pemasangan tali dan patok harus memperhitungkan faktor ombak, arus dan pasang surut air. Metoda rakit cocok untuk lokasi dengan kedalaman 60 cm. Bahan-bahan yang diperlukan adalah bibit tanaman, potongan bambu berdiameter 10 cm.

Potongan kayu penyiku berdiameter 5 cm, tali rafia, tali ris berdiameter 4 mm dan 12 cm, serta jangkar dari besi, bongkah batu atau adukan semen pasir.

Adapun tahap-tahap penanamannya adalah sebagai berikut :

  • Potongan kayu dan bambu dirangkai dan diberi jangkar pemberat dengan bantuan tali 12 mm.
  • Thallus dengan berat masing-masing 100 gram diikatkan pada tali ris dengan menggunakan tali rafia yang berjarak antara 20 – 25 cm.
  • Jarak antara ris 50 cm sedangkan panjang ris sangat bergantung dari panjangnya rakit apung yang digunakan dalam budidaya.
  • Tali ris yang sudah berisi tanaman diikatkan pada rakit. Setiap rakit apung berukuran 7 x 7 meter akan ditanami 500 titik tanam rumput laut atau setiap kelompok tani 5 orang dengan 250 rakit (dengan luas total sekitar 1,25 Ha) akan mempunyai titik tanam sebanyak 125.000 titik tanam.

Metoda lepas dasar atau tali gantung

Pada penanaman dengan metoda lepas dasar, tali ris yang telah berisi ikatan tanaman direntangkan pada tali ris utama. Pengikatan tali ris pada tali ris utama sedemikian rupa sehingga muda dibuk kembali.

  • Tali ris utama yang terbuat dari bahan polyetilen berdiameter 8 mm direntangkan pada patok. Jarak tiap tali ris pada tali ris utama 20 cm. Patok terbuat dari kayu berdiameter 5 cm sepanjang 2 m dan runcing pada salah satu ujungnya. Untuk menancapkan patok di dasar perairan diperlukan linggis atau palu besi.
  • Jarak tiap patok untuk merentangkan tali ris utama 2, 5 m. Dengan demikian pada retakan budidaya dengan metoda lepas dasar seluas satu are (100 m2) dibutuhkan 55 batang patok, 60 m tali ris utama dan 600 m tali ris dan 1 kg tali rafia.
  • Untuk 1 unit budidaya rumput laut sistem lepas dasar ukuran 10 x 10 m 2 diperlukan bibit sebanyak 240 kg (Seri Pengembangan Hasil Penelitian Pertanian No 141P/KAN/PT 13/1990.
  • Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut) Sama dengan metoda rakit apung, metoda ini cocok untuk perairan dengan kedalaman kurang 1,5 meter dan dasarnya terdiri dari pasir atau pasir berlumpur.

Tahap Penanaman adalah sebagai berikut :

Tali ris membentang berbaris di tali dua rentang utama ris terikat masing-masing dua penanda berupa bambu yang ditancapkan di dasar laut, membentuk bingkai persegi panjang dengan beberapa lanskap budidaya rumput laut.

Jarak antara tali ris sekitar 20 cm dan jarak antara titik tanam tali ris sekitar 30 cm. Penanaman kerangka seperti ini, dihitung untuk setiap 99.000 ha akan ada penanaman titik, atau untuk perhitungan satu kelompok petani / nelayan dengan 125.000 dot tanam, memerlukan perairan lahan sekitra 1, 3 ha.

Kerangka rumput laut tanam ditata menjadi sekitar 30 – 40 cm di bawah permukaan laut, tergantung pada pasak terjebak berdiri di dasar laut. Tali ris diisi dengan beberapa potong talus masing-masing seberat 100 gram yang merupakan bibit rumput laut. Potongan thallus diikat dengan tali adalah 30 cm.

Pemeliharaan

Mempertahankan rumput laut berarti mengawasi terus fasilitas budidaya konstruksi dan tanaman. Jika ada kerusakan patok, jangkar, tali dan tali ris ris utama yang disebabkan gelombang besar, harus segera diperbaiki.

Pemeliharaan dilakukan baik pada gelombang besar dan laut arus tenang. Kotoran atau debu yang menempel pada tanaman air harus selalu dibersihkan. Kotoran dapat mengganggu proses metabolisme sehingga pertumbuhan tanaman menurun. Beberapa tumbuhan merusak paku payung, seperti ulva, Hypnea, chaetomorpha, dan enteromorpha dikumpulkan dan dibuang ke darat.

Beberapa jenis hewan herbivora pemangsa tanaman rumput laut adalah bulu babi, ikan dan penyu. Serangan bulu babi dapat diatasi dengan cara diusir dari lokasi budidaya. Lumut juga perlu biasanya dipasang jaring di sekeliling lokasi budidaya. Lumut juga perlu disingkirkan karena menghalangi sinar matahari yang masuk sehingga pertumbuhan akan terhambat.

Pemupukan tidak ada, untuk eucheuma sp yang ditanam di perairan pantai. Kecuali untuk budidaya rumput laut gracilaria spesies tumbuh di kolam harus diberi pupuk. Untuk gracilaria yang ditanam di tambak pemupukan teratur diberikan 15 hari, yaitu sesaat setelah penggantian air.

Pupuk yang digunakan adalah campuran urea, TSP dan ZA dengan perbandingan 1: 1: 1 sebanyak 20 kg / ha atau rasio 2: 1: 1 sebanyak 100 kg / ha. Penggantian air tambak sebanyak 60% dilakukan setiap 15 hari wakbu bulan baru dan bulan purnama.

Panen

Tanaman dapat dipanen setelah mencapai usia 6 – 8 minggu setelah tanam dengan berat 800 gram tanaman per ikatan. Cara panen rumput laut di air pasang adalah mengangkatnya ke tanah daratan dan kemudian memotong tali yang mengikat. Sementara surut dapat dilakukan langsung di area tanam.

Dengan menggunakan rakit satu persatu tanaman dipanen. Dan dibawa ke darat dengan rakit. Panen dilakukan ketika umur tanaman 1 bulan, perbandingan antara berat basah dan kering berkisar dari 8:1, sedangkan bila tanaman 2 bulan perbandingan berat basah ke kering adalah 6:1.

Peralatan dan personil yang harus disiapkan untuk panen adalah :

Tenaga kerja

  • Keranjang rotan berukuran sedang tempat hasil rumput laut.
  • Perahu (untuk mengangkut hasil panen)
  • Pisau untuk menolong tali pengikat (tali rafia)
  • Timbangan
  • Lokasi tempat penjemuran
  • Karung tempat rumput laut kering dan tali pengikatnya
  • Ruang tempat penyimpanan rumput laut kering.

Persiapan alat-alat tersebut untuk menjaga kelancaran pemanenan dan menjaga kualitas mutu hasil produksi. Dari satu unit usaha (100 m2 ) dengan metode lepas dasar dan metoda rakit diperoleh hasil panen kering masing-masing 100 kg dan 120 – 150 kg setiap panen.

Di kutip dari sumber : www.pekalongankab.go.id

Demikian Pembahasan Tentang 6 Tahap Mudah Budidaya Rumput Laut Untuk Menambah Nilai Ekonomi Semoga Dapat Bermanfaat Aminnn … 😀