5 Tahap Penting Budidaya Wijen Si Kecil Bernilai Ekonomi Tinggi

Posted on

RuangTani.Com – Wijen telah lama di budidaya oleh manusia untuk dimanfaatkan bijinya, bahkan termasuk tanaman minyak tertua yang dikenal di peradaban. Kegunaan utama adalah sebagai sumber minyak wijen. Biji putihnya tersebut digunakan sebagai penghias pada makanan ringan, seperti onde-onde, di taburkan pada permukaan penganan tersebut. Biji wijen bisa dibuat pasta.  Untuk itu wijen masih sangat mempunyai potensi untuk di jadikan ladang usaha kecil dan menengah.

Budidaya Wijen

5 Tahap Penting Budidaya Wijen Si Kecil Bernilai Ekonomi Tinggi

Tahap-Tahap Budidaya Wijen

Waktu Tanam

Untuk lahan kering di musim hujan yang wilayah pendek curah hujan dengan tipe iklim D4, E3, dan E4, wijen ditanam pada awal musim hujan sehingga tanaman tidak mengalami suhu hambatan tanah, ketersediaan air, dan jazad pengganggu. Di bidang sawah setelah yang pertama (MK-1) atau beras kedua (MK-2) di musim kemarau, wijen ditanam segera setelah tanaman sebelumnya dipanen.

Jarak Tanam

Umumnya, wijen percabangan (Sbr 1, Sbr 3, dan Sbr 4) disarankan menggunakan jarak tanam 60 x 25 cm atau 50 x 25 cm, sedangkan varietas bercabang (Sbr 2) yang direkomendasikan oleh Jark menanam 40 x 25 cm dua tanaman per lubang.

Baca Juga :

Pemupukan

Digunakan kering dilahan pemupukan N (100 kg Urea / ha), P2O5 (50 kg SP-36 / ha) dan K2O (50 kg KCl / ha). Pemupukan di lahan sawah setelah padi dengan 150 kg urea / ha. Urea 1/3 dosis, P dan K diberikan pada saat tanam, sedangkan 2/3 dosis urea diberikan saat tanaman berumur 30-35 hari setelah tanam. Cara pemupukan dan penempatan pupuk sebaiknya dengan jarak ditugal sekitar 5 cm dari lubang tanam dan kedalaman 2,5-5,0 cm, dan ditutup dengan tanah.

Pola Tanam

Pengembangan wijen di lahan basah banyak dilakukan secara monokultur, tetapi dengan pertimbangan risiko kegagalan dan peningkatan pendapatan, bisa ditumpangsarikan, tumpangsisip, atau campuran (dari dua atau lebih tanaman ditanam secara bersamaan).

Pada wijen lahan kering bisa ditumpangsarikan dengan jagung, kapas, jarak, kacang hijau, kacang, atau padi gogo. Wijen tumpangsari dengan jagung, dan setelah jagung dipanen kacang hijau dimasukkan memberikan penerimaan yang lebih besar dari wijen monokultur atau monokultur jagung, kacang hijau atau monokultur.

Mengendalikan gulma dan mengolah tanah

Periode kritis untuk gulma pada tanam awal sampai sebelum berbunga. Oleh karena itu, disarankan untuk memulai pertumbuhan pengendalian gulma awal sampai usia 45 hari. Setelah usia pertumbuhan yang lebih cepat dan lahan tanaman dekat di bawahnya, sehigga mampu menekan gulma, karena sebagian gulma tidak teduh toleran.

Selain siang hari, perlu dilakukan pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran, yaitu saat tanaman berumur sekitar 30-45 HST. Pembumbunan berarti akar tanaman dapat menembus lapisan tanah yang lebih dalam. Penyiangan dilakukan 2-3 kali.

Panen dan Pasca Panen

Waktu panen yang tepat adalah ketika sebagian besar polong memiliki kehijauan-kuning, dan daun sudah mulai turun. Panen dilakukan dengan memotong batang wijen 15-20 cm di bawah posisi polong. Dibendel batang wijen dengan diameter 15-20 cm, dan kemudian dikeringkan dengan berdiri, bersandar bambu para-para.

Jika cuaca panas, kacang kering, kacang polong 7 hari berakhir sudah terbuka dan telah mampu dibijikan dengan membalik bendelan saat ia ditumbuk kayu sehingga benih dari polong. Setelah benih dihapus kemudian dikeringkan bendelan kembali, dan hari berikutnya dibijikan kembali untuk menghapus benih yang tersisa. Kemudian diayak dan dikeringkan biji kering sekitar 2 hari.

Sumber : cybex.pertanian.go.id

Demikian Pembahasan Tentang 5 Tahap Penting Budidaya Wijen Si Kecil Bernilai Ekonomi Tinggi Semoga Dapat Bermanfaat Bagi Pembaca RuangTani.Com Aminnn … 🙂