10 Tahap Mudah Budidaya Cabe Rawit Lengkap Dan Ekonomis

Posted on

RuangTani.Com – Cabe rawit atau cabai kathur, adalah buah dan tanaman dari genus Capsicum. Selain Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu di negara-negara di Asia Tenggara.  Buah Cabai rawit berubah warna dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun lebih kecil daripada varietas lain cabai, itu dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50000-100000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa dijual di pasar bersama dengan varietas cabai lain.

Budidaya Cabe Rawit

 

10 Tahap Mudah Budidaya Cabe Rawit Lengkap Dan Ekonomis

Cabai rawit cocok dibudidayakan di dataran rendah atau di dataran tinggi dengan ketinggian 0-1.000 m dpl. Dapat tumbuh di sawah dan juga dapat di lahan kering atau ladang. Tanah yang baik untuk penanaman cabai terstruktur remah, atau longgar, subur, kaya bahan organik, pH tanah antara 6-7.

Kadar air tanah juga perlu diperhatikan. Hal ini terkait dengan tempat tumbuh tanaman cabai (sawah). Tanaman cabai dibudidayakan di bidang harus ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di bidang harus ditanam pada musim hujan. Dengan pemilihan musim tanam yang tepat, air di sawah tidak berlebihan dan air tanah di lahan kering tidak membutuhkan untuk memastikan pertumbuhan tanaman cabai.

Tahap – Tahap Dalam Budidaya Cabai Rawit

Pemilihan Varietas 

Varietas yang dianjuran adalah Lembang-1, Tanjung 2, Hot Chili, Hot Beauty dan lain-lain. Yang beredar dipasaran kebanyakan varietas Putih F1 dan Keriting (panah merah).  Daya tumbuhnya lebih dari 95 %, vigor murni, bersih dan sehat. Kebutuhan benih 250-350 gram per hektar.

Model Budidaya Bedengan

Pembibitan

Pembibitan termasuk salah satu kegiatan awal kegiatan budidaya cabai rawit. Bibit kontainer yang perlu disediakan adalah kotak kayu, atau polybag berukuran 10 x 12 cm ² (diameter 5 cm) atau aqua gelas berlubang kiri bawah dan kanan 3-4 lubang. Media masukan untuk bibit dalam bentuk campuran tanah dan pupuk kandang / kompos dengan perbandingan 1: 3 ke dalam pembibitan wadah. Jika lahan pasir lempung dapat ditambahkan.

Sebelum disemai, bibit / benih cabai direndam dulu dalam air hangat (50 ° C) selama 1 jam. Kemudian biji / benih yang telah direndam direndam dalam media yang semai kotak kayu dengan jarak 1-3 cm.

Baca Juga :

Bila menggunakan polybag atau aqua gelas tertanam benih 1-2 biji per polybag atau per aqua gelas. Tutup benih dengan lapisan tipis tanah atau kompos. Benih yang telah dibenam disiram sampai basah dan kemudian ditutup dengan daun pisang selama 3-5 hari. Wadah berbayang di pembibitan rumah. Penyiraman dilakukan setiap hari sampai bibit 4-5 minggu cabai tua. Bibit siap tanam.

Pengolahan Tanah

Halaman daerah dibersikan dari gulma. Kemudian tanah digali sedalam 20-30 cm. Setelah itu, tempat tidur yang dibuat dengan ketinggian sekitar 10-20 cm di musim kemarau dan hujan musim 40-50 cm. Lebar tempat tidur sekitar 1-1,2 m, dan panjang tergantung pada ukuran / bentuk tanah.

Jarak antara tempat tidur sekitar 40 cm atau disesuaikan dengan keadaan dasar. Jika pH tanah kurang dari 5,0, maka perlu ditambahan pertanian kapur / dolomit sebanyak 150 gram / 1m² dan diterapkan 3-4 minggu sebelum tanam. Setelah lapisan atas tanah diratakan persemaian, lubang tanam dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm atau 60 cm x 50 cm atau 50 cm x 70 cm sehingga masing-masing berisi dua baris tempat tidur.

Setiap lubang tanam termasuk salah satu kg kotoran ayam atau kotoran sapi atau kompos ke dalam lubang tanam. Semprotkan larutan pupuk cair Bioboost / EM4 (10 ml / 1 liter air) ke dalam lubang tanam, maka permukaan lubang tanam ditutup dengan tanah. Biarkan selama 3 hari dan tempat tidur siap tanam.

Persiapan Penanaman

Bibit/anakan cabai sudah bisa ditanam ketika anakan berumur 4-5 minggu setelah disemai. Bibit yang disemai di kotak kayu atau di polybag ukuran kecil atau digelas aqua dipindahkan ke bedengan secara hati-hati agar akar tanaman tidak putus. Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm atau 60 cm x 50 cm atau 50 cm x 70 cm.

Model budidaya pot atau polybag 

Polybag digunakan sebagai model budidaya cabai rawit di halaman yang sempit. Pot atau polybag berukuran 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 40 cm dapat digunakan untuk tumbuh paprika. Pot atau polybag harus menekan lubang 4-5 di bagian bawah sisi kiri dan kanan wadah untuk membuang air kelebihan yang tidak banjir. Polybag harus dibalik sebelum media tanam diisi sehingga perusahaan polybag berdiri dan tidak mudah roboh.

Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos, rasio 1: 1, 1: 2 atau 1: 3, tergantung pada tingkat kesuburan dan tekstur tanah. Masukan media ke pot atau polybag sampai penuh.

Tinggalkan jarak sekitar 1 cm dari bibir wadah. Semprotkan larutan pupuk cair Bioboost / EM4 (10 ml / 1 liter air) pada permukaan tanah dalam pot atau polybag, maka pot atau polybag ditutupi dengan karung goni selama 3 hari. Pot atau polybag siap tanam.

Penanaman

Sebelum tanam, pot atau polybag yang sudah diisi dengan media tanam disiram terlebih dahulu untuk memudahkan penanaman. Penanaman dalam pot atau polybag di dilakukan dengan memindahkan cabai anakan pada kotak kayu pada pembibitan polybag atau pembibitan atau gelas aqua dalam pot atau polybag berukuran 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 40 cm dengan jumlah anakan, satu bibit per pot atau polybag per.

Benih cabai juga dapat ditanam langsung di dalam pot atau polybag di tanpa melalui proses pembibitan. Namun, ini memerlukan cara tanam sebanyak bibit dan pemeliharaan harus diintensifkan. Puppies harus dikurangi sampai sisa bibit pertama di polybag atau biji bordir tidak tumbuh menjadi polibag.

Perawatan

Tanaman cabai harus disiram setiap hari sampai tanaman tumbuh normal, dan kemudian diulang sesuai kebutuhan. Jahitan dilakukan pada tanaman yang sakit atau mati paling lambat 1 -2 minggu setelah tanam. Pengendalian gulma dilakukan bersamaan dengan mengolah gempa susulan tanah dan pupuk.

Memberikan penanda untuk mempertahankan pendirian pabrik. Tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama harus dipangkas. Mengolah pendangiran tanah atau fertilisasi dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau berikutnya.

Pupuk pelengkap pertama setelah tanaman berumur 15 HST dengan cara solusi semprot dari Bioboost pupuk cair / EM4 (10 ml / 1 liter air) pada batang tanaman. Pupuk pelengkap kedua dan ketiga setelah tanaman berumur 30 HST dan 45 HST. Cara mengolah dan pupuk sebagai pemupukan tambahan pertama.

Landeto pupuk cair organik (untuk buah) atau Ghost juga dapat diberikan kepada tanaman sebagai pupuk tambahan dengan dosis 2 botol cap / 10 liter air. Larutan pupuk disemprotkan pada tanaman dengan waktu setelah tanaman berumur 18 hst, hst 33, dan 48 hari setelah tanam, 60 HST dan 75 HST.

Jika ada hama dan penyakit tanaman, segera ditangani secara mekanis (dicabut dan dibakar) atau disemprot dengan fungisida dan insektisida tanaman.

Pengendalian Hama Dan Penyakit

Pengendalian Hama

Ulat tanah (Agrotis sp)

Hama ini menyerang batang muda cabai. Pencegahan dapat dilakukan dengan cacing tanah secara manual mengambil dan menghancurkannya. Kendali dilakukkan dengan menerapkan insektisida Diptrex 95 SP atau Drusban 0,2% pada dosis yang dianjurkan.

Ulat buah (Dacus sp)

Hama ini menyerang buah. Buah yang terserang akan membusuk dan rontok. Agar tidak menular, buah yang telah diserang harus dibuang dan dimusnahkan. Pengendalian hama ini dengan insektisida Agrymicin, Buldok 25 EC, Cucacron 500 EC dengan dosis yang dianjurkan.

Ulat grayak (Spodoptera sp)

Hama ini menyerang daun dan buah cabai. Gejala yang ditimbulkan adalah rusaknya daun dan buah cabai akibat gigitan ulat ini. Pencegahannya bias diaplikasikan insektisida seperti Atabron 50 EC, Curracon 500 EC, Dharmafur 3 G, Fenval 200 EC dengan dosis sesuai anjuran.

Trips

Hama ini menyerang daun dan buah cabai. Gejala kerusakan pada daun dan buah cabai gigitan ulat ini. Bias pencegahan diterapkan insektisida sebagai Atabron 50 EC, Curracon 500 EC, Dharmafur 3 G, Fenval 200 EC dengan dosis yang dianjurkan.

Belalang

Bagian yang diserang adalah tunas muda dan batang. Pencegahan bias dilakukan dengan mengambil dan memusnahkan secara manual atau dengnan memasang perangkap disekitar tanaman. Pengendalian dilakukan dengan insektisida Orthene, Diazinon, Malathion dengan dosis sesuai anjuran.

Lalat buah (Bactrocera dorsalis)

Adalah musuh utama dalam budidaya cabai. Lalat buah menyuntikkan telur mereka dalam serangan dengan cabai, telur ini berkembang dan menjadi larva dalam buah yang menggerogoti dari dalam yang menyebabkan busuk buah dan rontok. Pencegahan dilakukan dengan menetapkan perangkap dengan bahan aktif metil eugenol. Pengendalian dilakukan dengan menerapkan insektisida sebagai Buldok 25 EC, Curracon 500 EC, Decis 2,5 EC dengan dosis yang dianjurkan.

Pengendalian Penyakit

  • Bercak daun

Disebabkan oleh jamur Cercospora sp yang menyerang daun, batang dan tangkai buah. Gejala serangan muncul bercak kecil bulat dengan diameter 0,5 cm. Penyakit ini biasanya menyebabkan daun, buah dan batang layu dan rontok. Pengendalian aplikasi fungisida Anvil 50 SC, Alto 100 SL, Baycor 25 WP, WP 75 Daconil, Antracol 70 WP dengan dosis yang dianjurkan.

  • Layu Fusarium

Disebabkan oleh jamur Fusarium oxisporum, menyerang daun cabai. Gejala yang disebabkan layu daun yang lebih rendah dan menyebar ke seluruh daun. Banyak tanaman cabai diserang tumbuh di dataran tinggi yang terlalu lembab. Pengendalian dilakukan dengan menerapkan fungisida Saco P atau Benlate dengan dosis yang dianjurkan.

  • Patek atau antraknosa

Disebabkan oleh jamur. Gejala timbul jamur merah muda atau bulat hitam buah muda dan buah yang matang yang sudah hampir busuk buah yang menyebabkan, kering dan akhirnya rontok. Pencegahan dilakukan dengan mengatur jarak tanam dan memelihara lahan sanitasi. Buah diserang harus dihancurkan agar tidak menular. Pengendalian dilakukan dengan aplikasi Ridomil MZ, Previcur-N, Provit, Daconil, Antracol dengan dosis yang dianjurkan.

  • Hawar

Disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans, adalah munculnya gejala yang disebabkan bintik-bintik hitam seperti cacar pada daun dan buah. Penyakit ini menyebabkan buah dan daun kering yang terkena menjadi era dank yang akhirnya membusuk. Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan meningkatkan tanggul dan menjaga sanitasi. Pengendalian dilakukan dengan penerapan fungisida seperti Previcur-N, Cucapit, Dipolatan AF, Dithane M-45 dengan dosis yang dianjurkan.

  • Layu bakteri

Disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum dengan gejala seperti daun layu panas, batang dan cabang dari waktu ke waktu dan tanaman akan mati.Pencegahan tertular penyakit ini adalah kerusakan tanaman yang terserang, rotasi tanaman dilahan. Pengendalian dilakukan dengan aplikasi bakterisida seperti Agrept 20 WP atau Agrimycin 15 / 1.5 WP dengan dosis yang dianjurkan.

  • Damping-off

Serangan sejak pembibitan, gejala adalah pangkal batang berubah warna menjadi coklat kemudian membusuk.Disebabkan oleh jamur Rhizoctonia sp dan sp Phytium. Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan merendam akar benih yang akan ditanam menggunakan solusi propamokarbihidroklorida. Pengendalian dilakukan dengan fungisida Vitigran Biru, Previcur N, Vendozeb 80 WP, WP 70 Antracol dengan dosis yang dianjurkan.

  • Penyakit virus

Virus yang menyerang biasanya membawa sejumlah hama, seperti kutu daun, thrips dan tungau. Gejala serangan virus, antara lain, bintik-bintik melingkar yang semakin banyak didaun atau buah, daun keriting, tanaman tampak kurus dan sengsara, akhirnya mati. Penyakit ini belum diatasi Bias.

Panen

Cabai rawit dapat dipanen pertama kali pada usia tanaman 70-75 hari setelah tanam. Panen dapat dilakukan selang 3-7 hari. Buah yang matang dapat dipanen cabai hijau atau setelah matang penuh tergantung pada kebutuhan konsumen di pasar.

Di kutip dari sumber : maluku.litbang.pertanian.go.id

Demikian Pembahasan Tentang 10 Tahap Mudah Budidaya Cabe Rawit Lengkap Dan Ekonomis Semoga Dapat Bermanfaat Aminnn … ^_^